BANYU POS JAKARTA. Di tengah gejolak pasar keuangan yang terjadi sepanjang tahun 2026, investor pun terus memutar otak dalam menentukan strategi investasi. Pertimbangan terhadap risiko dan likuiditas semakin mendapat perhatian, sementara minat terhadap aset berisiko tetap terlihat.
Di tengah kondisi tersebut, PT Sucorinvest Asset Management (Sucor AM) tetap raih dana kelolan yang positif. Di mana, Sucor AM mencatatkan dana kelolaan reksadana sebesar Rp 46,5 triliun dengan jumlah investor aktif lebih dari 900.000 Single Investor Identification (SID) hingga 10 September 2026.
Capaian tersebut menempatkan Sucor AM dalam Top 10 Manajer Investasi di Indonesia, sekaligus mempertahankan posisi 1 di industri reksadana berbasis syariah secara Asset Under Management (AUM).
IHSG Berpotensi Menguat di Rabu (9/9), Cek 6 Saham Pilihan BNI Sekuritas
Direktur Investasi Sucor AM Dimas Yusuf mengatakan, pergerakan dana kelolaan pada masing-masing kelas aset turut memberikan gambaran mengenai bagaimana investor merespons perubahan kondisi pasar keuangan saat ini.
“Di tengah kondisi pasar yang dinamis, kami melihat investor semakin selektif dalam menentukan alokasi investasinya. Perhatian terhadap instrumen dengan profil risiko yang lebih konservatif masih terlihat, tercermin dari AUM reksadana pasar uang Sucor AM yang mencapai Rp 22,48 triliun hingga 9 September 2026 tumbuh 23,3% secara tahun berjalan,” ujar Dimas dalam rilis yang diterima KONTAN, Rabu (16/9/2026).
Di sisi lain, minat terhadap pasar saham tetap terlihat pada investor dengan profil agresif dan horizon investasi jangka panjang. Buktinya, AUM reksadana saham Sucor AM tetap tumbuh. Hingga 9 September 2026, AUM reksadana saham Sucor AM tercatat sebesar Rp 6,28 triliun atau tumbuh 6,2% secara tahunan berjalan.
Pergerakan pasar sepanjang tahun 2026 turut menjadi pertimbangan Sucor AM dalam membentuk strategi hingga akhir 2026. Pada reksadana saham, Sucor AM akan mengutamakan emiten dengan fundamental yang baik, valuasi dan dividend yield menarik, serta prospek pertumbuhan bisnis yang terjaga.
Sementara pada instrumen obligasi, fokus diarahkan pada analisis kualitas kredit, profil risiko yang terukur, serta likuiditas yang memadai, disertai penyesuaian durasi produk reksadana pendapatan tetap secara kondisional dan gradual mengikuti perkembangan perekonomian makro.
Pendekatan tersebut juga akan berjalan beriringan dengan penguatan kolaborasi bersama mitra distribusi, perluasan edukasi investor, serta komunikasi mengenai perkembangan pasar dan strategi investasi secara berkala.
Pendanaan Multifinance dari Perbankan Mencapai Rp 289,69 Triliun per Juli 2026
Seiring kebutuhan investor yang semakin beragam, Sucor AM juga akan terus mengembangkan pilihan produk dengan mempertimbangkan profil risiko dan horizon investasi investor.
Sucor AM tetap melanjutkan disiplin manajemen risiko, serta penerapan strategi sesuai dengan karakteristik masing-masing kelas aset. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Sucor AM dalam menjaga kepercayaan investor dan menjawab kebutuhan investasi yang terus berkembang.
“Setiap kelas aset memiliki dinamika dan karakteristik risiko yang berbeda. Karena itu, selektivitas menjadi hal penting, baik dalam menentukan alokasi aset maupun memilih instrumen yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasi,” pungkas Dimas.




