BI Rate Naik, SBN Floating Jadi Incaran Investor Saat Suku Bunga Tinggi

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah tren kenaikan suku bunga acuan dan tingginya volatilitas pasar keuangan global, instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dengan kupon mengambang (floating) kini menjadi pilihan investasi yang semakin menarik bagi para investor.

Advertisements

Berdasarkan data pasar terkini, posisi Credit Default Swap (CDS) Indonesia untuk tenor lima tahun berada di level 92,11. Sementara itu, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor lima tahun mengalami penurunan tipis dari 6,74% menjadi 6,73%. Kondisi serupa juga terjadi pada yield SUN tenor 10 tahun yang bergerak marginal dari 6,86% ke level 6,85%.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, memproyeksikan bahwa tren kupon obligasi akan cenderung meningkat hingga akhir tahun. Hal ini merupakan respons langsung terhadap kenaikan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps), yang diprediksi akan sangat terasa pada SBN dengan skema floating with floor.

Rebalancing MSCI Picu Outflow, Tekanan IHSG Juga Dipengaruhi Ketidakpastian Kebijakan

Advertisements

“Dalam kondisi pasar seperti sekarang, instrumen SBN ritel dengan seri floating, terutama untuk tenor jangka pendek hingga menengah, menjadi pilihan yang sangat relevan,” ujar David kepada Kontan, Senin (25/5).

Seri floating yang dimaksud mencakup instrumen seperti Savings Bond Ritel (SBR) dan Sukuk Tabungan (ST). Keunggulan utama instrumen ini terletak pada kuponnya yang bersifat mengambang, sehingga dapat mengikuti pergerakan suku bunga acuan dengan tetap memberikan perlindungan berupa batas minimal imbal hasil.

Di sisi lain, David menyoroti bahwa obligasi Fixed Rate (FR) masih tetap memikat bagi investor yang berorientasi pada investasi jangka panjang. Strategi ini sangat cocok bagi investor yang ingin mengincar potensi capital gain ketika tren suku bunga di masa depan mulai melandai.

Merujuk data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) per Jumat (22/5), yield FR0108 tenor 10 tahun tercatat turun dari 6,75% menjadi 6,69%. Sementara itu, yield FR0107 untuk tenor 20 tahun justru mengalami kenaikan tipis dari 6,81% menjadi 6,82%.

Ke depannya, David memperkirakan pergerakan yield SUN dalam rentang waktu enam hingga 12 bulan berpotensi melandai. Namun, proyeksi ini sangat bergantung pada keberhasilan pemerintah dalam menstabilkan nilai tukar rupiah serta kebijakan lanjutan mengenai pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

Untuk mengoptimalkan imbal hasil di tengah fluktuasi suku bunga, David menyarankan investor ritel untuk tetap cermat dalam menjaga manajemen arus kas serta melakukan lindung nilai. Strategi switching ke obligasi korporasi berperingkat tinggi dengan tenor jangka pendek juga menjadi opsi yang patut dipertimbangkan.

Lebih lanjut, investor obligasi diingatkan untuk selalu memperhatikan risiko-risiko utama saat suku bunga tinggi, seperti durasi obligasi, risiko kredit, serta yield spread. “Perlu diingat bahwa semakin panjang tenor obligasi, maka potensi penurunan harga akan semakin besar ketika suku bunga naik,” pungkas David.

Pasar Cermati Arah Suku Bunga The Fed, Begini Prospek Rupiah Selasa (26/5)

Ringkasan

Di tengah tren kenaikan suku bunga acuan dan volatilitas pasar global, instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dengan kupon mengambang (floating), seperti SBR dan Sukuk Tabungan, menjadi pilihan investasi yang menarik bagi investor. Sifat kupon yang mengikuti pergerakan suku bunga acuan dengan adanya batas minimal imbal hasil memberikan perlindungan optimal di kondisi pasar saat ini. Kepala Ekonom BCA, David Sumual, memproyeksikan tren kupon obligasi akan cenderung meningkat merespons kenaikan BI-Rate sebesar 50 basis poin.

Selain instrumen floating, obligasi Fixed Rate (FR) tetap diminati investor jangka panjang yang mengincar potensi capital gain saat suku bunga mulai melandai di masa depan. Meskipun yield SUN diperkirakan akan melandai dalam 6 hingga 12 bulan ke depan, investor disarankan untuk tetap cermat dalam manajemen arus kas dan memperhatikan risiko durasi serta kredit. Langkah diversifikasi ke obligasi korporasi berperingkat tinggi dengan tenor jangka pendek juga menjadi opsi strategis untuk mengoptimalkan imbal hasil di tengah ketidakpastian ekonomi.

Advertisements

Also Read

Tags