IBMA terbentuk, emiten emas ANTM, HRTA dan BRMS bakal diuntungkan

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Sejumlah emiten terkait emas berpotensi merasakan manfaat besar dari pembentukan Indonesia Bullion Market Association (IBMA).

Advertisements

IBMA sendiri meluncur pada Kamis (20/8) dan terdiri dari para pelaku usaha di bidang usaha pertambangan emas dan manufaktur, perdagangan emas batangan, hingga perusahaan pembiayaan dan lembaga keuangan non-bank.

Saat ini, entitas yang sudah bergabung dengan IBMA antara lain PT Pegadaian, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), UBS Gold, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), Galeri 24, Brinks Solution Indonesia, ICDX Group, PT Central Mega Kencana, PT Sentral Kreasi Kencana, dan PT Laku Emas Indonesia.

Advertisements

SMI Punya Surat Utang Jatuh Tempo Rp 3,1 Triliun, Ini Strategi Pelunasannya

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, dampak IBMA terhadap emiten emas tergolong positif, namun lebih bersifat jangka menengah dan panjang. IBMA berperan penting dalam membangun ekosistem bullion yang lebih terintegrasi, transparan, dan efisien dari hulu hingga hilir, termasuk standardisasi dan mempertemukan produsen, manufaktur, pedagang, bullion bank, hingga investor.

Dalam jangka panjang, keberadaan IBMA berpotensi meningkatkan permintaan emas karena akses masyarakat dan institusi terhadap produk emas semakin luas. Namun, IBMA tidak otomatis meningkatkan volume produksi tambang. Manfaat terbesar akan muncul jika pertumbuhan permintaan bullion benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan penyerapan emas dari segmen hulu.

Dari sisi hulu, lanjut Arinda, emiten seperti BRMS, ARCI, PSAB, AMMN, MDKA, dan EMAS berpotensi diuntungkan. Sedangkan dari sisi hilir, ANTM dan HRTA relatif menarik karena memiliki eksposur kuat terhadap pemurnian, manufaktur, dan distribusi emas.

“Bahkan, BSI sebagai bullion bank telah mencatat emas kelolaan 24,01 ton per Juni 2026, menunjukkan bahwa ekosistem ini mulai menghasilkan permintaan riil,” kata dia, Jumat (21/8).

Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menambahkan, kehadiran IBMA positif untuk emiten emas karena akan memperkuat ekosistem bullion domestik sekaligus mendorong permintaan investasi emas secara jangka panjang.

Dari situ, ia menilai HRTA dan ANTM berpotensi paling diuntungkan di segmen hilir. “Sementara BRMS dan AMMN mendapat manfaat dari sisi produksi,” ujarnya, Jumat (21/8/2026).

IBMA Meluncur, Saham Emas HRTA hingga ANTM Berpeluang Jadi Emiten Penaguk Cuan

Dengan keberadaan IBMA, lanjut Harry, emiten emas perlu memperkuat kerja sama dengan bullion bank. Selain itu, emiten juga patut meningkatkan kapasitas pemurnian (refinery), sertifikasi, penelusuran, hingga jaringan distribusi emas agar dapat menangkap peluang pertumbuhan permintaan emas di dalam negeri.

Arinda juga menyebut, kerja sama dengan bullion bank seperti BSI, Pegadaian, maupun institusi terkait sangat penting karena dapat membuka akses ke pembiayaan berbasis emas, penyerapan emas, perdagangan bullion, hingga produk investasi.

Di samping itu, emiten emas juga perlu memperkuat kontrak penjualan jangka panjang, meningkatkan kapasitas pemurnian dan manufaktur, memperluas distribusi emas batangan dan produk digital, serta memastikan standar kemurnian dan penelusuran sesuai standar pasar bullion. Alhasil, emiten tidak hanya menjadi price takeer dari harga emas global, melainkan juga punya akses lebih langsung ke konsumen ritel dan institusi.

“Bagi HRTA dan ANTM, strategi hilirisasi dan perluasan distribusi menjadi sangat penting, sedangkan bagi produsen tambang seperti BRMS, ARCI, PSAB, AMMN dan MDKA, kepastian offtake dan peningkatan produksi menjadi kunci,” terang Arinda.

Di luar IBMA, sentimen terbesar bagi emiten emas tetap berasal dari volatilitas harga emas global, perkembangan suku bunga The Fed, pergerakan kurs dolar AS, nasib geopolitik global, pembelian emas oleh bank sentral, serta nilai tukar rupiah.

Harga emas yang kembali berada di level tinggi menjadi katalis positif karena meningkatkan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) dan margin produsen, meskipun dampaknya berbeda-beda tergantung biaya produksi dan volume output.

Lantas, Arinda menyebut saham ANTM, HRTA, dan BRMS dapat dicermati oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 4.500 per saham, Rp 2.900 per saham, dan Rp 830 per saham.

IRSX, BMAS, dan BUVA Bakal Rights issue, Mana yang Paling Menarik?

Di lain pihak, Harry merekomendasikan beli saham ANTM dengan target harga di level Rp 4.600 per saham karena eksposur dari hulu hingga hilir emas. Selain itu, dia juga merekomendasikan beli saham BRMS dengan target harga di level Rp 900 per saham lantaran menawarkan leverage lebih tinggi terhadap pertumbuhan produksi dan harga emas.

Advertisements

Also Read

Tags