PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), salah satu perusahaan terkemuka di sektor infrastruktur dan manufaktur dari Grup Bakrie, secara resmi telah mempublikasikan laporan kinerja keuangan terbarunya untuk periode semester pertama tahun 2026. Dalam laporan tersebut, emiten ini menunjukkan performa top-line yang sangat impresif dengan mencatatkan lonjakan pendapatan yang signifikan. Pada paruh pertama tahun 2026 ini, BNBR berhasil membukukan total pendapatan sebesar Rp 2,59 triliun. Pencapaian tersebut mencerminkan pertumbuhan yang luar biasa sebesar 45,83% secara tahunan atau year on year (YoY) jika dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama di tahun sebelumnya, di mana perseroan mengantongi pendapatan sebesar Rp 1,77 triliun.
Pertumbuhan kinerja pendapatan PT Bakrie & Brothers Tbk tidak hanya bertumpu pada satu sektor saja, melainkan tersebar secara merata di seluruh lini bisnis utama yang dikelola oleh perseroan. Secara lebih terperinci, lini bisnis infrastruktur dan manufaktur, yang selama ini menjadi pilar utama bisnis BNBR, mencatatkan peningkatan tajam sebesar 38,35% YoY dengan total kontribusi mencapai Rp 2,23 triliun. Selanjutnya, segmen jasa pabrikasi dan konstruksi juga menunjukkan performa yang sangat solid dengan tumbuh sebesar 34,74% YoY menjadi Rp 216,98 miliar. Namun, lonjakan persentase yang paling fantastis terjadi pada segmen perdagangan, jasa, dan investasi. Segmen ini melesat hingga 4.536% YoY dan menghasilkan pendapatan sebesar Rp 142,97 miliar pada semester I 2026, naik drastis dari angka yang relatif kecil pada semester pertama tahun sebelumnya.
Meskipun mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang sangat impresif di seluruh lini bisnisnya, kenaikan top-line tersebut ternyata belum cukup kuat untuk mendorong profitabilitas bersih PT Bakrie & Brothers Tbk ke zona positif. Penyebab utamanya adalah kenaikan beban pokok pendapatan yang juga tumbuh signifikan sebesar 40,02% YoY menjadi Rp 1,94 triliun pada semester pertama 2026. Akibatnya, BNBR harus membukukan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 224,81 miliar. Kondisi ini berbalik cukup tajam dari pencapaian semester I tahun 2025, di mana saat itu perseroan masih berhasil mengamankan laba bersih sebesar Rp 55,87 miliar.
Direktur PT Bakrie & Brothers Tbk, Roy Hendrajanto M Sakti, memberikan penjelasan mendalam mengenai faktor utama di balik penurunan laba bersih tersebut. Menurutnya, tekanan pada laba bersih perseroan sebagian besar disebabkan oleh faktor eksternal yang berada di luar kendali operasional langsung perusahaan. Secara spesifik, kenaikan suku bunga mengambang atau floating rate berdampak langsung pada peningkatan beban bunga yang harus ditanggung oleh PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT). Kondisi ini merupakan konsekuensi logis yang sering terjadi pada tahun-tahun awal setelah dilaksanakannya proses akuisisi, terutama ketika porsi komponen beban bunga pinjaman masih berada pada tingkat yang relatif tinggi dan mendominasi struktur biaya keuangan entitas tersebut.
Sebagai informasi latar belakang, PT Bakrie & Brothers Tbk sebelumnya telah mengambil langkah strategis dengan mengakuisisi 90% kepemilikan saham di PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT). CCT merupakan badan usaha jalan tol yang memegang konsesi dan bertindak sebagai operator untuk ruas jalan tol penting Cimanggis–Cibitung. Proses akuisisi strategis ini direalisasikan oleh perseroan melalui salah satu anak usahanya, yaitu PT Bakrie Toll Indonesia (BTI). Langkah korporasi berskala besar ini merupakan bagian dari rangkaian transaksi investasi jangka panjang yang memiliki nilai total mencapai Rp 9,4 triliun, yang dirancang untuk memperkuat portofolio infrastruktur jalan tol Grup Bakrie.
Meskipun hasil akhir bersih atau bottom-line menunjukkan angka negatif akibat beban keuangan eksternal, indikator operasional PT Bakrie & Brothers Tbk sebenarnya menunjukkan kondisi fundamental bisnis yang sangat sehat dan efisien. Hal ini tercermin dengan jelas dari perolehan laba usaha perseroan yang melonjak sangat signifikan. BNBR berhasil membukukan laba usaha sebesar Rp 301,53 miliar pada semester I 2026, yang berarti meroket sebesar 283,21% YoY dibandingkan dengan laba usaha periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp 78,68 miliar. Selain itu, perseroan juga mencatatkan EBITDA positif yang sangat kuat, yaitu sebesar Rp 423,04 miIiar, melesat sebesar 230,93% dari perolehan EBITDA semester I 2025 yang tercatat sebesar Rp 127,83 miliar.
Wakil Direktur Utama sekaligus Co-CEO PT Bakrie & Brothers Tbk, A Ardiansyah Bakrie, menegaskan bahwa tren pertumbuhan positif pada kinerja operasional perseroan ini ditopang secara kuat oleh peningkatan kinerja keuangan dari beberapa anak usaha strategis yang berada di bawah naungan grup. Sinergi antar-anak usaha ini terbukti mampu mengoptimalkan pendapatan konsolidasi perseroan secara keseluruhan, sekaligus memperluas jangkauan pasar BNBR di berbagai sektor industri strategis nasional.
Salah satu kontributor utama dalam pertumbuhan ini adalah PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN). Anak usaha ini berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 626,78 miliar pada paruh pertama tahun 2026. Angka tersebut menunjukkan lonjakan luar biasa sebesar 256,1% jika dibandingkan dengan pendapatan bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 176,02 miliar. Lompatan pendapatan yang sangat masif pada BIIN ini terutama dipicu oleh adanya kebijakan konsolidasi keuangan secara penuh atas PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) ke dalam laporan keuangan perusahaan mulai tahun 2026.
Di sektor mobilitas ramah lingkungan, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) Group juga menunjukkan performa bisnis yang sangat menjanjikan. Entitas anak yang berfokus pada elektrifikasi transportasi ini berhasil mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp 646,61 miliar pada semester I 2026. Pencapaian tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 56,2% dibandingkan dengan pendapatan bersih semester I 2025 yang berada di angka Rp 414,03 miliar. Pertumbuhan yang kuat di segmen ini didorong secara langsung oleh peningkatan volume penjualan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) serta kontribusi positif dari kenaikan penjualan di PT Bakrie Autoparts (BA) Group.
Lini bisnis manufaktur logam berat dan konstruksi baja melalui PT Bakrie Metal Industries (BMI) Group juga memberikan kontribusi yang kokoh bagi pendapatan konsolidasi BNBR. BMI Group sukses membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 1,3 triliun pada semester pertama 2026, tumbuh sebesar 10,2% dibandingkan dengan perolehan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp 1,18 triliun. Kinerja positif ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan dari entitas induk BMI sebesar 37,5%, pertumbuhan dari PT Bakrie Construction (BCons) sebesar 33,6%, serta kontribusi pertumbuhan dari PT Southeast Asia Pipe Industries (SEAPI) sebesar 15,1%.
Untuk memperkuat struktur permodalan dan mengatasi tantangan beban bunga yang tinggi di masa mendatang, PT Bakrie & Brothers Tbk telah mengambil langkah proaktif melalui aksi korporasi di pasar modal. Perseroan telah berhasil melaksanakan penerbitan saham baru melalui mekanisme Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue yang diselesaikan pada akhir Juli 2026. Melalui aksi korporasi strategis ini, BNBR berhasil menghimpun dana segar dalam jumlah yang sangat signifikan, yakni mencapai Rp 4,76 triliun. Dana hasil rights issue ini diharapkan dapat memperkokoh likuiditas perseroan serta memberikan fleksibilitas keuangan yang lebih besar untuk mendukung ekspansi bisnis dan restrukturisasi utang.
Melihat prospek bisnis ke depan, manajemen PT Bakrie & Brothers Tbk tetap optimis bahwa perseroan berada di jalur pertumbuhan yang tepat. Keyakinan ini didasarkan pada kondisi keuangan perusahaan yang semakin solid pasca-rights issue serta portofolio infrastruktur strategis yang dimiliki saat ini. Portofolio tersebut tidak hanya mencakup pengelolaan jalan tol yang potensial seperti Cimanggis-Cibitung, tetapi juga kepemilikan jaringan pipanisasi yang vital bagi transportasi minyak dan gas bumi nasional. Di samping itu, BNBR juga terus berkomitmen untuk memperluas ekspansi bisnisnya ke sektor-sektor industri masa depan, khususnya dalam pengembangan ekosistem elektrifikasi transportasi dan penyediaan solusi energi yang berkelanjutan.




