
Danantara Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer (CIO), memiliki ambisi besar untuk membawa perusahaan Waste to Energy (WTE) miliknya ke lantai Bursa Efek Indonesia. Target strategis ini didasari keyakinan bahwa entitas WTE tersebut berpotensi menjadi yang terbesar di dunia, menawarkan prospek cerah bagi industri energi terbarukan di tanah air.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Danantara sebelumnya telah mendirikan anak perusahaan baru bernama PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera). Denera dibentuk dengan mandat khusus untuk bertindak sebagai pemegang saham utama sekaligus pengelola berbagai proyek WTE, menandai langkah konkret dalam ekosistem pengelolaan sampah terpadu.
“Saya rasa ini akan menjadi salah satu perusahaan Waste to Energy terbesar yang akan ada di dunia,” ungkap Pandu dalam gelaran Investor Relation Forum yang diselenggarakan Suar di Main Hall BEI, Jakarta, pada Senin (11/5). Ia menambahkan, “Saya rasa ini bisa jadi katalis yang baik kalau kita bisa masuk nanti di Bursa Efek Indonesia, nanti kita akan apply.” Pernyataan ini menegaskan keyakinan kuat terhadap potensi Denera untuk menjadi pemain global sekaligus pendorong positif bagi pasar modal Indonesia.
Target IPO Denera di pasar modal ditetapkan setelah perusahaan menunjukkan rekam jejak keuangan yang matang dan memiliki laporan keuangan yang solid. Pandu mengisyaratkan bahwa momentum yang tepat untuk melantai di bursa adalah setelah tahun 2028, seiring dengan proyeksi selesainya pembangunan proyek dan dimulainya arus kas operasional. “Keinginan kita nantinya setelah ada cashflow, kita kan mengharapkan 2028 selesai ada cashflow, kita mau bawa menjadi perusahaan TBK di sini. Keinginan kami salah satunya itu,” jelas Pandu, menyoroti pentingnya fundamental keuangan sebelum melangkah menjadi perusahaan terbuka.
Pembentukan Denera sendiri diinisiasi melalui PT Danantara Investment Management (DIM) pada awal April 2026. Menurut Fadli Rahman, Direktur Investasi DIM, setiap unit Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) membutuhkan estimasi investasi antara Rp 2,5 triliun hingga Rp 2,8 triliun. Struktur kepemilikan dirancang dengan alokasi 70 persen untuk mitra Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP), sementara sisa kepemilikan dipegang oleh Denera.
Fadli lebih lanjut memaparkan bahwa fungsi utama Denera adalah tidak hanya sebagai pemegang porsi saham dalam proyek-proyek PSEL, tetapi juga mengambil peran vital dalam aspek operasional dan pengelolaan menyeluruh seluruh proyek di bawah payung DIM. Proyek-proyek PSEL ini bukan sekadar fokus pada pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa), melainkan di-envision sebagai katalisator untuk pengelolaan sampah terintegrasi. Ini mencakup spektrum luas, mulai dari penanganan sampah di tempat pembuangan akhir hingga proses daur ulang, menjadikannya solusi komprehensif bagi permasalahan sampah.




