Kupon SR025 Lebih Rendah, Penjualan Sukuk Ritel Hadapi Tantangan

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Minat investor ritel terhadap Sukuk Ritel (SR) seri SR025 dinilai masih menunjukkan prospek yang positif, meskipun dinamika penjualannya diperkirakan akan berlangsung lebih selektif. Tantangan utama bagi pemerintah dalam mengerek penjualan SR025 ini terletak pada penetapan kupon yang relatif lebih rendah dibandingkan instrumen sebelumnya, serta persaingan ketat dengan berbagai instrumen investasi lain di pasar keuangan. Kondisi ini menuntut strategi pemasaran yang lebih cermat dan penekanan pada keunggulan spesifik yang ditawarkan oleh SR025.

Advertisements

Pemerintah secara resmi mulai menawarkan SR025 kepada investor ritel pada Jumat, 21 Agustus 2026. Dalam penawaran kali ini, pemerintah menetapkan tingkat kupon tetap sebesar 6,80% per tahun untuk SR025 dengan tenor tiga tahun, sementara untuk tenor lima tahun, kupon yang ditawarkan sedikit lebih tinggi, yakni 6,90% per tahun. Penetapan kupon ini menjadi salah satu faktor krusial yang akan memengaruhi keputusan investor dalam mengalokasikan dananya, terutama di tengah fluktuasi kondisi pasar dan beragam pilihan investasi yang tersedia.

Ratih Mustikoningsih, seorang Financial Expert dari Ajaib Sekuritas, menyampaikan pandangannya mengenai prospek permintaan SR025. Menurutnya, potensi permintaan masih tergolong positif, namun karakter permintaannya akan lebih selektif. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa investor ritel akan lebih berhati-hati dan mempertimbangkan secara mendalam berbagai aspek sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada SR025. Selektivitas ini kemungkinan dipicu oleh perbandingan dengan instrumen investasi lain yang mungkin menawarkan imbal hasil lebih tinggi atau fitur yang berbeda.

Advertisements

Pemerintah telah menetapkan total kuota nasional untuk SR025 sebesar Rp 20 triliun. Kuota ini dibagi menjadi dua bagian: Rp 15 triliun dialokasikan untuk SR025-T3 (tenor 3 tahun) dan Rp 5 triliun untuk SR025-T5 (tenor 5 tahun). Pembagian kuota ini mencerminkan strategi pemerintah untuk mengakomodasi preferensi investor yang mungkin memiliki horizon investasi berbeda, serta untuk mengelola penyerapan dana dari pasar.

Setelah periode penawaran berjalan selama sepekan, data terbaru yang dirilis pada Jumat, 28 Agustus, pukul 12.45 WIB, menunjukkan sisa kuota nasional SR025-T3 tercatat sebesar Rp 11,81 triliun. Angka ini merepresentasikan 78,76% dari total kuota yang disediakan untuk tenor tiga tahun. Sementara itu, untuk SR025-T5, sisa kuota yang tersedia adalah Rp 4,15 triliun, atau 83,12% dari total kuota tenor lima tahun. Data ini mengindikasikan bahwa penyerapan dana pada minggu pertama masih belum mencapai target maksimal, menunjukkan adanya ruang bagi investor yang berminat untuk berpartisipasi.

Ratih menjelaskan bahwa prospek permintaan SR025 tetap positif meskipun menghadapi berbagai tekanan makroekonomi dan pasar. Kondisi geopolitik global yang menyebabkan kenaikan harga minyak Brent, tren kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin (bps) sejak Mei 2026 menjadi 5,75%, serta melesatnya yield Sukuk Ritel Bank Indonesia (SRBI) hingga 7,37% untuk tenor 12 bulan, semuanya menciptakan lingkungan investasi yang kompleks. Dalam konteks ini, Ratih memprediksi bahwa karakter permintaan SR025 akan lebih selektif dibandingkan dengan penawaran Obligasi Ritel Indonesia (ORI) seri ORI030 sebelumnya.

Meskipun kupon SR025 yang berkisar antara 6,80% hingga 6,90% sedikit lebih rendah dibandingkan kupon ORI030 yang mencapai 6,90% hingga 7%, Ratih tetap menilai instrumen ini realistis dan menarik bagi investor ritel. Perbedaan kupon sebesar 10 basis poin (0,10%) ini, meskipun terlihat kecil, dapat menjadi pertimbangan penting bagi investor yang sangat sensitif terhadap tingkat imbal hasil. Namun, keunggulan lain yang dimiliki SR025 diyakini mampu mengimbangi perbedaan tersebut.

Salah satu daya tarik utama SR025 adalah kemampuannya untuk mengunci imbal hasil dalam jangka panjang. Ratih menyoroti bahwa yield SRBI tenor 12 bulan yang mencapai 7,37% hanya memberikan kepastian imbal hasil untuk jangka pendek. Hal ini berarti investor SRBI akan menghadapi risiko reinvestasi ketika tingkat suku bunga pasar nantinya mengalami penurunan. Sebaliknya, SR025 menawarkan kupon tetap selama tiga hingga lima tahun, memberikan kepastian pendapatan bagi investor dan melindungi mereka dari fluktuasi suku bunga di masa mendatang. Stabilitas pendapatan ini menjadi nilai tambah yang signifikan bagi investor yang mencari keamanan dan prediktabilitas.

Dari perspektif perpajakan, SR025 juga memiliki keunggulan kompetitif. Pajak atas imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) ritel, termasuk SR025, ditetapkan sebesar 10%. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan pajak deposito yang mencapai 20% atau pajak atas instrumen pasar uang tertentu. Keunggulan pajak ini secara langsung meningkatkan imbal hasil bersih yang diterima oleh investor, menjadikan SR025 pilihan yang lebih efisien dari segi pajak. Pengurangan beban pajak ini secara efektif meningkatkan daya tarik keseluruhan investasi pada SR025 dibandingkan dengan alternatif lain yang dikenakan pajak lebih tinggi.

Ratih menghitung bahwa imbal hasil bersih SR025 tenor lima tahun, setelah dipotong pajak, diperkirakan sekitar 6,21%. Angka ini masih dianggap sangat atraktif jika dibandingkan dengan rata-rata bunga bersih deposito perbankan yang saat ini berada di kisaran 4%-5% per tahun. Selain itu, deposito seringkali memiliki fleksibilitas waktu investasi yang lebih terbatas, sementara SR025 menawarkan tenor yang lebih pasti. Faktor penting lainnya adalah bahwa SR025 merupakan instrumen berbasis sukuk, yang berarti sesuai dengan prinsip syariah. Hal ini membuka pasar tersendiri dari investor yang mengutamakan instrumen investasi syariah, memperluas basis calon pembeli potensial.

Meskipun demikian, Ratih juga mengidentifikasi sejumlah tantangan yang berpotensi membatasi penjualan SR025. Tantangan pertama adalah perbedaan kupon SR025 yang lebih rendah dibandingkan dengan ORI030. ORI030, yang ditawarkan pada Juli 2026, menawarkan kupon 6,90% untuk tenor tiga tahun dan 7% untuk tenor enam tahun. Sementara itu, SR025 menawarkan kupon 6,80% untuk tenor tiga tahun dan 6,90% untuk tenor lima tahun. Perbedaan 10 basis poin (0,10%) ini, terutama bagi investor ritel yang sangat sensitif terhadap tingkat yield, dapat membatasi alokasi dana mereka pada SR025. Investor cenderung membandingkan imbal hasil secara teliti dan memilih opsi yang menawarkan pengembalian lebih tinggi jika risiko dianggap sebanding.

Tantangan kedua yang dihadapi SR025 adalah persaingan sengit dengan instrumen pemerintah dan Bank Indonesia lainnya. Yield SRBI tenor 12 bulan, misalnya, pada Agustus 2026 telah mencapai 7,37%. Meskipun memiliki tenor yang lebih pendek, tingkat imbal hasil yang lebih tinggi ini sangat berpotensi menarik investor dengan dana besar maupun institusi yang mencari pengembalian cepat dan kompetitif. Ratih mencatat bahwa outstanding SRBI per 31 Juli 2026 telah mencapai Rp 1.059,30 triliun, menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 40,3% secara year to date (YtD). Angka ini menggambarkan bagaimana SRBI telah menjadi pilihan investasi yang sangat populer dan likuid.

Selain SRBI, investor berpengalaman juga memiliki alternatif obligasi negara seri Fixed Rate (FR) yang diperdagangkan di pasar sekunder. Menurut Ratih, instrumen ini berpotensi menjadi pilihan menarik karena saat ini menawarkan yield to maturity (YtM) yang lebih tinggi. Kenaikan YtM ini merupakan konsekuensi dari tertekannya harga obligasi di pasar sekunder seiring dengan kenaikan BI Rate. Investor yang memiliki pemahaman mendalam tentang pasar obligasi dan toleransi risiko yang lebih tinggi mungkin akan cenderung memilih FR untuk memaksimalkan potensi keuntungan dari pergerakan harga di pasar sekunder.

Faktor lain yang dapat menahan penjualan SR025 adalah kondisi likuiditas investor ritel. Pemerintah sebelumnya telah menyerap likuiditas masyarakat dalam jumlah besar, yakni sekitar Rp 40 triliun, melalui penerbitan ORI030 pada bulan sebelumnya. Jarak penerbitan antara ORI030 dan SR025 yang relatif berdekatan, hanya sekitar tiga minggu, menimbulkan kekhawatiran bahwa daya beli atau likuiditas investor ritel belum sepenuhnya pulih. Akibatnya, kemampuan mereka untuk kembali melakukan pembelian secara masif pada SR025 mungkin terbatas. Penyerapan dana yang besar dalam waktu singkat dapat menyebabkan investor menunda investasi baru hingga likuiditas mereka kembali stabil.

Oleh karena itu, Ratih menyimpulkan bahwa SR025 berpotensi tidak akan memecahkan rekor penjualan yang dicetak oleh ORI030. Prediksi ini didasarkan pada analisis ketatnya likuiditas di pasar saat ini, di samping persaingan ketat dari instrumen investasi lain dan penetapan kupon yang sedikit lebih rendah. Kondisi pasar yang dinamis menuntut investor untuk lebih cermat dalam memilih instrumen investasi, dan pemerintah untuk lebih strategis dalam menawarkan produk SBN ritel di masa mendatang.

Advertisements

Also Read

Tags