Grup Astra dikenal sebagai gurita konglomerasi swasta dengan tujuh tentakel bisnis. Perusahaan raksasa itu tidak lagi sekadar mengandalkan segmen otomotif yang selama ini menjadi penopang utama bisnisnya, namun juga menjalar ke jasa keuangan, alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, agribisnis, infrastruktur dan logistik, teknologi informasi, serta properti.
Akan tetapi, sejak pertengahan tahun ini, Astra mencoba untuk meniti jalan baru. Perusahaan induk PT Astra International Tbk (ASII) mengumumkan telah mengerucutkan fokus bisnisnya ke tiga segmen yang dinilai memberikan kontribusi paling besar terhadap brankas perusahaan. Ketiga segmen bisnis tersebut yaitu otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan & alat berat.
Menjelang usianya menapak ke tujuh dekade, Astra menetapkan tiga lini bisnis itu sebagai core businesses. Sementara segmen bisnis di luar tiga sektor tersebut ditempatkan dalam kelompok wider businesses yang mencakup agribisnis, infrastruktur, teknologi informasi, properti, Astra Digital, hingga layanan kesehatan.
Perubahan tersebut bukan sekadar penyederhanaan nama portofolio. Perusahaan menyebut pemilihan tiga bisnis inti itu karena mereka menyumbang sekitar 90% laba konsolidasi Grup Astra per semester pertama 2026. Ke depan, harapan dan masa depan Astra akan bertumpu pada ketiga bisnis itu. Sebagian besar belanja modal atau capital expenditure (capex) pun mulai dialihkan ke tiga bisnis ini.
“Kami akan terus membangun pada tiga bidang bisnis ini, di mana kami masih melihat banyak peluang pertumbuhan di depan,” kata Head of Corporate Investor Relations Astra International, Tira Ardianti, kepada awak media, pekan lalu.
Refocusing bisnis itu sekaligus menunjukkan arah strategi Astra ke depan. Lantas, apakah strategi tersebut cukup efektif untuk menopang kekuatan Astra dalam jangka panjang?
Membaca Kemampuan 3 Mesin Penopang Astra
Jika dilihat kontribusinya terhadap laba ASII, posisi tiga bisnis inti Astra itu memang sangat dominan. Pada semester pertama 2026, bisnis otomotif dan mobilitas serta jasa keuangan masing-masing mencatat pertumbuhan laba bersih 9% dan 6% secara tahunan. Sebaliknya, laba dari segmen bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi turun 46%.
Kendati kinerja bisnis alat berat dan pertambangan tertekan, secara keseluruhan tiga lini tersebut tetap menjadi sumber utama laba Astra. Dominasi itu juga terlihat jika struktur pendapatan Astra ditarik lebih panjang.
Pada 2020 misalnya, bisnis otomotif dan mobilitas mencatat pendapatan Rp 66,72 triliun. Sementara itu, alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi membukukan Rp 60,15 triliun. Adapun segmen pendapatan dari segmen jasa keuangan sebesar Rp 20,04 triliun.
Jika digabung, ketiga lini itu menghasilkan pendapatan sekitar Rp 146,91 triliun atau 84% dari total pendapatan tujuh lini bisnis Astra dalam data tersebut. Sementara empat lini lainnya, yakni agribisnis, infrastruktur, teknologi informasi, dan properti menyumbang sekitar 16%.
Porsi tersebut semakin besar tatkala siklus komoditas mengangkat bisnis alat berat dan pertambangan. Pada 2022, pendapatan tiga bisnis utama Astra mencapai sekitar Rp 269,07 triliun atau hampir 90% dari total pendapatan di tujuh lini bisnisnya. Porsinya kemudian bertahan di kisaran 90% pada 2023 hingga 2025.
Tahun lalu, pendapatan otomotif dan mobilitas mencapai Rp 124,40 triliun. Bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi menyumbang Rp 130,84 triliun. Sementara jasa keuangan mencatat Rp 33,28 triliun. Dengan begitu, ketiga bisnis tersebut menghasilkan total pendapatan Rp 288,52 triliun atau sekitar 89% dari total pendapatan tujuh lini bisnis Astra.
Artinya, meski Astra terus memperluas portofolionya ke berbagai sektor, mesin utama pendapatan grup selama lima tahun terakhir tetap berada pada tiga lini yang kini ditetapkan sebagai core businesses-nya.
Kinerja lengkap ketujuh bisnis Grup Astra dapat dilihat dari infografik berikut:
Kontribusi 7 Lini Bisnis Astra. (Sumber: Laporan Keuangan Grup Astra, penyajian data diolah menggunakan AI)
Konsentrasi bisnis tersebut juga tercermin dari arah belanja modal Astra. Hingga semester pertama 2026, ASII telah merealisasikan capex sebesar Rp 16,9 triliun. Jumlah tersebut setara 47,47% dari total rencana capex perseroan sepanjang 2026 sebesar Rp 35,6 triliun.
Sebagian capex tersebut diarahkan untuk memperkuat bisnis anak usaha Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR), yang menopang bisnis di segmen solusi pertambangan dan alat berat.
Tira mengatakan, capex yang telah digunakan pada semester pertama 2026 antara lain untuk mengakuisisi tambang emas PT Arafura Surya Alam lewat UNTR. “Sisanya merupakan capex rutin yang digunakan untuk pembelian alat berat yang mendukung bisnis kontraktor untuk UNTR,” ujarnya.
Menurut dia, sisa capex tahun ini akan dialokasikan untuk belanja yang dapat mendukung pertumbuhan bisnis. Astra juga akan melakukan evaluasi secara berkala untuk memastikan alokasi modal digunakan secara produktif. Dengan begitu, arah capex Astra mulai menunjukkan bagaimana perseroan menerjemahkan strategi tiga bisnis inti ke dalam keputusan investasi.
Bisnis otomotif dan mobilitas Astra dijalankan dengan membangun ekosistem yang mencakup produksi komponen, distribusi, ritel, layanan purnajual hingga pembiayaan kendaraan. Di dalamnya terdapat berbagai bisnis dan merek kendaraan ternama, antara lain Toyota, Daihatsu, Isuzu, UD Astra Motor Indonesia, BMW Astra, PT Astra Honda Motor, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), AstraWorld, PT Serasi Autoraya (SERA), PT Mobilitas Digital Indonesia (MODA), Lexus Sales Operation (LSO) dan OLXmobbi.
Salah satu gambaran ekosistem tersebut terlihat dari bisnis Astra Otoparts. Direktur PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) Shopie Handili mengatakan, Astra Otoparts menjalankan dua kelompok usaha, yakni manufaktur dan perdagangan.
Di sisi manufaktur, Astra Otoparts memproduksi berbagai komponen untuk pasar original equipment manufacturer (OEM) maupun replacement market (REM). Perseroan juga memiliki kemitraan dengan produsen otomotif dan perusahaan teknologi.
Sementara itu, bisnis perdagangan melengkapi rantai tersebut melalui distribusi suku cadang di pasar domestik dan internasional. Jaringan distribusi Astra Otoparts telah menjangkau lebih dari 50 negara, sementara bisnis ritel modern terus dikembangkan melalui berbagai merek konsumen.
Tak hanya itu, di tengah pesatnya pertumbuhan industri kendaraan listrik atau EV di Tanah Air dewasa ini, AUTO juga berusaha menangkap momentum di baliknya. Sophie menuturkan, AUTO melihat perkembangan elektrifikasi saat ini sebagai bagian dari transformasi industri otomotif yang sekaligus membuka peluang baru bagi bisnis komponen. Oleh sebab itu, AUTO terus mengembangkan produk dan kapabilitas yang relevan dengan elektrifikasi.
“Kami terus mengembangkan berbagai produk maupun kapabilitas yang relevan dengan elektrifikasi ini. Di antara komponen-komponen parts yang telah kami kembangkan, baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat, ada beberapa di antaranya parts yang sifatnya bisa digunakan baik oleh kendaraan ICE (bermesin pembakaran internal) maupun kendaraan EV,” kata Sophie dalam acara Media Day Astra di Menara Astra, Jakarta, Rabu (23/9).
Sophie mengatakan, pengembangan produk dan kapabilitas tersebut dilakukan melalui kemampuan riset dan pengembangan (R&D) yang dimiliki perseroan. AUTO juga bekerja sama dengan sejumlah mitra untuk mengembangkan produk yang relevan dengan perkembangan elektrifikasi.
Strategi itu menjadi bagian dari upaya AUTO menjaga ketahanan bisnis di tengah perubahan teknologi pada industri otomotif. “Kami yakin dengan portofolio yang kami resilient dan strategi kami untuk tetap fokus pada bisnis kami. Kami terus memastikan bahwa kami akan terus bertumbuh,” ujar Sophie.
Ekosistem otomotif yang dibangun Astra juga ditopang oleh pembiayaan kendaraan. Pada bisnis ini, Astra memiliki ceruk yang amat beragam mulai dari konsumen dan otomotif, asuransi, pembiayaan alat berat, uang elektronik, modal ventura, pengelolaan dana pensiun, hingga layanan bank digital.
Direktur PT Federal International Finance (FIF), Daniel Hartono mengatakan, bisnis jasa keuangan menjadi salah satu penghubung berbagai aktivitas ekonomi dalam ekosistem Astra. Di FIF, bisnis pembiayaan tidak hanya mengandalkan pertumbuhan kendaraan baru, tetapi juga memanfaatkan ekosistem Astra untuk memperluas hubungan dengan konsumen.
Sementara untuk segmen bisnis solusi pertambangan dan alat berat, Astra tak hanya menjual alat berat. Tetapi juga terlibat langsung dalam aktivitas pertambangan, mulai dari emas hingga nikel.
Di bisnis alat berat, UNTR menjadi distributor tunggal sejumlah merek, termasuk Komatsu, Scania, UD Trucks, Bomag, dan Tadano. Usaha tersebut juga mencakup penyediaan suku cadang, pemeliharaan, attachment, hingga bisnis maritim.
Di sektor pertambangan, cakupannya semakin luas. Lewat PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan KPP Mining, Astra menyediakan jasa kontraktor pertambangan, mulai dari pemindahan tanah hingga produksi batu bara dan mineral lainnya.
Astra juga memiliki bisnis pertambangan batu bara melalui Turangga Resources serta terus memperluas portofolio ke komoditas non-batu bara termasuk emas dan nikel. Langkah tersebut terlihat dari ekspansi UNTR ke bisnis emas melalui akuisisi PT Arafura Surya Alam.
Di sisi energi, Astra juga mengembangkan portofolio energi terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga surya, hidro, dan panas bumi.
Jejak Astra Bangun Kerajaan Bisnis
Astra melalui perjalanan sejarah yang panjang hingga berhasil menjadi salah satu grup konglomerasi terbesar di Indonesia. Didirikan pada 1957 oleh William Soerjadjaja dan rekan-rekannya, Astra pada awalnya bergerak sebagai perusahaan dagang. Kini, perusahaan itu telah berkembang dengan 321 anak usaha di berbagai sektor, mulai dari otomotif hingga jasa keuangan.
Di pasar modal, perjalanan Astra dimulai pada 4 April 1990, saat perusahaan resmi melantai di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan kode saham ASII. Sejak itu, Astra terus memperluas bisnisnya, termasuk mempertahankan posisi sebagai distributor tunggal kendaraan Toyota di Indonesia sejak 1969.
Astra yang saat ini dimiliki Keluarga Soerjadjaja mengalami perubahan kepemilikan. Pada 1993, William sebagai pendiri dan pemilik Astra melepas seluruh sahamnya demi menutupi dampak krisis Bank Summa yang dimiliki putra sulungnya, Edward Soeryadjaya. Saham tersebut kemudian dibeli oleh konsorsium yang terdiri atas pemerintah dan sejumlah konglomerat seperti Prajogo Pangestu hingga Sudono Salim.
Dalam perjalanannya, kepemilikan saham Astra juga sempat berpindah tangan ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), sebelum akhirnya dilepas melalui proses tender. Saat ini, sebanyak 50,11% saham Astra dikuasai oleh Jardine Cycle & Carriage Limited yang berbasis di Singapura.
Seusai era William Soerjadjaja, kepemimpinan Astra sempat dipegang keponakannya Theodore Permadi Rachmat atau TP Rachmat pada 1989–1998 dan kembali menjabat pada 2000–2002. Dia dikenal sebagai konglomerat pendiri Triputra Group. Kelompok usaha TP Rachmat berkembang menjadi konglomerasi dengan bisnis di sektor agribisnis, pertambangan, manufaktur, hingga distribusi kendaraan. Pada 1998, Rachmat keluar dari Astra dan mulai fokus ke bisnis pribadinya.
Saat ini, pengendali ASII adalah Benjamin Herrenden Birks. Dia memegang posisi senior di bidang retail, automotive, business outsourcing, dan IT di Jardine Matheson Group.
Perjalanan bisnis Astra hingga berkembang menjadi salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia dapat dilihat dari infografik berikut:
Jejak Perjalanan Bisnis Grup Astra (Dirangkum dari berbagai sumber, data diolah penulis dengan menggunakan AI). Prospek Emiten Grup Astra
Gurita bisnis Astra telah melahirkan sejumlah emiten alias perusahaan terbuka yang menjadi bagian penting dari ekosistem Grup Astra di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saat ini, Astra memiliki empat anak usaha yang tercatat di BEI, yakni PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dan PT Astra Graphia Tbk (ASGR). Sementara itu, induk usaha Grup Astra, PT Astra International Tbk (ASII) telah lebih dulu melantai di BEI sejak 4 April 1990.
Di antara emiten tersebut, UNTR menjadi salah satu penopang utama bisnis Astra di segmen solusi pertambangan dan alat berat. Lalu, AUTO menjadi bagian dari ekosistem otomotif. Sementara AALI mewakili bisnis agribisnis dan ASGR bergerak di bidang teknologi informasi dan solusi dokumen. Adapun ASII menjadi perusahaan induk dengan portofolio bisnis paling luas.
Kinerja keuangan masing-masing anak usaha Astra dapat dicermati lewat infografik di bawah ini:
Kinerja Emiten Grup Astra. (Sumber: Laporan Keuangan ASII, UNTR, AUTO, AALI, dan ASGR. Penyajian data diolah penulis menggunakan AI)
Investment Specialist KISI, Ahmad Faris Mu’tashim, menilai pertumbuhan sejumlah emiten Grup Astra masih relatif stabil, terutama AUTO dan ASGR. Menurut dia, AUTO memiliki prospek pertumbuhan seiring dengan peningkatan penjualan mobil. Sementara itu, ASGR mencatat pertumbuhan dari segmen bisnis rental mesin color.
Di sisi lain, UNTR masih berpeluang memperoleh manfaat dari bisnis pertambangan batu bara, emas, dan nikel, meskipun penjualan alat berat cenderung melambat. “UNTR akan mendapat benefit dari pertambangan batu bara, emas dan nikel. Meskipun penjualan alat berat relatif melambat,” kata Ahmad.
Sementara itu, prospek pertumbuhan AALI dinilai relatif lebih terbatas dibandingkan sejumlah perusahaan sejenis. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah usia tanaman yang lebih tua dibandingkan perusahaan perkebunan lainnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa meski seluruh emiten berada dalam satu ekosistem Astra, prospek masing-masing perusahaan tidak sepenuhnya sama. Perbedaan siklus industri, sumber pertumbuhan, serta usia aset membuat kinerja setiap emiten perlu dilihat secara terpisah.
Perbedaan prospek tersebut juga tercermin dari target harga sejumlah analis terhadap saham emiten Grup Astra.
Emiten
Harga Sekarang (Jumat, 25/9/2026)
Target Harga
Ahmad Faris Mu’tashim (KISI)
Ivan Rosanova (BinaArtha Sekuritas)
Herditya Wicaksana (MNC Sekuritas)
ASII
Rp 4.690
Rp 5.200
Rp 5.400
Rp 5.200
UNTR
Rp 24.225
Rp 28.500
Rp 27.000
Rp 25.250
AUTO
Rp 3.380
Rp 3.500
Rp 3.650
Rp 3.520
AALI
Rp 7.850
Rp 8.500
Rp 9.100
Rp 8.225
ASGR
Rp 2.100
Rp 2.400
Rp 2.700
wait and see
Luasnya portofolio bisnis Astra tidak otomatis berarti seluruh bisnis tersebut memberikan kontribusi yang sama terhadap grup. Hal inilah yang menjadi alasan Astra memilih untuk memperkuat tiga bisnis utamanya dan menjadikan bisnis lainnya sebagai portofolio pendamping. Hal itu dinilai berdasarkan kontribusi strategis, potensi pertumbuhan, serta disiplin alokasi modal.
Bagi emiten-emiten Grup Astra yang telah tercatat di BEI, perubahan strategi bisnis saat ini menjadi penting untuk dicermati. Penguatan bisnis inti dapat memengaruhi arah investasi dan alokasi modal grup. Sementara bisnis di luar tiga sektor utama tetap memiliki peran sebagai sumber diversifikasi sekaligus potensi pertumbuhan baru.***




