McKinsey sebut AI bisa paksa 11 juta pekerja AS berganti profesi

Hikma Lia

Akal imitasi (AI) berpotensi mengubah pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) dalam satu dekade mendatang. Studi dari perusahaan konsultan McKinsey & Co memperkirakan sekitar 11 juta pekerja AS atau 7% dari angkatan kerja saat ini, mungkin perlu berganti profesi pada 2035 akibat perubahan kebutuhan tenaga kerja yang dipicu AI.

Advertisements

Tantangan yang muncul bukan hanya potensi hilangnya lapangan kerja akibat otomatisasi, tetapi juga bagaimana membantu jutaan pekerja beralih ke pekerjaan baru.

Mengutip Bloomberg, laporan McKinsey yang dirilis pada Selasa (29/9) memperkirakan jumlah pekerja AS yang berganti profesi setiap tahun dapat meningkat hingga tiga kali lipat dalam satu dekade mendatang. Secara historis, jumlah pekerja yang berganti profesi setiap tahun berkisar 215.000 orang.

Advertisements

Perubahan tersebut diperkirakan tidak mudah bagi para pekerja. Analisis McKinsey menunjukkan enam dari tujuh pekerja yang harus beralih profesi akan menghadapi kebutuhan pelatihan ulang secara ekstensif serta risiko kehilangan pendapatan.

Baca juga:

  • BTN Reskill 700 Pegawai Terdampak Teknologi, Alihkan ke Sales dan Analis Digital
  • Microsoft PHK 4.800 Karyawan, Xbox Paling Terdampak di Tengah Ekspansi AI
  • Induk TikTok Dikabarkan PHK 500 Lebih Karyawan di Malaysia, Beralih ke AI

Para penulis laporan menekankan bahwa pekerja tidak bisa diperlakukan sebagai unit yang dapat saling menggantikan begitu saja.

“Peluang kerja bisa saja melimpah, namun jutaan pekerja tetap menganggur jika posisi-posisi tersebut mensyaratkan keterampilan, kualifikasi, lokasi, atau struktur gaji yang berbeda dibandingkan pekerjaan mereka saat ini,” demikian isi laporan itu.

Pekerja Administrasi hingga Logistik Paling Terdampak

Studi McKinsey mengidentifikasi tiga kelompok pekerjaan yang paling mungkin mengalami peralihan profesi, yakni dukungan kantor dan administrasi, ritel dan penjualan, serta transportasi dan logistik.

Kelompok tersebut mencakup berbagai pekerjaan, seperti staf layanan pelanggan, kasir, dan pekerja gudang.

Banyak pekerja dalam kelompok ini berpenghasilan rendah. Menurut proyeksi McKinsey, pekerja berpenghasilan rendah memiliki kemungkinan hampir delapan kali lebih besar untuk harus berganti pekerjaan dibandingkan pekerja berpenghasilan lebih tinggi.

Meski demikian, besarnya perubahan pasar tenaga kerja masih bergantung pada sejumlah faktor yang sulit diprediksi, termasuk kecepatan perusahaan mengadopsi AI dan dampaknya terhadap permintaan tenaga kerja di berbagai industri.

Analisis tersebut juga memperhitungkan tren lain yang memengaruhi pasar tenaga kerja, termasuk penuaan populasi AS.

Dengan mempertimbangkan ketidakpastian tersebut, McKinsey memperkirakan jumlah pekerja yang mungkin perlu beralih profesi berada dalam rentang enam juta hingga 16 juta orang.

Perubahan Pekerjaan Imbas AI Mirip Seperti saat Pandemi Covid-19

Perubahan profesi dalam skala besar bukan hal yang sepenuhnya baru bagi AS. Namun, transformasi pasar tenaga kerja sebelumnya, seperti peralihan dari sektor pertanian, berlangsung jauh lebih bertahap.

Menurut Tanguy Catlin, mitra senior McKinsey Global Institute sekaligus salah satu penulis laporan, laju perubahan pekerjaan yang diproyeksikan kali ini sebanding dengan perubahan yang dialami pekerja AS selama pandemi Covid-19.

“Kita pernah menjalaninya selama dua tahun saat pandemi Covid. Kita perlu berasumsi bahwa kita mampu mempertahankannya selama sekitar 10 tahun,” ujar Catlin.

Namun, ia mengingatkan bahwa proses transisi tersebut belum tentu berjalan mulus. Salah satu ketidakpastian yang belum diperhitungkan dalam laporan adalah kemungkinan permintaan tenaga kerja pada sejumlah jenis pekerjaan turun lebih cepat daripada peningkatan permintaan pada bidang lain.

“Kita tidak tahu apakah proses ini akan berjalan mulus tanpa hambatan,” katanya.

Untuk membantu pekerja menghadapi perubahan tersebut, laporan McKinsey menguraikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan pemerintah federal, negara bagian, dan pemerintah daerah.

Langkah-langkah itu mencakup penyediaan data pasar tenaga kerja yang lebih terperinci dan terkini, serta pendanaan untuk program pelatihan ulang bagi pekerja yang perlu beralih profesi.

Catlin menilai sistem pendidikan selama ini lebih banyak berfokus pada kaum muda. Padahal, perubahan kebutuhan tenaga kerja juga menuntut peningkatan keterampilan bagi pekerja yang sudah berada di pasar kerja.

“Namun, apa yang bisa dilakukan untuk terus meningkatkan keterampilan tenaga kerja yang ada saat ini—mereka yang perlu beralih profesi? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ingin kami angkat untuk menjadi bahan diskusi publik,” ujar Catlin.

Menurut laporan tersebut, tantangan utama ke depan bukan hanya menciptakan pekerjaan baru, tetapi juga memastikan pekerja memiliki keterampilan, kualifikasi, dan akses yang dibutuhkan untuk mengisi pekerjaan tersebut.

Advertisements

Also Read

Tags