KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja pasar saham Indonesia kembali diterpa sentimen buruk imbas pengumuman hasil semi-annual review FTSE Global Equity Index Series.
Berdasarkan pengumuman FTSE Russell pada Jumat (21/8/2026) setelah penutupan pasar, tidak ada saham Indonesia yang masuk maupun keluar dari kelompok Large Cap.
Sementara itu, pada kelompok Mid Cap, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) tercatat keluar dari indeks.
Perubahan juga terjadi pada kelompok Small Cap. Tidak ada saham yang masuk ke dalam kelompok ini. Namun, sebanyak 10 saham tercatat keluar.
Yaitu, PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) PT Bank Jabar Banten Tbk (BJBR) PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) PT Panin Financial Tbk (PNLF) PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA).
Meski keluar dari kelompok Small Cap, sejumlah saham tersebut masuk ke dalam klasifikasi Micro Cap. Saham yang masuk ke kelompok ini adalah BBYB, BJBR, BTPS, BSDE, LPKR, LPPF, MNCN, PNLF, SMRA, dan SCMA.
FTSE Review Saham RI, Tidak Ada Masuk Large Cap dan Coret dari Indeks Micro
Di kategori Micro Cap, FTSE mengeluarkan 27 saham dari indeks. Di antaranya adalah ADHI, PTPP, ASSA, ALII, AGRO, BWPT, RALS, dan PRDA
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, pengumuman FTSE September 2026 memang memberikan sentimen negatif, khususnya terhadap saham yang mengalami downgrade maupun exclusion. Namun, dampaknya terhadap IHSG secara keseluruhan relatif terbatas.
“Sebab, mayoritas saham yang dikeluarkan berasal dari kelompok micro cap dengan bobot yang kecil terhadap IHSG,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (23/8/2026).
FTSE rebalancing juga berpotensi menyebabkan outflow pada saham-saham yang terkena exclusion/downgrade, tetapi dana tersebut tidak otomatis keluar dari pasar keuangan Indonesia.
“Sebagian dapat direalokasikan ke saham Indonesia lain yang masih memenuhi kriteria investability, terutama large caps yang likuid,” ungkapnya.
Co-Founder PasarDana, Hans Kwee mengatakan, pengumuman ini dapat memicu tekanan jual teknis dari dana kelolaan (fund manager) global pasif yang mereplikasi indeks FTSE. Efeknya akan terasa bertahap hingga tanggal rebalancing efektif pertengahan September 2026.
“Namun, karena kategori Large Cap tidak mengalami perombakan, sehingga dampak volatilitas sistemik terhadap indeks utama cenderung terisolasi di saham-saham second-tier dan third-tier,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (23/8/2026).
Pasca pengumuman FTSE ini, IHSG diproyeksikan Hans bergerak volatile cenderung berkonsolidasi di rentang 6.350 – 6.600 sepanjang pekan depan. Asalannya, reaksi pasar awal diprediksi akan diwarnai penyesuaian portofolio teknis.
Sementara, IHSG diperkirakan berada di kisaran 7.200 – 7.500 di akhir tahun 2026. Sentimen penekan IHGSG berasal dari ketidakpastian arus modal asing (capital outflow).
FTSE Russell Tunda Rebalancing Saham RI, BEI Dapat Waktu Benahi Pasar
“Sedangkan katalis penopangnya meliputi ekspektasi ditahannya suku bunga (rate cut) Bank Indonesia/The Fed, keberlanjutan daya beli domestik, serta transparansi likuiditas pasar modal pasca perbaikan regulasi BEI,” ungkapnya.
Menurut Hans, dana asing, khusus passive indexing, dipastikan mengalir keluar dari emiten-emiten yang terkena deleting/demotion. Namun untuk active fund manager, penyesuaian dilakukan murni berdasarkan valuasi fundamental.
Saat ini, modal asing cenderung mengalir ke pasar berkembang (emerging markets) yang menawarkan kejelasan likuiditas, transparansi porsi free float, serta revisi pertumbuhan laba (earnings revision) yang lebih dinamis.
Contohnya, Vietnam dan pasar Asia Utara, seperti Korea Selatan dan Taiwan, yang didukung siklus teknologi. Pasar-pasar tersebut saat ini menawarkan depth of market yang lebih tebal dan isu likuiditas serta transparansi kepemilikan saham yang relatif lebih terkelola dibanding pasar RI.
“Namun, pascareformasi pasar modal Indonesia, investor asing akan kembali masuk ke pasar saham domestik,” tuturnya.
Direktur Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang menambahkan, dengan posisi IHSG sekitar 6.525 pada akhir pekan lalu, base case IHSG ada di 6.400–6.650 pada pekan depan.
Lalu, bullish case 6.650–6.750 dan bearish case di 6.250–6.400 pekan depan.
Sementara, Edwin melihat IHSG di akhir 2026 untuk bull case ada di sekitar 6.850–7.150.
”Artinya, masih ada ruang recovery dari level sekarang, tetapi pemulihan tersebut sangat tergantung pada aliran dana asing,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (23/8/2026).
FTSE Russell Segera Putuskan Status Freeze, Cek Dampaknya ke IHSG dan Blue Chip
Rully menegaskan, FTSE exclusion bukan indikasi penurunan kinerja dari para emiten terdampak. FTSE menggunakan parameter seperti investable market capitalization dan investability.
BSDE dan sebagian besar saham yang turun kelas tidak memenuhi threshold investable market cap, sementara beberapa exclusion terkait surveillance criteria.
“Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk langsung menurunkan proyeksi pendapatan emiten di tahun 2026 hanya karena perubahan indeks FTSE,” katanya.
Investor pun disarankan Rully untuk masih bisa mencermati saham BSDE, SMRA, dan BTPS.
Hans melihat, dikeluarkan atau diturunkannya kasta emiten dalam indeks FTSE tidak mengganggu operasional riil maupun neraca keuangan emiten.
Bisnis emiten seperti BSDE, SMRA, PTPP, atau ADHI tetap berjalan berdasarkan permintaan pasar properti dan realisasi proyek infrastruktur.
Efek negatifnya ada pada penurunan likuiditas transaksi harian dan tekanan harga saham akibat aksi jual dana pasif. Valuasi saham yang tertekan dapat membuat efisiensi penggalangan dana baru (corporate action/rights issue) di pasar modal menjadi sedikit lebih mahal.
Selain itu, perubahan kategori indeks sering kali menciptakan market anomaly. Di mana, saham bermerek bagus (good quality stock) terdorong jatuh ke area oversold hanya karena teknikal.
“Ini menciptakan peluang masuk (entry point) secara selektif,” paparnya.
Hans merekomendasi buy on weakness untuk BSDE dengan target harga Rp 1.250 per saham. Rekomendasi trading buy dengan target harga Rp720 per saham. Sementara, rekomendasi hold untuk BTPS dengan taget harga Rp 1.450 per saham.
Edwin menegaskan, September akan menjadi bulan yang jauh lebih penting daripada pekan depan. Sebab, perubahan FTSE baru benar-benar dieksekusi pada 18 September dan efektif 21 September.
Jadi, perlu diperhatikan ke depan foreign flow pada big banks, rupiah, yield US Treasury, perkembangan MSCI/FTSE, serta apakah IHSG mampu bertahan di atas 6.400–6.450.
“Kalau empat faktor tersebut membaik, FTSE review ini berpotensi hanya menjadi short-term liquidity shock, bukan perubahan fundamental terhadap bull/bear market Indonesia,” paparnya.
Inilah Hasil Review FTSE Russel Agustus 2026 Atas Pasar Saham Indonesia, HSC Disorot




