Rupiah berpeluang tertekan, efek data AS dan pergerakan yield US Treasury

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Rupiah berhasil mengakhiri perdagangan pekan ini di zona hijau. Meski demikian, penguatan tersebut belum mampu menghapus pelemahan secara mingguan.

Advertisements

Namun, pergerakan mata uang Garuda pada awal pekan ini diperkirakan masih akan dibayangi sejumlah sentimen eksternal, mulai dari kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), prospek suku bunga Federal Reserve (The Fed), hingga perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,49% secara harian ke level Rp 18.022 per dolar AS pada Jumat (31/7/2026). Namun secara mingguan, rupiah masih melemah 0,32% dibandingkan posisi Rp 17.963 per dolar AS pada Jumat (24/7/2026).

Advertisements

Aset Investasi Bergerak Fluktuatif pada Juli: Bitcoin Rebound, Obligasi Tertekan

Sementara itu, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah menguat 0,11% secara harian ke level Rp 18.058 per dolar AS. Kendati demikian, secara sepekan rupiah melemah 0,47% dari posisi Rp 17.973 per dolar AS pada Jumat (24/7/2026).

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah pada akhir pekan sejalan dengan penguatan mayoritas mata uang regional terhadap dolar AS. Menurutnya, pelemahan dolar AS dipicu oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat yang jauh lebih lemah dari ekspektasi pasar.

“Pada hari Jumat rupiah dan mata uang regional umumnya menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi cukup tajam oleh data ekonomi yang sangat mengecewakan pada hari sebelumnya,” ujar Lukman kepada Kontan, Minggu (2/8/2026).

Meski demikian, Lukman mengingatkan kenaikan yield US Treasury masih menjadi ancaman bagi pergerakan rupiah ke depan. Tercatat yield US Treasury tenor 30 tahun naik ke 5,2724% pada 31 Juli 2026, menjadi level tertinggi dalam periode sepanjang tahun ini.

Ia menjelaskan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS mempersempit selisih (spread) imbal hasil dengan obligasi Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi daya tarik aset domestik bagi investor asing dan memberi tekanan pada rupiah.

Yield SUN Masih Berpotensi Naik, Lonjakan Yield US Treasury Masih Membayangi

“Kenaikan imbal hasil obligasi AS umumnya akan menekan rupiah, dengan semakin menyempitnya spread imbal hasil obligasi AS dengan Indonesia, yang selama ini menjadi salah satu faktor pelemahan rupiah terhadap dolar AS,” jelasnya.

Lukman menilai sentimen utama yang akan menggerakkan rupiah dalam waktu dekat masih berasal dari faktor eksternal, terutama prospek arah kebijakan suku bunga The Fed serta perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah.

Sementara dari dalam negeri, pasar masih mencermati kepastian sosok yang akan mengisi posisi Gubernur Bank Indonesia (BI).

Pada pekan ini, pasar juga akan dibanjiri sejumlah data ekonomi penting dari Indonesia, Amerika Serikat, dan China. Dari luar negeri, pelaku pasar akan mencermati data manufaktur dan sektor jasa AS serta China, diikuti data pasar tenaga kerja AS seperti JOLTS dan non-farm payrolls (NFP).

Adapun dari dalam negeri, data inflasi, neraca perdagangan, dan PMI manufaktur dijadwalkan rilis pada Senin (3/8), sedangkan data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2026 akan diumumkan pada Rabu (5/8).

Lukman memperkirakan pergerakan rupiah akan menguat atau melemah bergantung pada hasil berbagai rilis data tersebut. Untuk perdagangan Senin (3/8), ia memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.950 per dolar AS hingga Rp 18.100 per dolar AS.

Advertisements

Also Read

Tags