BANYU POS JAKARTA – PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga kinerja bisnisnya dengan berhasil mengantongi nilai kontrak baru sebesar Rp 8,05 triliun hingga periode Juli 2026. Perolehan kontrak baru ini menjadi salah satu indikator penting bagi keberlangsungan usaha perseroan di tengah dinamika industri konstruksi nasional yang terus berkembang pesat serta berbagai tantangan finansial yang tengah dihadapi oleh badan usaha milik negara ini.
Corporate Secretary PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), Ngatemin yang akrab disapa Emin, menjelaskan bahwa pencapaian positif dalam perolehan kontrak baru ini didorong secara signifikan oleh realisasi berbagai proyek strategis yang tersebar di beberapa lini bisnis utama perusahaan. Keberhasilan ini mencerminkan portofolio bisnis WIKA yang terdiversifikasi dengan baik, di mana kontribusi terbesar disumbang oleh sektor infrastruktur dan bangunan gedung, disusul oleh sektor industri penunjang konstruksi, serta sektor energi dan industrial plant atau Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC).
Rincian Distribusi Nilai Kontrak Baru Berdasarkan Sektor
Keberhasilan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dalam mengamankan kontrak baru senilai Rp 8,05 triliun per Juli 2026 ditopang oleh kontribusi dari berbagai sektor usaha yang dikelola oleh perseroan. Emin memaparkan rincian kontribusi dari masing-masing sektor tersebut secara mendalam untuk memberikan gambaran yang transparan mengenai struktur pendapatan kontrak baru perusahaan.
Sektor pertama yang menjadi kontributor utama dalam perolehan kontrak baru ini adalah sektor infrastruktur dan bangunan gedung. Sektor ini berhasil menyumbang kontrak baru senilai Rp 2,94 triliun. Angka tersebut setara dengan porsi sekitar 36,52% dari total keseluruhan nilai kontrak baru yang diperoleh oleh perseroan hingga Juli 2026. Tingginya kontribusi dari sektor ini membuktikan bahwa WIKA masih memegang peran krusial dalam pembangunan proyek-proyek fisik skala besar di tanah air, baik yang berasal dari proyek pemerintah maupun swasta.
Sektor kedua yang memberikan sumbangsih terbesar berikutnya adalah sektor industri penunjang konstruksi. Sektor ini berhasil mencatatkan nilai kontrak baru sebesar Rp 2,62 triliun, yang merepresentasikan sekitar 32,56% dari total perolehan kontrak baru perseroan. Keberadaan sektor industri penunjang ini sangat vital bagi ekosistem bisnis WIKA, karena berfungsi menyuplai berbagai kebutuhan material dan komponen konstruksi berkualitas tinggi guna mendukung kelancaran proyek-proyek utama yang sedang digarap.
Selanjutnya, sektor energi dan industrial plant (EPCC) juga memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap portofolio kontrak baru perusahaan. Sektor ini berhasil mengamankan kontrak baru dengan nilai mencapai Rp 2,11 triliun, atau menyumbang sekitar 26,21% dari total kontrak baru. Keterlibatan aktif WIKA dalam proyek-proyek EPCC menunjukkan kapabilitas teknis perseroan yang mumpuni dalam menangani proyek-proyek industri dan energi yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi serta membutuhkan integrasi teknologi modern.
Di samping tiga sektor utama di atas, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) juga mendapatkan kontribusi dari sektor properti dan sektor investasi, meskipun dengan persentase yang jauh lebih kecil. Sektor properti tercatat memberikan kontribusi kontrak baru sebesar Rp 234,06 miliar atau setara dengan 2,91% dari total kontrak baru yang diperoleh. Sementara itu, sektor investasi menyumbangkan nilai kontrak baru sebesar Rp 144,81 miliar, yang merepresentasikan porsi terkecil yaitu sekitar 1,8% dari keseluruhan perolehan kontrak baru per Juli 2026.
Fokus Utama pada Restrukturisasi Keuangan Komprehensif
Selain berfokus pada upaya penambahan kontrak baru guna menjaga roda operasional tetap berputar, manajemen PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) saat ini juga tengah mengarahkan perhatian penuh pada langkah-langkah strategis untuk memperbaiki kondisi keuangan perusahaan. Emin menegaskan bahwa fokus utama WIKA saat ini adalah melaksanakan program restrukturisasi keuangan yang komprehensif bersama dengan seluruh kreditur perusahaan.
Proses restrukturisasi komprehensif ini ditujukan kepada para kreditur dari berbagai instrumen keuangan yang dimiliki oleh perseroan, yang mencakup lembaga perbankan, pemegang obligasi, hingga pemegang sukuk. Langkah restrukturisasi ini menjadi sangat mendesak untuk dilakukan mengingat sebagian besar dari akumulasi utang yang dimiliki oleh perseroan saat ini digunakan untuk mendanai berbagai proyek penugasan investasi jangka panjang. Proyek-proyek investasi jangka panjang tersebut membutuhkan alokasi modal yang sangat besar dengan periode pengembalian investasi yang relatif lama, sehingga memberikan tekanan yang cukup berat pada likuiditas dan arus kas jangka pendek perseroan.
Melalui proses restrukturisasi ini, manajemen WIKA menaruh harapan besar agar dapat segera mencapai kesepakatan formal yang saling menguntungkan dengan para kreditur. Dengan tercapainya kesepakatan restrukturisasi tersebut, perseroan diharapkan dapat mengurangi beban keuangan secara signifikan, menekan potensi kerugian finansial yang lebih besar, serta yang paling utama adalah menjaga kelangsungan usaha dan stabilitas operasional perseroan agar tetap berjalan dengan baik di masa-masa mendatang.
Strategi Divestasi Aset untuk Kembali ke Bisnis Inti
Sebagai bagian dari langkah strategis yang berjalan beriringan dengan proses restrukturisasi utang, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) juga terus mengupayakan skema divestasi atas aset-aset investasi yang dimilikinya saat ini. Langkah divestasi atau pelepasan kepemilikan aset ini dirancang sebagai solusi taktis untuk mempercepat pemulihan kesehatan keuangan perusahaan secara menyeluruh.
Kebijakan divestasi aset investasi ini sejalan dengan arahan yang diberikan oleh pemegang saham mayoritas perseroan, yaitu Pemerintah Republik Indonesia, yang menginstruksikan agar WIKA kembali berfokus penuh pada bisnis inti (core business) mereka di bidang jasa konstruksi. Dengan kembali ke bisnis inti, perseroan dapat meminimalkan risiko-risiko finansial yang sering kali melekat pada proyek-proyek investasi jangka panjang, sekaligus mengoptimalkan keahlian utama mereka sebagai kontraktor infrastruktur yang andal dan efisien.
Emin mengungkapkan bahwa dana segar yang diperoleh dari hasil pelaksanaan divestasi aset-aset investasi tersebut nantinya akan dialokasikan secara khusus oleh perseroan untuk menurunkan jumlah pokok utang kepada para kreditur. Dengan berkurangnya saldo pokok utang, beban bunga yang harus ditanggung oleh WIKA juga akan menurun secara bertahap. Hal ini pada akhirnya akan memberikan ruang likuiditas yang lebih longgar bagi perusahaan, memperkuat struktur permodalan, serta mempercepat proses pemulihan kinerja keuangan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) secara berkelanjutan.




