4 faktor utama yang bikin IHSG sering tertekan setiap akhir tahun

Hikma Lia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kerap menghadapi tekanan menjelang akhir tahun. Kondisi ini bukan terjadi secara kebetulan karena ada sejumlah faktor yang memengaruhi keputusan investor untuk membeli atau menjual saham. Lantas, apa saja faktor utama yang bikin IHSG sering tertekan setiap akhir tahun?

Advertisements

Pergerakan IHSG pada periode ini biasanya dipengaruhi kombinasi sentimen dari dalam dan luar negeri. Mulai dari aksi ambil untung, arus dana asing, kebijakan bank sentral Amerika Serikat, sampai pergerakan nilai tukar rupiah bisa ikut menentukan arah pasar saham. Buat kamu yang sedang memantau IHSG, memahami faktor-faktor ini penting agar gak hanya melihat penurunan indeks sebagai angka semata.

1. Aksi ambil untung dan risk-off investor

Advertisements

Salah satu penyebab IHSG tertekan menjelang akhir tahun adalah aksi ambil untung atau profit taking. Setelah harga saham mengalami kenaikan sepanjang tahun, sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan dengan menjual saham yang dimiliki.

Situasi ini dapat membuat tekanan jual meningkat, terutama pada saham-saham dengan kenaikan harga yang cukup tinggi. Ketika banyak investor melakukan hal serupa dalam waktu berdekatan, IHSG bisa ikut terkoreksi karena sejumlah saham berkapitalisasi besar mengalami penurunan.

Selain itu, investor biasanya menjadi lebih berhati-hati ketika memasuki penghujung tahun. Kondisi risk-off, yaitu kecenderungan investor mengurangi aset berisiko dan memilih instrumen yang dianggap lebih aman, dapat membuat minat terhadap saham menurun.

2. Aksi jual investor asing akibat rebalancing indeks

Pergerakan IHSG juga gak lepas dari aktivitas investor asing. Menjelang akhir tahun, pengelola dana global dapat melakukan rebalancing indeks dengan menyesuaikan komposisi portofolio berdasarkan perubahan bobot saham, kinerja, maupun strategi investasi.

Proses tersebut dapat mendorong aksi jual pada saham-saham tertentu. Ketika terjadi arus dana keluar atau capital outflow dalam jumlah besar, tekanan terhadap pasar saham domestik bisa meningkat.

Dampaknya akan lebih terasa jika saham yang dijual investor asing memiliki kapitalisasi pasar besar. Pasalnya, pergerakan saham-saham tersebut mempunyai pengaruh cukup signifikan terhadap perhitungan IHSG.

3. Ketidakpastian kebijakan moneter global

Sentimen dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve atau The Fed, juga menjadi perhatian investor. Keputusan mengenai suku bunga dapat memengaruhi pergerakan dana global karena investor akan mempertimbangkan tingkat keuntungan dan risiko di berbagai negara.

Jika pasar memperkirakan suku bunga Amerika Serikat tetap tinggi lebih lama, aset di negara berkembang seperti Indonesia bisa menghadapi tekanan. Investor dapat memilih menempatkan dananya pada aset yang dianggap lebih menarik atau relatif aman.

Sebaliknya, ekspektasi penurunan suku bunga dapat memberikan sentimen positif bagi pasar saham. Karena itu, setiap pernyataan dan keputusan The Fed sering menjadi perhatian pasar, termasuk menjelang akhir tahun.

4. Fluktuasi nilai tukar rupiah dan beban emiten

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga dapat memengaruhi pergerakan IHSG. Ketika rupiah melemah cukup signifikan, investor biasanya menjadi lebih waspada terhadap dampaknya terhadap kinerja perusahaan dan stabilitas pasar keuangan.

Bagi emiten yang memiliki kewajiban atau kebutuhan bahan baku dalam dolar AS, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya. Jika pendapatan perusahaan tidak mampu mengimbangi kenaikan biaya tersebut, margin keuntungan bisa ikut tertekan.

Kondisi ini kemudian dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap kinerja emiten. Jika prospek laba dianggap menurun, saham perusahaan berpotensi mengalami tekanan dan akhirnya ikut memberikan pengaruh terhadap IHSG.

Jadi, faktor utama yang bikin IHSG sering tertekan setiap akhir tahun gak hanya berasal dari satu penyebab. Aksi ambil untung, capital outflow akibat rebalancing indeks, ketidakpastian kebijakan The Fed, serta fluktuasi rupiah dapat terjadi bersamaan dan memengaruhi sentimen investor.

Meski begitu, tekanan pada akhir tahun tidak selalu berarti pasar saham akan terus melemah. Buat kamu yang mengikuti IHSG, penting untuk melihat berbagai faktor tersebut secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.

Kapitalisasi Pasar BEI Naik Jadi Rp11.243 T meski IHSG Sepekan Turun OJK Sebut IHSG Mulai Pulih, Dana Asing Masuk Rp1,62 Triliun IHSG Tunjukkan Pemulihan, Modal Asing Mulai Masuk?

Advertisements

Also Read

Tags