The Fed berpotensi kerek suku bunga, pasar keuangan Indonesia terancam

Hikma Lia

BANYU POS  JAKARTA. Pasar keuangan Indonesia berpotensi menghadapi tekanan setelah keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Apalagi  jika bank sentral Amerika Serikat (AS) itu kembali menaikkan suku bunga acuannya.

Advertisements

Keputusan tersebut berpotensi memengaruhi arah dana asing di pasar domestik. Ini seiring meningkatnya daya tarik aset AS ketika yield US Treasury (UST) yang telah menembus 5% dan dolar AS menguat.

Menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026, IHSG menutup perdagangan Rabu (16/9/2026) melemah 0,38% ke level 6.436,85, disertai net sell investor asing Rp 624,72 miliar.

Advertisements

Harga Minyak Turun Setelah Arab Saudi Buka Jalur Ekspor Alternatif

Tekanan juga terlihat pada rupiah. Pada Rabu (16/9), rupiah di pasar spot melemah tipis 0,01% menjadi Rp 17.696 per dolar AS. Ini sekaligus mencatat pelemahan lima hari perdagangan berturut-turut.

Di pasar obligasi, mengacu data Bloomberg pada Rabu (16/9/2026) pukul 16:15 WIB, yield SBN tenor 10 tahun turun 1,3 bps menjadi 7,14%. Sementara, yield SBN tenor 5 tahun juga ikut turun 2,7 bps menjadi 6,97%. 

Co-Founder Pasardana & Pengamat Pasar Modal Hans Kwee mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed berpotensi memicu volatilitas jangka pendek di pasar keuangan Indonesia, meski dampaknya masih terukur.

Hans bilang, kenaikan yield UST hingga mendekati 5% dapat mempersempit selisih imbal hasil dengan SBN Indonesia. Menurutnya, ini berpotensi menekan harga obligasi domestik dalam jangka pendek, meski investor domestik tetap menjadi penopang.

“Investor asing akan berbondong-bondong memburu UST tenor pendek hingga menengah yang memberikan yield riil menarik di tingkat risiko sangat rendah, serta instrumen Money Market Funds (MMF) di AS,” katanya kepada Kontan, Rabu (16/9/2026). 

Menurut Hans, kondisi tersebut berpotensi mendorong rebalancing portofolio asing dari negara berkembang kembali ke AS. Meski begitu, dia memperkirakan aliran keluar modal dari Indonesia lebih bersifat sementara dan taktis.

Dia bilang pada pasar valuta asing, penguatan dolar AS dan kenaikan US Dollar Index (DXY) dapat menambah tekanan terhadap rupiah. Namun, Bank Indonesia dinilai memiliki ruang intervensi melalui triple intervention.

Emiten Komponen Otomotif Siap Ngegas di Tengah Penetrasi Kendaraan Listrik

Hans menyebut cadangan devisa Indonesia yang cukup kuat juga menjadi penyangga bagi rupiah menghadapi volatilitas ekstrem. Karena itu, kata dia, tekanan nilai tukar tidak serta-merta mencerminkan perubahan fundamental ekonomi domestik.

Untuk pasar saham, Hans menyebut, tekanan terhadap IHSG lebih banyak dipengaruhi sentimen global, termasuk lonjakan harga minyak bumi dan inflasi, dibandingkan dampak langsung kebijakan The Fed.

“Efisiensi beban operasional serta kuatnya daya beli domestik akan menjadi penahan earnings loss pada emiten-emiten berfundamental kuat, sehingga tekanan eksternal tidak seluruhnya diteruskan ke kinerja emiten,” tuturnya. 

Namun, apabila kenaikan suku bunga AS telah sepenuhnya diantisipasi pasar, tekanan jual asing berpotensi lebih terbatas. Hans menyebut investor dapat melakukan konsolidasi taktis ketika ketidakpastian FOMC mulai mereda.

Hans menambahkan, kondisi makroekonomi Indonesia seperti inflasi yang relatif terkendali, pertumbuhan ekonomi stabil di atas 5%, serta neraca perdagangan tetap menjadi penopang ketahanan eksternal.

Harga Saham Melesat 551%, Begini Penjelasan Manajemen NexAI Digital (MGLV)

Di sisi lain, tekanan pada saham berpotensi membuka ruang bagi investor untuk mencari valuasi yang lebih menarik. Hans memperkirakan arus dana asing dapat kembali ketika ketidakpastian mereda dan suku bunga AS mencapai puncaknya.

“Ada peluang bagi investor untuk bargain hunting. DI mana, tekanan jual di pasar saham  akan membawa valuasi emiten-emiten blue chip Indonesia ke level yang sangat murah,” ucapnya. 

Advertisements

Also Read

Tags