Yield obligasi korporasi berpotensi naik, emiten mulai hitung biaya dana

Hikma Lia

BANYU POS – JAKARTA. Pasar obligasi korporasi kini dihadapkan pada bayang-bayang tren kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) yang signifikan. Kondisi ini diperkirakan akan mendorong para emiten untuk lebih berhati-hati dan selektif dalam menerbitkan surat utang baru hingga akhir tahun 2026.

Advertisements

Kenaikan yield SBN ini bukanlah fenomena kecil. Tercatat, yield SBN tenor 10 tahun telah menembus level 6,89% per Kamis (21/5/2026). Angka ini menunjukkan lonjakan yang cukup besar dibandingkan posisi awal tahun 2026 yang masih berkisar di angka 6,0%.

Sementara itu, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) melaporkan bahwa yield obligasi korporasi tenor tiga tahun kategori AAA berada di sekitar 5,8% pada kuartal I-2026. Angka ini relatif stabil dan sedikit lebih tinggi dari kuartal IV-2025 yang berkisar 5,7%-5,8%, namun mengalami penurunan substansial dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih menyentuh 7%.

Menurut Fikri C. Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas, pergerakan yield obligasi korporasi sebenarnya dapat mengikuti kenaikan yield SBN dengan cepat. Namun, terdapat faktor-faktor seperti likuiditas pasar dan frekuensi transaksi yang menyebabkan perubahan ini sering kali terlihat tertunda atau lagging.

Advertisements

“Dari sisi kupon, penerbitan obligasi korporasi tidaklah seintensif penerbitan SBN. SBN memiliki lelang setiap minggu, sementara obligasi korporasi diterbitkan lebih jarang, sehingga perubahan kuponnya terkesan lebih lambat,” terang Fikri kepada Kontan, Kamis (21/5/2026).

Kenaikan BI Rate Berpotensi Menekan Penerbitan Obligasi Korporasi

Selain itu, aktivitas perdagangan obligasi korporasi di pasar sekunder juga tidak seaktif SBN. Kondisi ini mengakibatkan perubahan yield obligasi korporasi baru benar-benar terlihat ketika terjadi transaksi signifikan atau penerbitan baru di pasar.

“Memang obligasi korporasi tidak se-likuid SBN, sehingga volatilitasnya tidak terlalu kentara. Namun, begitu ada transaksi atau penerbitan baru, biasanya akan terjadi repricing maupun rerating secara langsung,” jelasnya.

Fikri menambahkan, tekanan yang saat ini melanda pasar SBN akibat masifnya arus keluar dana asing, belum terlalu berdampak langsung pada pasar obligasi korporasi. Hal ini disebabkan kepemilikan investor asing di obligasi korporasi yang relatif kecil, ditambah mayoritas investor cenderung memegang obligasi hingga jatuh tempo (hold to maturity).

Dampak gejolak global terhadap obligasi korporasi, lanjut Fikri, lebih banyak ditransmisikan melalui kenaikan yield SBN terlebih dahulu, yang kemudian diikuti oleh peningkatan risk premium atau yield spread obligasi korporasi.

Di tengah potensi kenaikan yield dan kupon obligasi ini, Fikri memproyeksikan minat perusahaan untuk menerbitkan obligasi masih akan tetap ada hingga akhir tahun, meskipun jumlahnya mungkin akan sedikit di bawah proyeksi awal. Emiten juga kemungkinan besar akan melakukan penyesuaian strategi guna menekan biaya dana yang berpotensi menjadi lebih mahal.

Kupon Obligasi Korporasi Mulai Naik, Biaya Dana Berpotensi Makin Mahal

Pefindo sendiri memproyeksikan penerbitan baru surat utang atau obligasi korporasi pada tahun 2026 akan berkisar antara Rp 154 triliun hingga Rp 196,86 triliun, dengan titik tengah sebesar Rp 175,77 triliun. Angka ini perlu dicermati, mengingat total penerbitan surat utang korporasi sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai Rp 284,3 triliun, tumbuh signifikan 89,87% dibandingkan realisasi tahun 2024.

“Saya pikir (penerbitan tahun ini) mungkin dari jumlah tersebut akan sedikit menurun. Penerbitan obligasi korporasi memang masih kompetitif, tetapi yang dihindari perusahaan adalah biaya dana yang lebih tinggi. Ada kemungkinan ukuran penerbitan akan dikurangi atau tenor dibuat lebih pendek,” imbuhnya.

Kendati demikian, dari sisi investor, prospek obligasi korporasi dinilai masih cukup menarik. Fikri melihat selera investor terhadap instrumen ini masih relatif baik, mengingat tawaran yield dan kupon yang lebih kompetitif dibandingkan SBN.

Bersamaan dengan tekanan yang masih terasa di pasar saham, obligasi korporasi berpotensi menjadi alternatif investasi yang menjanjikan untuk mencapai target imbal hasil.

“Untuk kondisi saat ini, investor kemungkinan akan lebih memilih obligasi korporasi dengan tenor pendek dan peringkat tinggi. Namun, beberapa korporasi yang memiliki fundamental bisnis kuat atau eksposur dolar AS juga bisa tetap menarik, bahkan jika peringkatnya lebih rendah,” pungkasnya.

Obligasi Korporasi Masih Solid, Namun Semester II-2026 Perlu Diwaspadai

Advertisements

Also Read

Tags