KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek kinerja PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) hingga akhir 2026 dinilai masih menjanjikan dari sisi pertumbuhan bisnis, meski tekanan terhadap profitabilitas jangka pendek sulit dihindari.
Seperti diketahui, emiten pengelola Mayapada Hospital ini tengah melanjutkan ekspansi agresif dengan pembangunan sejumlah fasilitas baru, mulai dari Tower 3 di Jakarta Selatan, Tower 4 di Tangerang, Tower 2 di Surabaya, hingga rencana rumah sakit internasional di KEK Batam.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan, ekspansi tersebut menjadi cerita pertumbuhan (growth story) bagi SRAJ dalam jangka panjang.
“Prospek 2026 konstruktif untuk jangka panjang, tapi tekanan laba jangka pendek hampir pasti terjadi. Ekspansi agresif membutuhkan waktu 18-36 bulan sebelum tingkat okupansi mencapai titik impas,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (15/7/2026).
Prospek Aspirasi Hidup (ACES) Dibayangi Tantangan Daya Beli, Ini Rekomendasi Sahamnya
Ia menjelaskan, penambahan kapasitas berpotensi mendorong pendapatan secara signifikan apabila tingkat utilisasi meningkat dengan cepat. Namun, hal tersebut tidak bisa terjadi secara instan, khususnya pada segmen layanan premium.
“Segmen premium membutuhkan reputasi, rekrutmen dokter spesialis, dan jaringan rujukan yang tidak bisa dibangun dalam waktu singkat,” jelasnya.
Senada, Junior Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama bilang, pertumbuhan pendapatan SRAJ masih cukup positif, didorong peningkatan volume pasien dan kontribusi rumah sakit baru.
Namun, ia mengingatkan bahwa ekspansi besar juga berpotensi menekan margin perseroan.
“Perbaikan pendapatan kemungkinan akan terlihat lebih cepat dibandingkan pemulihan laba bersih,” ungkapnya.
Dari sisi profitabilitas, kedua analis sepakat bahwa peningkatan beban penyusutan akan menjadi tantangan utama dalam jangka menengah.
Wafi memperkirakan, setiap tambahan belanja modal (capex) sebesar Rp1 triliun dapat meningkatkan beban penyusutan sekitar Rp 50 miliar hingga Rp 100 miliar per tahun.
“Jika beberapa proyek selesai bersamaan pada 2026-2027, tekanan penyusutan bisa terjadi secara simultan dan menekan margin lebih dalam sebelum pendapatan mampu mengimbanginya,” paparnya.
SRAJ Chart by TradingView
Sementara itu, Kevin bilang, tekanan tersebut akan paling terasa pada fase awal operasional. “Aset sudah mulai disusutkan, tetapi utilisasi dan kontribusi pendapatannya belum optimal,” jelasnya.
Dari sisi pendanaan, Wafi mengingatkan adanya potensi risiko jika ekspansi didanai melalui utang di tengah suku bunga yang masih relatif tinggi.
“Risiko utama adalah ketidaksesuaian likuiditas antara capex yang keluar saat ini dan pendapatan yang baru masuk dalam 18-36 bulan ke depan,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya mencermati rasio keuangan seperti debt-to-equity ratio dan interest coverage ratio.
Di sisi lain, Kevin mengatakan, likuiditas SRAJ masih cukup memadai, meski struktur pendanaan menjadi lebih agresif.
“Investor perlu mencermati beban bunga, risiko kurs, serta potensi kebutuhan refinancing apabila arus kas operasional belum cukup kuat,” katanya.
Dari sisi rekomendasi, Wafi menilai saham SRAJ lebih cocok untuk investor jangka panjang yang memiliki toleransi terhadap tekanan laba dalam 2-3 tahun ke depan.
Metropolitan Land (MTLA) Catat Marketing Sales Rp997 Miliar per Juni 2026
“SRAJ menarik sebagai long-term healthcare infrastructure play, namun bukan untuk investor yang membutuhkan visibilitas laba jangka pendek,” jelasnya.
Sementara itu, Kevin merekomendasikan trading buy untuk saham SRAJ dengan target harga Rp 12.250 per saham.




