Telkom (TLKM) lanjutkan spin off bisnis fiber Rp 49,85 triliun ke Infranexia

Hikma Lia

BANYU POS  JAKARTA. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) melanjutkan pemisahan (spin-off) tahap kedua segmen usaha Wholesale Fiber Connectivity kepada anak usahanya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau Infranexia. Nilai aset dan kewajiban yang dialihkan dalam aksi korporasi ini mencapai Rp 49,85 triliun.

Advertisements

Aksi ini menjadi bagian dari strategi besar Telkom untuk mempercepat transformasi menuju model strategic holding, sekaligus memperkuat pilar bisnis B2B Infra melalui pengelolaan infrastruktur digital yang lebih terintegrasi.

Manajemen dalam keterbukaan informasi di BEI pada Jumat (7/8/2026), skema pemisahan akan berkaitan dengan penyediaan layanan serta solusi infrastruktur jaringan telekomunikasi wholesale Telkom akan dialihkan secara hukum kepada TIF. Sementara itu, Telkom tetap berdiri sebagai perusahaan yang menjalankan kegiatan usaha lainnya.

Advertisements

BBCA, BMRI dan ASII di Urutan Teratas, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing, Jumat (7/8)

Setelah transaksi rampung, nilai modal disetor TIF akan meningkat signifikan. Sebelum pemisahan, Telkom memiliki 377.112.580 saham di TIF dengan nilai sekitar Rp 37,71 triliun atau setara 99,9999997% kepemilikan. PT Multimedia Nusantara memiliki satu saham dengan nilai Rp 100.000.

Pasca pemisahan tahap kedua, jumlah saham Telkom di TIF akan meningkat menjadi 875.692.580 saham dengan nilai sekitar Rp 87,56 triliun, sementara kepemilikan PT Multimedia Nusantara tetap satu saham.

Bisnis yang dialihkan dalam transaksi ini mencakup seluruh elemen pendukung segmen Wholesale Fiber Connectivity, mulai dari aktivitas usaha, aset, kewajiban, hubungan dengan mitra dan vendor, termasuk perjanjian sewa lahan serta fasilitas pendukung jaringan.

Selain itu, sejumlah pelanggan yang berkaitan dengan layanan infrastruktur fiber juga akan masuk dalam cakupan pemisahan, termasuk PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dan berbagai mitra penyedia layanan internet (Internet Service Provider/ISP).

Dengan pengalihan tersebut, Infranexia akan berperan sebagai entitas yang lebih fokus dalam mengelola aset fiber Telkom Group. Langkah ini diharapkan membuat pengelolaan infrastruktur menjadi lebih efisien sekaligus membuka peluang monetisasi jaringan kepada lebih banyak pelanggan eksternal.

Telkom menilai pemisahan bisnis fiber ini memiliki nilai strategis karena dapat mempercepat pertumbuhan bisnis konektivitas wholesale. Dengan pengelolaan yang lebih terfokus, Infranexia diharapkan mampu menjadi mesin pertumbuhan baru melalui optimalisasi aset infrastruktur digital.

Selain meningkatkan efisiensi operasional, strategi tersebut juga diarahkan untuk mendukung agenda digitalisasi nasional, termasuk memperluas penetrasi layanan fixed broadband dan memastikan ketersediaan konektivitas yang lebih andal di berbagai wilayah Indonesia.

Asing Net Buy Jumbo Rp 1,24 Triliun, Cek Saham yang Banyak Diborong di Akhir Pekan

Transformasi ini menjadi bagian dari upaya Telkom memisahkan pengelolaan bisnis infrastruktur dengan layanan lainnya, sehingga setiap lini bisnis dapat berkembang lebih optimal sesuai karakter dan kebutuhan pasarnya.

Dari sisi regulasi, transaksi ini dikategorikan sebagai transaksi material yang mengandung transaksi afiliasi. Namun, Telkom menyampaikan perusahaan tidak diwajibkan menggunakan penilai independen untuk transaksi material tersebut maupun memperoleh persetujuan RUPS atas transaksi afiliasi.

Karena TIF merupakan anak perusahaan terkendali dengan kepemilikan Telkom lebih dari 99%.

Meski demikian, Telkom tetap akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk memperoleh persetujuan atas rencana pemisahan. 

Sementara itu, kreditur Telkom yang memiliki keberatan terhadap rencana pemisahan dapat menyampaikan keberatan secara tertulis paling lambat 21 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB. Apabila hingga batas waktu tersebut tidak terdapat keberatan, maka kreditur dianggap menyetujui rencana pemisahan.

Dengan aksi korporasi senilai hampir Rp 50 triliun ini, Telkom mempertegas arah transformasinya: menjadikan infrastruktur digital sebagai bisnis yang lebih mandiri, terukur, dan memiliki peluang pertumbuhan jangka panjang melalui Infranexia.

Saham TLKM naik 2,26% di Rp 2.710 per saham pada Jumat (7/8/2026). Sementara itu dalam lima hari saham TLKM naik 4,23%. 

Dolar AS Melemah Usai Data Tenaga Kerja Picu Spekulasi The Fed Tahan Suku Bunga

Advertisements

Also Read

Tags