MSCI depak banyak saham Indonesia, OJK ungkap strategi jaga pasar

Hikma Lia

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self Regulatory Organization (SRO) yang terdiri dari BEI, KPEI, dan KSEI menyikapi pengumuman hasil tinjauan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang melakukan penyesuaian terhadap saham saham di pasar modal Indonesia.

Advertisements

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyatakan akan terus memantau dan mencermati perkembangan pasar guna memastikan stabilitas pasar modal tetap terjaga.

Hasan menegaskan berbagai kebijakan stabilisasi yang sebelumnya telah diterapkan masih tetap diberlakukan. Salah satunya adalah izin bagi emiten untuk melakukan buyback saham tanpa melalui persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

“Dalam momentum PER yang sudah cukup rendah tentu para emiten berkesempatan untuk melakukan kegiatan buyback tanpa melalui mekanisme persetujuan RUPS ini,” dalam konferensi pers di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (13/5).

Advertisements

Selain itu, OJK juga memperpanjang kebijakan penundaan implementasi pembiayaan transaksi short selling hingga September 2026. Dengan demikian, untuk sementara waktu pelaku pasar belum diperbolehkan mengambil posisi short selling sebagai bagian dari upaya menjaga kewajaran respons pasar terhadap tekanan yang terjadi saat ini.

“Kemudian penyesuaian trading halt untuk mengantisipasi adanya penurunan tajam di pasar juga masih berlaku jadi nanti akan ada secara berjenjang upaya cooling down seandainya terjadi penurunan yang signifikan,” ucap Hasan.

Hasan menyampaikan, seluruh kebijakan tersebut akan terus dievaluasi secara berkala. OJK juga memastikan siap menerbitkan respons kebijakan tambahan apabila diperlukan sesuai perkembangan kondisi pasar.

Di sisi lain, berdasarkan pemantauan langsung terhadap intermediaries, broker, maupun pengelola dana, Hasan menilai belum terdapat kepanikan berarti di pasar yang memerlukan respons reaktif tambahan.

“Jadi kami masih mengamati dan memonitor perkembangan pasar untuk dalam hal dibutuhkan tentu kami akan menerbitkan berbagai potensi kebijakan tambahan jika diperlukan di sisi lain,” tuturnya

Hasan menekankan penguatan pasar modal merupakan proses jangka menengah hingga panjang yang memerlukan konsistensi, langkah berani, serta komitmen berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan.

“Kami juga meyakini bahwa seluruh penguatan aspek transparansi, integritas, tata kelola dan akhirnya menghadirkan tingkat kredibilitas dan investability yang dinilai baik ini tentu juga pada akhirnya harus menghasilkan buah berupa adanya pasar yang lebih liquid,” sebutnya.

Terakhir, Hasan memastikan komitmen pihaknya untuk terus menjaga momentum percepatan reformasi integritas pasar modal. Upaya tersebut diarahkan untuk menciptakan pasar modal Indonesia yang semakin dipercaya, tangguh, modern, serta menarik bagi investor karena didukung kedalaman pasar dan tingkat kredibilitas yang semakin baik.

“Dan juga tentu dengan attractive karena kedalaman yang semakin baik dan kemudian tingkat kredibilitas yang dinilai tidak lagi menyisakan catatan atau katakanlah pertimbangan tertentu yang negatif,” pungkas Hasan.

Sebelumnya, lembaga penyusun indeks pasar saham global Morgan Stanley Capital International (MSCI) baru saja merilis daftar saham-saham Indonesia yang ditendang dari tinjauan indeks Mei 2026 yang akan diimplementasikan pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026 dan efektif berlaku mulai 1 Juni 2026.

Hasilnya, ada 6 saham yang dikeluarkan dari indeks utama atau MSCI Global Standard dan 13 saham dari indeks berkapitalisasi kecil atau MSCI Global Small Cap.

Advertisements

Also Read

Tags