Reksadana saham Panin AM cetak return 7,21%, energi masih jadi andalan

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penguatan pasar saham domestik pada Agustus 2026 turut mengangkat kinerja reksadana saham. Sejumlah produk mampu mencatatkan return lebih tinggi dari rata-rata industri seiring penguatan yang terjadi di pasar saham.

Advertisements

Berdasarkan data Infovesta, rata-rata reksadana saham mencatatkan return sebesar 3,60% secara bulanan atau month-on-month (MoM) pada Agustus 2026. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 4,64% pada periode yang sama.

Salah satu reksadana saham yang mencatatkan kinerja lebih tinggi adalah Panin Dana Infrastruktur Bertumbuh, dengan return sebesar 7,21% MoM pada Agustus 2026.

Advertisements

Kinerja Reksadana Menguat di Agustus 2026, Investor Pantau Dampak RAPBN 2027

Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto mengatakan, kondisi pasar saham pada Agustus memberikan kontribusi terhadap kinerja produk tersebut.

Rebound dan rally IHSG terjadi secara merata di semua sektor pada Agustus, sehingga berkontribusi terhadap kinerja,” kata Rudiyanto kepada Kontan, Kamis (3/9/2026).

Dari sisi portofolio, Panin Dana Infrastruktur Bertumbuh memiliki alokasi terbesar pada sektor keuangan. Berdasarkan fund fact sheet per 31 Juli 2026, sektor keuangan memiliki porsi 41,5%, diikuti sektor energi sebesar 19,4% dan properti dan real estat sebesar 18,1%.

Selanjutnya, alokasi pada sektor perindustrian mencapai 5,8%, barang baku 4,9%, dan infrastruktur 3,9%.

Produk tersebut juga memiliki eksposur pada sektor konsumen non-primer sebesar 2,6% dan konsumen primer 1,7%, serta kas dan pasar uang berupa deposito dan SRBI sebesar 2,2%.

Reksadana Pasar Uang Masih Unggul, Pendapatan Tetap Berpeluang Menguat

Rudiyanto mengatakan, strategi tersebut telah diterapkan Panin Asset Management sejak awal tahun dan masih menjadi bagian dari pengelolaan portofolio hingga saat ini.

“Kami masih overweight di energy dan komoditas,” ujar Rudiyanto.

Di sisi lain, Panin Asset Management masih menempatkan sektor infrastruktur dalam posisi underweight. Rudiyanto mengatakan, keputusan tersebut dipengaruhi oleh kinerja emiten infrastruktur yang belum terlalu baik.

Untuk periode mendatang, strategi alokasi akan tetap disesuaikan dengan perkembangan kinerja emiten dan kondisi pasar saham.

Advertisements

Also Read

Tags