IHSG Sesi I Melemah, Asing Lepas Saham BBRI, BUMI dan TPIA

Hikma Lia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang kurang menggembirakan pada perdagangan awal pekan ini. Berdasarkan data perdagangan sesi pertama pada hari Senin (24/8), IHSG tercatat mengalami penurunan yang cukup signifikan. Indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut melemah sebesar 0,69 persen atau kehilangan sekitar 45,04 poin, yang akhirnya memaksa IHSG parkir di level 6.480 pada jeda siang perdagangan. Penurunan ini mencerminkan adanya tekanan jual yang cukup kuat di pasar saham domestik sejak pembukaan pasar hingga berakhirnya sesi pertama. Investor tampak cenderung melakukan aksi ambil untung atau merespons sentimen negatif yang sedang berkembang, sehingga indeks tidak mampu mempertahankan posisinya di zona hijau dan harus terkoreksi ke bawah level psikologisnya.

Advertisements

Salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan pada sesi pertama ini adalah maraknya aksi jual yang dilakukan oleh investor luar negeri. Sepanjang perdagangan hingga jeda makan siang, investor asing membukukan nilai jual bersih atau biasa disebut net sell dengan total mencapai Rp 391,96 miliar. Aliran modal keluar (capital outflow) dari investor asing ini memberikan tekanan tambahan pada pergerakan harga saham-saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia. Ketika investor asing cenderung melepas kepemilikan saham mereka dalam jumlah besar, hal ini secara langsung memengaruhi psikologi pasar domestik, memicu investor lokal untuk ikut melakukan aksi jual guna menghindari kerugian yang lebih besar.

Jika ditelisik lebih mendalam mengenai saham-saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing pada perdagangan sesi pertama ini, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berada di urutan teratas. Saham bank pelat merah ini mencatatkan nilai penjualan bersih oleh asing paling besar, yakni mencapai Rp 160,84 miliar. Selain BBRI, saham emiten komoditas batu bara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga tidak luput dari tekanan jual investor asing dengan nilai jual bersih mencapai Rp 73,79 miliar. Di posisi ketiga, saham perusahaan petrokimia PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turut mencatatkan aksi jual bersih oleh investor asing dengan nilai akumulatif sebesar Rp 64,01 miliar hingga penutupan perdagangan sesi pertama.

Advertisements

Meskipun indeks mengalami penurunan, aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia sepanjang sesi pertama ini terpantau masih sangat aktif dan dinamis. Merujuk pada data resmi perdagangan yang dirilis oleh pihak bursa, volume transaksi perdagangan sepanjang paruh pertama hari ini berhasil mencapai angka yang cukup fantastis, yakni sebanyak 24,79 miliar lembar saham yang berpindah tangan. Aktivitas transaksi tersebut digerakkan melalui frekuensi perdagangan yang sangat tinggi, mencapai 1,39 juta kali transaksi. Sementara itu, total kapitalisasi pasar dari seluruh emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada siang ini berada di angka Rp 11.406 triliun, dengan nilai total transaksi keseluruhan yang berhasil dibukukan mencapai Rp 9,02 triliun. Angka-angka ini menunjukkan bahwa likuiditas pasar masih cukup tinggi di tengah volatilitas yang sedang berlangsung.

Kondisi pasar yang memerah ini tercermin jelas dari pergerakan sektoral di Bursa Efek Indonesia, di mana mayoritas sektor mengalami koreksi yang cukup dalam. Dari total sebelas sektor saham yang ada di bursa, sembilan sektor di antaranya terpaksa parkir di zona merah pada penutupan perdagangan sesi pertama. Sektor kesehatan menjadi sektor yang mengalami tekanan paling berat dan mencatatkan penurunan paling dalam dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya, dengan koreksi mencapai 2,31 persen secara sektoral. Pelemahan signifikan pada sektor kesehatan ini menjadi salah satu penekan utama indeks, dipicu oleh penurunan harga saham sejumlah emiten farmasi dan layanan kesehatan terkemuka yang melantai di bursa.

Di dalam sektor kesehatan, saham PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) menjadi salah satu pemicu utama kejatuhan sektor ini setelah harganya anjlok sebesar 4,35 persen dan mendarat di level Rp 2.200 per lembar saham. Penurunan tajam saham SILO ini terjadi setelah adanya pengumuman resmi bahwa saham rumah sakit tersebut didepak oleh lembaga indeks global FTSE Russell dari indeks kategori Small Cap dalam agenda penyesuaian atau review berkala untuk periode September 2026. Selain saham SILO, beberapa emiten kesehatan lainnya juga ikut terseret ke zona merah. Saham PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) tercatat melemah sebesar 2,54 persen hingga berada di level Rp 230 per lembar saham, sementara saham raksasa farmasi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) juga mengalami koreksi sebesar 1,23 persen ke level Rp 800 per lembar saham pada jeda siang ini.

Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan semakin diperparah oleh rontoknya harga saham-saham perbankan dengan kapitalisasi pasar raksasa, atau yang biasa dikenal sebagai saham bank jumbo. Mengingat saham-saham perbankan ini memiliki bobot yang sangat besar terhadap pergerakan IHSG, penurunan harga pada sektor ini secara otomatis memberikan dampak koreksi yang signifikan terhadap indeks secara keseluruhan. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang merupakan saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di bursa, tercatat mengalami koreksi sebesar 1,55 persen ke level Rp 6.350 per lembar saham. Pelemahan ini diikuti oleh saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang merosot cukup tajam sebesar 2,17 persen menuju level Rp 3.160 per lembar saham.

Tidak hanya BBCA dan BBRI, dua bank milik negara lainnya juga harus rela parkir di zona merah pada akhir sesi pertama ini. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan penurunan sebesar 0,71 persen dan berada di level Rp 4.190 per lembar saham. Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga mengalami tekanan jual yang cukup signifikan dengan koreksi sebesar 1,88 persen, yang membawa harga sahamnya turun ke level Rp 3.660 per lembar saham. Kejatuhan serempak dari empat pilar utama sektor perbankan nasional ini menjadi indikasi kuat bahwa pasar sedang berada dalam fase konsolidasi dan diwarnai oleh sikap kehati-hatian yang tinggi dari para pelaku pasar.

Dari sisi aktivitas transaksi berdasarkan nilai perdagangan terbesar sepanjang sesi pertama hari Senin ini, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan angka transaksi yang sangat luar biasa dan menduduki posisi teratas dengan nilai transaksi mencapai Rp 526,97 triliun. Di posisi kedua, terdapat saham emiten konglomerasi PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang mencatatkan nilai transaksi perdagangan sebesar Rp 468,39 miar. Sementara itu, saham perbankan pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kembali masuk dalam daftar teratas saham paling aktif dengan nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp 330,64 miliar hingga jeda perdagangan siang ini. Tingginya nilai transaksi pada saham-saham tersebut menunjukkan fokus perhatian para pelaku pasar yang terpusat pada beberapa emiten utama ini.

Koreksi yang dialami oleh Indeks Harga Saham Gabungan pada perdagangan hari ini ternyata tidak terjadi secara terisolasi di pasar domestik saja, melainkan sejalan dengan tren pelemahan yang melanda bursa saham di kawasan Asia secara keseluruhan. Hampir seluruh indeks acuan utama di regional Asia terperosok ke zona merah pada hari ini. Indeks Nikkei di Jepang tercatat mengalami penurunan sebesar 0,49 persen hingga mendarat di level 65.691. Di pasar saham Tiongkok, indeks Shanghai Composite juga melemah sebesar 0,71 persen ke level 3.877. Koreksi yang jauh lebih dalam terlihat di pasar saham Korea Selatan, di mana indeks Kospi merosot tajam hingga 3,05 persen menuju level 6.702. Sementara itu, indeks Hang Seng di Hong Kong juga tidak mampu bertahan dan jatuh sebesar 2,13 persen ke level 25.456 pada perdagangan hari ini. Sentimen negatif regional ini tampaknya turut memberikan tekanan psikologis bagi para investor di pasar modal Indonesia.

Di tengah dominasi warna merah yang menyelimuti pergerakan indeks dan mayoritas saham pada perdagangan sesi pertama ini, masih terdapat beberapa emiten yang berhasil mencatatkan kinerja positif dan masuk ke dalam daftar saham dengan kenaikan tertinggi atau top gainers. Posisi pertama dalam jajaran top gainers siang ini ditempati oleh saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI) yang berhasil melesat sebesar 8,36 persen untuk parkir di level Rp 8.750 per lembar saham. Di urutan kedua, terdapat saham produsen kembang gula PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) yang mencatatkan kenaikan harga sebesar 7,17 persen ke level Rp 1.420 per lembar saham. Menyusul di posisi ketiga adalah saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang berhasil menguat sebesar 6,96 persen dan ditutup di level Rp 8.450 per lembar saham pada akhir sesi pertama.

Sebaliknya, beberapa saham justru mengalami tekanan jual yang sangat hebat sehingga terjerembab ke dalam jajaran saham dengan penurunan terdalam atau top losers pada perdagangan sesi pertama siang ini. Saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) memimpin jajaran top losers dengan penurunan yang cukup tajam sebesar 5,28 persen, membawa harga sahamnya turun ke level Rp 2.690 per lembar saham. Di posisi kedua, saham bank digital PT Bank Jago Tbk (ARTO) juga mengalami koreksi mendalam sebesar 5,19 persen dan mendarat di level Rp 1.005 per lembar saham. Sementara itu, saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) melengkapi daftar top losers siang ini setelah terkoreksi sebesar 3,67 persen, yang membuat harga sahamnya turun ke level Rp 525 per lembar saham pada penutupan perdagangan sesi pertama.

Daftar top gainers siang ini:

  • PT Singaraja Putra Tbk (SINI) naik 8,36% ke Rp 8.750.
  • PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) naik 7,17% ke Rp 1.420.
  • PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) naik 6,96% ke Rp 8.450.

Daftar top losers siang ini:

  • PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) turun 5,28% ke Rp 2.690.
  • PT Bank Jago Tbk (ARTO) turun 5,19% ke Rp 1.005.
  • PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) turun 3,67% ke Rp 525.

Advertisements

Also Read

Tags