BANYU POS – JAKARTA. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyatakan keyakinan penuh bahwa hasil rebalancing indeks MSCI Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei akan memberikan hasil yang positif dan sesuai ekspektasi.
Optimisme tinggi tersebut disampaikan langsung oleh Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir. Ia menekankan keyakinannya terhadap keputusan MSCI terkait rebalancing indeks bulan ini, mengingat otoritas pasar saham Indonesia telah melakukan upaya maksimal dalam mentransformasi Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Kita doakan yang terbaik. Dari sisi Bursa sudah menjalankan proses yang baik, seharusnya no surprise,” ujar Pandu Sjahrir di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (11/5). Pernyataannya ini mengindikasikan kepercayaan penuh terhadap proses dan reformasi yang telah dijalankan.
Lebih lanjut, Pandu menyampaikan harapannya agar keputusan MSCI dapat selaras dengan jejak positif yang telah ditunjukkan oleh FTSE Russell.
Hal ini bukan tanpa dasar. Sebelumnya, FTSE Russell pada 7 April 2026 secara resmi telah mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Secondary Emerging Market, sekaligus menegaskan bahwa Indonesia tidak masuk dalam daftar pengawasan (watch list) penurunan peringkat. Keputusan ini, menurut lembaga penyedia indeks tersebut, dinilai semakin memperkuat kredibilitas reformasi pasar modal Indonesia di tengah gejolak sentimen global, termasuk perhatian terhadap indeks MSCI. “FTSE juga sudah memberikan jawaban bahwa FTSE mengikuti (isu) MSCI juga. Responsnya juga positif menurut saya,” imbuh Pandu, menyoroti sinyal positif dari lembaga rating global lainnya.
Namun, pandangan yang lebih cautious datang dari Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, atau akrab disapa Kiki. Dalam kesempatan yang sama, Kiki menyatakan bahwa pihaknya akan tetap menunggu hasil resmi dari rebalancing MSCI Indonesia yang akan diumumkan besok.
Kiki tidak menampik kemungkinan adanya penyesuaian ulang yang berpotensi mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari indeks. Hal ini disebabkan MSCI saat ini sedang melakukan pembekuan sementara (freeze) penilaian terhadap saham-saham di Bursa Efek Indonesia. Kendati demikian, ia juga menegaskan bahwa otoritas pasar saham Indonesia telah berupaya melakukan berbagai perbaikan sesuai dengan permintaan dan standar yang ditetapkan oleh MSCI.
“Mereka sudah bilang freeze, jadi tidak ada (saham) yang baru yang masuk, tapi yang lama mungkin akan keluar,” jelas Kiki kepada awak media di Gedung BEI pada Senin lalu. Pernyataan ini menggarisbawahi dampak langsung dari kebijakan pembekuan tersebut terhadap komposisi indeks.
Kondisi ini, menurut Kiki, dipastikan akan berdampak langsung pada kinerja pasar modal Indonesia, termasuk hasil dari perbaikan reformasi integritas yang telah diupayakan. Oleh karena itu, Kiki menegaskan bahwa Single Regulatory Organization (SRO) akan menganalisis dan mengantisipasi semua potensi risiko tersebut dengan strategi terbaik.
Meskipun ada potensi penyesuaian jangka pendek, OJK memandang risiko tersebut sebagai short term pain yang pada akhirnya dapat menciptakan long term gain. “Jadi kalau mau melakukan perbaikan, itu supaya kita melakukan perbaikan fundamental,” pungkas Kiki, menyoroti pentingnya fondasi pasar modal yang kuat dan berkelanjutan.




