Bitcoin Gagal Bertahan di US$ 80.000, Pasar Mulai Konsolidasi

Hikma Lia

Pergerakan pasar aset kripto, khususnya Bitcoin (BTC), terus menyita perhatian para pelaku pasar global setelah melewati akhir Agustus dengan tingkat volatilitas yang sangat tinggi. Pergerakan harga mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia ini sempat menciptakan optimisme besar ketika berhasil menembus level psikologis yang sangat krusial, yaitu US$ 80.000. Keberhasilan melewati angka tersebut sempat membawa harapan baru bagi para investor yang menantikan kelanjutan tren kenaikan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Advertisements

Namun, dinamika pasar kripto yang cepat kembali menunjukkan karakternya yang fluktuatif. Setelah sempat menyentuh area tertinggi di atas level US$ 81.000 pada pekan lalu, Bitcoin tidak mampu mempertahankan posisinya di puncak. Memasuki awal September, aset digital ini justru mengalami tekanan jual yang cukup signifikan, yang menyeret harganya kembali turun ke kisaran US$ 77.597 pada hari Rabu (2/9) pukul 13.25 WIB. Penurunan ini menandai fase baru yang harus dihadapi oleh para pelaku pasar dalam menentukan arah investasi mereka di bulan yang baru.

Menanggapi fluktuasi harga yang terjadi baru-baru ini, CEO & Founder FLOQ Yudhono Rawis memberikan pandangan mendalam mengenai dinamika tersebut. Menurut Yudhono, kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa Bitcoin sedang memasuki fase konsolidasi yang wajar setelah mengalami reli yang sangat kuat sepanjang paruh kedua bulan Agustus. Konsolidasi ini merupakan hal yang lumrah terjadi di pasar keuangan, terutama setelah sebuah aset mengalami kenaikan harga yang signifikan dalam waktu yang relatif singkat, guna mencari titik keseimbangan harga yang baru.

Advertisements

Pergerakan harga ini secara langsung juga mengubah fokus utama para pelaku pasar secara keseluruhan. Jika pada pekan-pekan sebelumnya perhatian investor didominasi oleh spekulasi mengenai apakah Bitcoin mampu menembus kembali level psikologis US$ 80.000, kini arah perhatian tersebut telah bergeser secara dramatis. Fokus investor saat ini adalah mengamati apakah level US$ 80.000 tersebut dapat direbut kembali dan dipertahankan dalam jangka menengah. Tantangan ini menjadi semakin besar mengingat pasar saat ini sedang dibayangi oleh ketidakpastian yang tinggi terkait arah kebijakan moneter yang akan diambil oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).

Ekamas Mora (MORA) Tambah Fasilitas Kredit Investasi hingga Rp 4 Triliun dari BCA

Di balik optimisme yang sempat membumbung tinggi, banyak analis pasar sebenarnya telah memberikan peringatan dini mengenai potensi terjadinya koreksi pada pergerakan Bitcoin. Para analis menyoroti bahwa posisi long (posisi beli yang mengharapkan kenaikan harga) di pasar berjangka sudah menjadi semakin padat dan jenuh. Ketika mayoritas pelaku pasar mengambil posisi yang searah tanpa adanya penyeimbang yang cukup, pasar menjadi sangat rentan terhadap aksi likuidasi massal jika terjadi pergerakan harga yang berlawanan arah secara tiba-tiba.

Kerentanan pasar ini diperparah oleh volume perdagangan yang mulai melandai atau mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Volume transaksi yang mengecil menunjukkan bahwa kekuatan beli di tingkat harga yang lebih tinggi mulai berkurang, sehingga tidak ada cukup dorongan likuiditas untuk mempertahankan harga di atas level psikologis tersebut. Kombinasi antara posisi long yang padat dan volume perdagangan yang menipis ini pada akhirnya membuat Bitcoin menjadi sangat sensitif terhadap sentimen negatif dan memicu koreksi harga yang terjadi saat ini.

Risiko koreksi tersebut mulai terealisasi secara nyata setelah pidato yang disampaikan oleh Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, dalam simposium ekonomi di Jackson Hole pada tanggal 28 Agustus. Dalam pidatonya yang dinilai cukup ketat, Warsh menegaskan bahwa tingkat inflasi di Amerika Serikat masih berada di atas target yang ditetapkan oleh bank sentral, yaitu sebesar 2%. Ia juga menambahkan bahwa perkembangan data inflasi dalam beberapa bulan terakhir belum memberikan bukti yang cukup kuat mengenai adanya perbaikan tren yang berarti menuju target yang diinginkan.

Warsh memberikan penekanan khusus bahwa Federal Reserve masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan jika inflasi tidak menunjukkan pergerakan turun menuju target dengan kecepatan yang dinilai memadai. Pernyataan tegas ini langsung direspons dengan sikap kehati-hatian oleh pasar keuangan global, termasuk pasar aset kripto, karena mengindikasikan bahwa era kebijakan moneter ketat mungkin akan bertahan lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya oleh sebagian pelaku pasar.

Meskipun terjadi koreksi yang cukup tajam setelah Bitcoin gagal bertahan di atas level US$ 80.000, Yudhono Rawis menilai bahwa situasi ini tidak serta-merta merusak atau menghilangkan prospek positif jangka panjang dari aset kripto tersebut. Bagi Yudhono, koreksi ini merupakan bagian dari siklus pasar yang sehat untuk menguji kekuatan fondasi harga. Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa fase pergerakan harga berikutnya akan sangat bergantung dan ditentukan oleh faktor fundamental makroekonomi serta kekuatan permintaan riil dari para investor.

Yudhono menjelaskan bahwa setelah kegagalan mempertahankan posisi di atas US$ 80.000, pasar kini secara resmi memasuki apa yang ia sebut sebagai “fase pembuktian”. Dalam fase ini, para pelaku pasar dan investor perlu mengamati dengan cermat apakah permintaan di pasar spot serta arus dana masuk dari investor institusional masih memiliki kekuatan yang cukup untuk menyerap volatilitas yang timbul akibat ketidakpastian kebijakan moneter Federal Reserve ke depan.

Rupiah Terus Melemah ke Rp 17.770 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (2/9), Won Perkasa

Salah satu pilar utama yang menyokong kenaikan harga Bitcoin sepanjang bulan Agustus adalah kembalinya kepercayaan investor institusional. Hal ini tercermin dengan sangat jelas dari mengalirnya kembali arus modal institusional melalui produk Exchange-Traded Fund (ETF) kripto di pasar Amerika Serikat. Produk ETF Bitcoin dan Ethereum mencatatkan kinerja yang sangat luar biasa dengan membukukan arus masuk bersih (net inflow) sekitar US$ 2,71 miliar pada pekan yang berakhir pada tanggal 24 Agustus. Angka ini menjadikannya salah satu pekan dengan arus masuk terkuat sepanjang tahun 2026. Dari total dana masuk tersebut, Bitcoin mendominasi dengan mengambil porsi terbesar, yaitu sekitar US$ 1,92 miliar.

Namun, antusiasme institusional tersebut tampaknya mulai menunjukkan tanda-tanda pendinginan menjelang akhir bulan Agustus. Berdasarkan data yang dirilis oleh Farside Investors, produk spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat mencatatkan arus keluar bersih (net outflow) sekitar US$ 201,9 juta pada tanggal 28 Agustus. Perubahan arah arus dana ini terjadi setelah selama beberapa hari perdagangan sebelumnya instrumen ini secara konsisten membukukan arus masuk positif yang cukup solid. Menurut analisis Yudho, perubahan tren arus dana ini menjadikan data ETF sebagai salah satu indikator utama yang wajib dipantau secara ketat oleh para investor dalam beberapa pekan ke depan untuk mengukur kekuatan minat institusional secara riil.

Memasuki bulan September, pasar kripto diproyeksikan akan terus menghadapi serangkaian ujian berat berupa rilis data makroekonomi penting dari Amerika Serikat. Katalis-katalis ini diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan harga berikutnya secara signifikan. Agenda penting pertama adalah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk bulan Agustus yang dijadwalkan pada tanggal 4 September. Data ini sangat krusial karena kondisi pasar tenaga kerja menjadi salah satu pertimbangan utama Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga acuan mereka.

Setelah data tenaga kerja, perhatian pasar akan langsung beralih ke rilis data Consumer Price Index (CPI) untuk bulan Agustus yang dijadwalkan pada tanggal 11 September. Data inflasi ini akan menjadi potongan informasi terakhir sebelum para pejabat bank sentral berkumpul dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan diselenggarakan pada tanggal 15-16 September 2026. Kombinasi dari data ketenagakerjaan, tingkat inflasi, serta bagaimana respons kebijakan yang akan diambil oleh Federal Reserve dalam pertemuan FOMC tersebut memiliki potensi yang sangat besar untuk menentukan arah aliran dana global. Pertemuan ini akan menentukan apakah investor akan kembali berani meningkatkan eksposur mereka pada aset berisiko seperti Bitcoin, atau justru memilih untuk mengambil posisi yang lebih defensif dan mengamankan modal mereka.

Harga Emas Spot Diprediksi Masih Tertekan, Ini Level Supportnya

Pentingnya rilis data ekonomi ini menjadi semakin krusial setelah pernyataan Kevin Warsh yang menegaskan bahwa Federal Reserve tidak ingin terlalu bergantung pada panduan masa depan (forward guidance). Warsh berpendapat bahwa pelaku pasar seharusnya lebih mandiri dalam menganalisis dan mengambil kesimpulan sendiri berdasarkan perkembangan data ekonomi aktual yang terjadi di lapangan, ketimbang hanya bersikap pasif dan menunggu sinyal atau petunjuk langsung dari bank sentral mengenai langkah kebijakan berikutnya. Hal ini menuntut para pelaku pasar untuk lebih jeli dan responsif terhadap setiap indikator ekonomi makro yang dirilis ke publik.

Dalam jangka pendek, Yudhono memproyeksikan bahwa area harga antara US$ 80.000 hingga US$ 81.000 akan tetap menjadi zona resistensi dan level psikologis yang sangat penting bagi pergerakan harga Bitcoin. Keberhasilan Bitcoin untuk menembus kembali dan mempertahankan posisinya di atas area tersebut akan menjadi sinyal kuat yang dapat memicu dan memperkuat kembali momentum kenaikan harga yang bullish. Sebaliknya, selama harga Bitcoin masih tertahan di bawah level US$ 80.000, pasar diperkirakan akan tetap bergerak dalam fase konsolidasi dan fluktuasi yang terbatas, sembari menunggu datangnya katalis positif baru yang cukup kuat untuk mendorong harga keluar dari fase jenuh saat ini.

Advertisements

Also Read

Tags