PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) menambah fasilitas kredit investasi hingga Rp 4 triliun dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA) untuk mempercepat pembangunan jaringan telekomunikasi, khususnya homepass, setelah merger perseroan efektif pada April 2026.
Fasilitas itu dituangkan dalam Akta Perubahan Pertama atas Perjanjian Kredit yang ditandatangani MORA dan BCA pada 31 Agustus. Dalam keterbukaan informasi yang diterbitkan pada 2 September, MORA menyebut tambahan fasilitas kredit investasi tersebut memiliki jumlah pokok tidak melebihi Rp 4 triliun.
Nilai fasilitas kredit itu setara dengan 50,54% dari total ekuitas perseroan. Ekuitas MORA yang menjadi dasar perhitungan mencapai Rp 7,91 triliun berdasarkan laporan keuangan tahunan per 31 Desember 2025 yang telah diaudit.
“Perjanjian Kredit ini dikategorikan sebagai Transaksi Material berdasarkan POJK 17 Tahun 2020, karena penambahan fasilitas kredit investasinya melampaui 50% dari ekuitas perseroan,” tulis manajemen MORA dalam keterbukaan informasi, dikutip Kamis (3/9).
Meski masuk kategori transaksi material, perseroan menyatakan transaksi tersebut merupakan transaksi material yang dikecualikan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 huruf b POJK 17 Tahun 2020.
Berdasarkan perjanjian, tambahan fasilitas kredit investasi dari BCA memiliki jangka waktu maksimal tujuh tahun sejak penandatanganan perjanjian kredit, termasuk grace period maksimal satu tahun.
Fasilitas tersebut juga dijamin dengan sejumlah aset. MORA menyebut agunan antara lain berupa akta jaminan fidusia atas aset yang dibiayai melalui fasilitas kredit investasi, yakni homepass beserta peralatannya dan hasil klaim asuransi.
Nilai penjaminannya minimal sebesar 125% dari jumlah pokok fasilitas kredit investasi. Selain itu, terdapat gadai atas sejumlah rekening MORA di BCA.
Bangun Jaringan Homepass
MORA menyatakan dana dari fasilitas kredit tersebut akan digunakan untuk membiayai belanja modal pembangunan homepass. Ini termasuk Customer Premises Equipment (CPE), serta sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
“Tambahan fasilitas kredit investasi yang diterima perseroan akan digunakan untuk pembiayaan belanja modal pembangunan homepass termasuk CPE, beserta sarana dan prasarana pendukung operasional lainnya,” tulis MORA.
Namun, penggunaan fasilitas ini tidak mencakup pembangunan homepass untuk layanan Fixed Wireless Access (FWA) beserta CPE dan infrastruktur pendukung yang terkait dengan FWA.
Homepass merupakan titik atau lokasi rumah atau bangunan yang sudah dilewati atau tersedia jaringan telekomunikasi. Dengan begitu secara teknis dapat dilayani atau dihubungkan ke layanan broadband, misalnya jaringan fiber optik.
Semakin banyak homepass yang dibangun, semakin luas pula potensi jangkauan pelanggan yang dapat dilayani operator.
Pembangunan homepass MORA menjadi bagian dari ekspansi jaringan fixed broadband. Infrastruktur tersebut nantinya dapat menjadi basis untuk menghubungkan pelanggan ke layanan internet melalui jaringan yang telah dibangun.
MORA mengatakan tambahan pendanaan tersebut juga merupakan bagian dari strategi pendanaan jangka panjang perusahaan. Dana tersebut diharapkan dapat mempercepat pembangunan jaringan homepass sekaligus memperluas konektivitas digital di Indonesia.
“Transaksi ini merupakan bagian dari strategi pendanaan jangka panjang Perseroan untuk mendukung pengembangan pembangunan jaringan homepass termasuk CPE, beserta sarana dan prasarana pendukungnya dan mendorong percepatan pembangunan konektivitas digital di Indonesia, khususnya di wilayah-wilayah strategis,” tulis manajemen.
Fasilitas tersebut juga disebut dapat menjaga ruang likuiditas perusahaan yang diharapkan mendukung kelancaran operasional dan stabilitas keuangan. Meski demikian, MORA mengakui tambahan kredit tersebut akan meningkatkan kewajiban keuangan perseroan.
Manajemen menyatakan penambahan kewajiban tersebut masih berada dalam batas rasio yang diperkenankan berdasarkan sejumlah perjanjian yang dimiliki Perseroan. Ini termasuk perjanjian perwaliamanatan Sukuk Ijarah Berkelanjutan II Moratelindo Tahap I Tahun 2023 dan Tahap II Tahun 2024.
Sentimen Positif tapi Investor Harus Cermat
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai tambahan kredit investasi Rp 4 triliun dari BCA menjadi sentimen positif bagi MORA. Hal ini karena memberikan ruang bagi perseroan untuk mempercepat ekspansi jaringan.
“Menurut saya tambahan kredit investasi Rp 4 triliun dari BCA cukup positif bagi MORA karena memberikan ruang untuk mempercepat ekspansi jaringan homepass, memperluas coverage, dan meningkatkan basis pelanggan,” ujar Elandry.
Menurutnya, apabila ekspansi jaringan tersebut mampu diikuti dengan kenaikan jumlah pelanggan dan utilisasi jaringan, dalam jangka menengah hal tersebut berpotensi memperkuat recurring revenue dan meningkatkan skala bisnis MORA.
Dari sisi konsumen, ekspansi tersebut juga dinilai berpotensi memberikan dampak positif karena kompetisi di pasar fixed broadband semakin kuat. “Pilihan layanan, coverage, dan kualitas jaringan berpotensi membaik,” katanya.
Sementara dari perspektif investor, Elandry melihat sentimen terhadap aksi korporasi tersebut cenderung positif. Pasalnya, pendanaan dari BCA menunjukkan adanya dukungan perbankan terhadap ekspansi MORA sekaligus memperbesar peluang pertumbuhan perusahaan ke depan.
Namun, ia mengingatkan investor tetap perlu memperhatikan konsekuensi dari penambahan utang. “Investor tetap perlu mencermati kenaikan leverage, beban bunga, serta kecepatan monetisasi jaringan baru,” ujarnya.
Menurut Elandry, ukuran keberhasilan ekspansi MORA tidak cukup hanya dilihat dari pertumbuhan jumlah homepass. Investor juga perlu memperhatikan take-up rate, pertumbuhan pelanggan, average revenue per user (ARPU), serta kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas.
“Jadi yang paling penting bukan hanya pertumbuhan jumlah homepass, tetapi take-up rate, pertumbuhan pelanggan, ARPU, dan kemampuan menghasilkan cash flow,” katanya.
Jika ekspansi berjalan efektif dan pertumbuhan pelanggan mampu mengimbangi kenaikan utang, Elandry menilai langkah tersebut dapat menjadi katalis positif bagi persepsi pasar terhadap saham MORA.
“Sebaliknya, ekspansi yang terlalu agresif dengan monetisasi jaringan yang berjalan lambat dapat meningkatkan tekanan terhadap margin dan neraca Perusahaan,” katanya.
Senada dengan Elandry, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama menilai penambahan fasilitas kredit investasi MORA berpotensi memberikan dampak positif terhadap prospek bisnis dalam jangka menengah hingga panjang.
“Ini terutama karena pendanaan tersebut dapat mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan dan memperluas cakupan layanan broadband,” ujar Nafan.
Dari sisi bisnis, peningkatan jumlah homepass berpeluang memperbesar basis pelanggan dan meningkatkan utilisasi jaringan. Hal ini pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan pendapatan berulang apabila tingkat konversi homepass menjadi pelanggan dapat dijaga dengan baik.
Namun, Nafan menekankan ekspansi agresif perlu diimbangi dengan pengelolaan leverage dan arus kas yang prudent. Pasalnya, penambahan utang akan meningkatkan beban finansial perusahaan.
“Dampak akhirnya terhadap MORA akan sangat bergantung pada efektivitas perseroan dalam mengonversi tambahan homepass menjadi pelanggan produktif dan menghasilkan return yang lebih tinggi daripada biaya pendanaannya,” ujar Nafan.




