Mata uang rupiah mengawali perdagangan menuju akhir pekan ini dengan pergerakan yang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari Kamis (10/9).
Merujuk pemberitaan Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.505 per dolar AS menguat 0,03% atau 6 poin. Pantauan Katadata hingga pukul 09.08 rupiah bergerak berbalik melemah berada di level Rp 17.512 per dolar AS turun 0,01% atau 1 poin.
Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup di level Rp 17.511 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah menguat 0,69% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.632 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih berpotensi menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Namun, penguatan rupiah diperkirakan terbatas karena investor cenderung wait and see sembari menunggu sejumlah data ekonomi penting.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan pelaku pasar akan mencermati data penjualan ritel Indonesia periode Juli serta data inflasi produsen atau Producer Price Index (PPI) AS.
“Rupiah masih berpotensi menguat terhadap dolar AS, namun penguatan diperkirakan terbatas, dengan investor wait and see menantikan data penjualan ritel Juli Indonesia dan data inflasi produsen AS,” kata Lukman.
Berdasarkan proyeksinya, rupiah hari ini akan bergerak pada rentang Rp 17.450-Rp 17.600 per dolar AS. Data PPI Agustus AS dijadwalkan dirilis Kamis waktu setempat, disusul data inflasi konsumen (CPI) pada Jumat. Kedua data tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting pasar menjelang pertemuan The Fed pada 15-16 September 2026.
Ekspektasi terhadap kebijakan The Fed saat ini masih sensitif terhadap perkembangan inflasi. Pasar bahkan memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September sekitar 60%, sehingga data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi kembali memperkuat dolar AS.




