PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) tengah bersiap mengambil langkah strategis yang sangat signifikan dalam menjaga keberlanjutan bisnis dan memperkuat struktur keuangannya. Perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor konstruksi ini memproyeksikan langkah besar berupa divestasi aset dengan nilai total mencapai Rp 5 triliun. Rencana divestasi ini tidak akan dilakukan secara sekaligus, melainkan secara bertahap dalam kurun waktu tiga tahun, terhitung mulai dari tahun 2026 hingga tahun 2028. Langkah ini diambil sebagai bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan untuk memulihkan kesehatan keuangan dan memenuhi kewajiban kepada para pemangku kepentingan.
Restrukturisasi Keuangan sebagai Landasan Utama Divestasi
Keputusan pelepasan aset yang bernilai fantastis ini bukanlah sebuah langkah yang berdiri sendiri. Direktur Keuangan PT Wijaya Karya Tbk, Mulyadi, menjelaskan bahwa program pelepasan aset ini merupakan bagian integral dari skema restrukturisasi keuangan yang sedang dijalankan oleh WIKA. Skema restrukturisasi tersebut telah diusulkan secara resmi kepada pihak perbankan selaku kreditur serta kepada para pemegang obligasi atau surat utang perusahaan. Dengan mengajukan rencana ini, WIKA berupaya memberikan kepastian dan transparansi mengenai komitmen mereka dalam melunasi kewajiban finansialnya secara terukur dan terencana.
Selain melakukan divestasi secara langsung di tingkat induk usaha, WIKA juga merancang strategi penyelesaian kewajiban perbankan melalui optimalisasi di tingkat anak perusahaan. Skema ini melibatkan pelepasan kepemilikan saham atau aset yang dimiliki oleh entitas anak usaha WIKA. Melalui mekanisme ini, anak perusahaan yang bersangkutan akan melakukan proses divestasi terlebih dahulu. Setelah divestasi tersebut berhasil diselesaikan, dana segar yang diperoleh dari hasil penjualan aset akan dikembalikan kepada WIKA selaku perusahaan induk (holding). Pengembalian dana ini dilakukan dalam bentuk pembayaran kembali pinjaman pemegang saham atau yang biasa dikenal dengan istilah shareholder loan.
Setelah dana dari pengembalian shareholder loan tersebut masuk ke kas WIKA sebagai holding, dana tersebut akan segera dialokasikan untuk membayar kewajiban keuangan perusahaan. WIKA akan memprioritaskan dana tersebut untuk pelunasan surat utang (obligasi) yang telah diterbitkan serta penyelesaian utang-utang yang ada di sektor perbankan. Mulyadi menegaskan bahwa saat manajemen mengusulkan program restrukturisasi kepada para kreditur, rencana divestasi ini diposisikan sebagai satu kesatuan solusi finansial yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini disampaikan secara terbuka dalam acara Public Expose WIKA yang berlangsung pada hari Kamis, 1 Oktober 2026.
Fokus Penurunan Beban Utang Skala Besar
Langkah taktis ini juga mendapat penekanan khusus dari jajaran direksi tertinggi perusahaan. Direktur Utama PT Wijaya Karya Tbk, I Ketut Pasek Senjaya Putra, menambahkan bahwa fokus utama dari pelepasan aset-aset berharga ini adalah untuk menyelesaikan kewajiban keuangan atau utang yang berskala besar. Dengan mengurangi porsi utang secara signifikan, WIKA diharapkan dapat menekan beban bunga yang selama ini membebani kinerja laba bersih perusahaan, sekaligus memperbaiki rasio leverage keuangan agar menjadi lebih sehat dan kredibel di mata investor maupun lembaga pemeringkat kredit.
Aset-aset yang masuk dalam daftar objek divestasi ini mencakup berbagai portofolio bisnis strategis yang dimiliki oleh grup usaha WIKA. Kepemilikan yang akan dilepas tidak hanya terbatas pada porsi mayoritas, melainkan juga mencakup porsi kepemilikan minoritas pada sejumlah proyek atau entitas bisnis. Beberapa sektor utama yang menjadi sasaran pelepasan aset ini meliputi kepemilikan di sejumlah ruas jalan tol yang strategis, bisnis jasa pengelolaan air bersih, hingga unit bisnis yang bergerak di sektor energi. Keuntungan finansial yang diperoleh dari transaksi divestasi ini sepenuhnya akan dialokasikan untuk melakukan pembayaran pelunasan utang-utang perusahaan yang mendesak.
Rincian Target dan Jadwal Divestasi Aset Tahun 2026
Untuk memberikan gambaran yang lebih detail mengenai peta jalan pelepasan aset ini, Direktur WIKA, Sonny Setyadhy, memaparkan rincian target divestasi yang telah disusun oleh manajemen. Proses divestasi ini akan dimulai dengan fokus yang cukup besar pada tahun pertama pelaksanaan program, yaitu tahun 2026. Pada tahun tersebut, perusahaan menargetkan dapat menyelesaikan pelepasan terhadap empat aset strategis dengan total nilai target perolehan dana mencapai Rp 1,9 triliun.
Keempat aset yang direncanakan untuk didivestasikan pada tahun 2026 tersebut terdiri dari:
Pertama, PT Wika Tirta Jaya Jatiluhur (WTJJ), yang merupakan entitas usaha yang bergerak di bidang penyediaan dan pengelolaan air minum bersih.
Kedua, PT Citra Marga Lintas Jabar (CMLJ), yang mengelola salah satu ruas jalan tol penting.
Ketiga, proyek atau aset Wika Laswi yang memiliki potensi nilai tambah tersendiri.
Keempat, kepemilikan saham pada proyek infrastruktur Tol Patimban, yang merupakan salah satu jalur logistik krusial di wilayah Jawa Barat.
Keberhasilan pelepasan keempat aset ini pada tahun 2026 akan menjadi fondasi yang sangat penting bagi keberhasilan fase restrukturisasi keuangan WIKA secara keseluruhan di tahun-tahun berikutnya.
Rencana Pelepasan Aset pada Tahun 2027
Setelah melewati fase pertama pada tahun 2026, WIKA akan melanjutkan program divestasi ini ke fase berikutnya pada tahun 2027. Pada tahun kedua ini, manajemen merencanakan untuk melepas tiga aset tambahan dengan total target perolehan dana yang lebih moderat, yaitu sebesar Rp 276 miliar. Pengurangan nilai target ini disesuaikan dengan skala aset yang dilepas serta kebutuhan likuiditas perusahaan pada periode tersebut.
Adapun rincian dari ketiga aset yang akan dilepas pada tahun 2027 meliputi:
Pertama, aset yang berada di sektor energi hidro (hydro power), yang mencerminkan portofolio energi terbarukan milik perusahaan.
Kedua, kepemilikan pada anak perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan, yaitu WR Hotel Khas.
Ketiga, pelepasan sebagian kecil aset pada PT Wijaya Karya Beton Tbk (Witon), di mana nilai pelepasan aset khusus untuk entitas ini ditargetkan hanya sebesar Rp 5 miliar.
Melalui pembagian tahapan yang sistematis ini, manajemen WIKA berharap proses pemasaran aset kepada calon investor dapat berjalan lebih optimal tanpa mengganggu operasional harian anak-anak perusahaan tersebut.
Implikasi Strategis bagi Masa Depan Perusahaan
Melalui program divestasi bertahap senilai Rp 5 triliun ini, PT Wijaya Karya Tbk menunjukkan komitmen yang kuat untuk melakukan transformasi keuangan yang menyeluruh. Keputusan untuk melepas aset-aset di sektor jalan tol, pengelolaan air, perhotelan, hingga energi ini diambil berdasarkan analisis mendalam mengenai portofolio bisnis yang paling memberikan nilai likuiditas cepat guna mengurangi liabilitas jangka pendek dan jangka panjang.
Dengan berkurangnya beban utang melalui skema shareholder loan dan pembayaran langsung ke perbankan serta pemegang obligasi, struktur modal WIKA diproyeksikan akan menjadi jauh lebih fleksibel untuk mendukung proyek-proyek infrastruktur strategis nasional di masa depan. Manajemen optimis bahwa keterbukaan informasi dan konsistensi dalam mengeksekusi rencana divestasi ini akan meningkatkan kembali kepercayaan para kreditur, mitra bisnis, dan pemegang saham publik terhadap prospek bisnis jangka panjang grup WIKA.




