KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), atau yang dikenal luas sebagai PGE, telah menunjukkan kinerja yang sangat positif sepanjang tahun 2026, menegaskan posisinya sebagai pemain kunci dalam sektor energi terbarukan di Indonesia. Perusahaan penyedia energi panas bumi ini berhasil mencatat pertumbuhan laba bersih dua digit hingga semester I 2026, sebuah indikator kuat dari efisiensi operasional dan strategi bisnis yang efektif. Capaian ini diperkuat dengan rekor produksi panas bumi tertinggi yang berhasil diraih hingga bulan Juli 2026, menandakan peningkatan kapasitas dan keandalan pembangkit.
Laporan keuangan PGE hingga 30 Juni 2026 menunjukkan peningkatan pendapatan yang signifikan, mencapai US$ 235,027 juta. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan sebesar 14,7% secara tahunan, dibandingkan dengan US$ 204,850 juta pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Seiring dengan peningkatan pendapatan, laba bersih perusahaan juga melonjak menjadi US$ 79,605 juta, tumbuh 15,48% secara tahunan. Kinerja finansial yang kuat ini tidak hanya menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola operasionalnya secara efisien, tetapi juga menyoroti potensi besar sektor panas bumi dalam kontribusi terhadap perekonomian nasional.
Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hasudungan Hutabarat, dalam keterangan resminya pada Senin, 5 Oktober 2026, menjelaskan bahwa peningkatan pendapatan ini didukung oleh beberapa faktor krusial. Faktor utama mencakup pertumbuhan produksi dan peningkatan keandalan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang dioperasikan oleh PGE. Selain itu, keuntungan dari selisih kurs yang positif juga turut memberikan kontribusi signifikan terhadap laba bersih perusahaan. Pertumbuhan produksi mencerminkan keberhasilan strategi perusahaan dalam mengoptimalkan sumber daya panas bumi yang dimiliki, sementara keandalan PLTP menunjukkan komitmen PGE terhadap penyediaan energi yang stabil dan berkelanjutan. Keuntungan selisih kurs, dalam konteks perusahaan yang memiliki transaksi dalam mata uang asing, dapat meningkatkan pendapatan atau mengurangi beban, tergantung pada pergerakan nilai tukar mata uang.
Dari aspek permodalan, PGE menunjukkan fondasi keuangan yang kokoh dengan ekuitas tercatat sebesar US$ 2,006 miliar. Angka ekuitas yang besar ini memberikan fleksibilitas finansial bagi perusahaan untuk mendanai ekspansi dan inovasi di masa mendatang. Selain itu, PGE juga berhasil mengurangi liabilitasnya sebesar 2,80% menjadi US$ 961,184 juta dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2025. Penurunan liabilitas ini merupakan indikator kesehatan finansial yang baik, menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola utang dan kewajiban lainnya secara bijaksana, sehingga mengurangi risiko keuangan dan meningkatkan daya tarik investasi.
Kinerja operasional PGE juga mengalami penguatan yang konsisten. Hingga 31 Juli 2026, total produksi energi panas bumi perusahaan mencapai sekitar 3.222 gigawatt hour (GWh). Angka ini merupakan peningkatan sebesar 12,7% dari 2.859 GWh yang tercatat pada periode yang sama tahun sebelumnya, dan sekaligus menjadi rekor produksi tertinggi yang pernah dicapai oleh perusahaan. Peningkatan produksi ini mengukuhkan posisi PGE sebagai produsen energi panas bumi terkemuka di Indonesia, yang secara langsung mendukung upaya pemerintah dalam mencapai target bauran energi terbarukan. Untuk keseluruhan tahun 2026, PGE menargetkan produksi mencapai 5.255 GWh, sebuah peningkatan ambisius dari 5.095 GWh yang dicapai pada tahun 2025, menunjukkan optimisme perusahaan terhadap potensi pertumbuhan dan efisiensi operasional.
Pertumbuhan produksi yang mengesankan ini terjadi di seluruh wilayah operasi PGE, menunjukkan keberhasilan strategi pengembangan dan pengelolaan di berbagai lokasi. Salah satu wilayah yang menunjukkan lonjakan signifikan adalah Lumut Balai, di mana produksinya hingga Juli 2026 melonjak 85,5% menjadi 567 GWh. Peningkatan drastis ini sebagian besar disebabkan oleh beroperasinya Unit 2 secara penuh sejak Juni 2025, yang secara substansial menambah kapasitas produksi. Untuk sepanjang tahun 2026, produksi wilayah Lumut Balai ditargetkan tumbuh sebesar 28,43% menjadi 917 GWh, menggarisbawahi peran penting wilayah ini dalam pencapaian target produksi PGE secara keseluruhan.
Selain Lumut Balai, wilayah operasi lainnya juga menunjukkan kontribusi positif. Produksi di Kamojang meningkat 6,3% menjadi 1.113 GWh, menegaskan konsistensi operasional di salah satu wilayah panas bumi tertua di Indonesia. Karaha mencatat pertumbuhan produksi sebesar 22,7% menjadi 75 GWh, menunjukkan potensi pengembangan yang terus meningkat di area tersebut. Sementara itu, Ulubelu juga mengalami pertumbuhan 1,8% menjadi 953 GWh, dan Lahendong meningkat 1% menjadi 514 GWh. Pertumbuhan yang merata di berbagai wilayah operasi ini mencerminkan strategi diversifikasi dan optimalisasi sumber daya yang dijalankan oleh PGE, memastikan pasokan energi yang stabil dari berbagai sumber.
Peningkatan efisiensi operasional PGE juga tercermin dari metrik konsolidasi perusahaan. Capacity factor, yang mengukur seberapa sering sebuah pembangkit beroperasi pada kapasitas penuh, meningkat menjadi 90,62% dari sebelumnya 87,78%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa pembangkit-pembangkit PGE beroperasi lebih efisien dan mendekati kapasitas desainnya. Selain itu, availability factor, yang mengukur persentase waktu pembangkit tersedia untuk menghasilkan listrik, juga naik menjadi 99,51% dari 99,13%. Angka yang sangat tinggi ini mengindikasikan keandalan operasional yang luar biasa, dengan waktu henti yang minimal. Sejalan dengan itu, tingkat gangguan operasional berhasil diturunkan menjadi 0,15% dari 0,22%, sebuah pencapaian yang menandakan peningkatan kualitas pemeliharaan dan manajemen risiko di seluruh fasilitas PGE.
Dalam rangka memperkuat kapasitas produksi dan mendukung ketahanan energi nasional, PGE terus agresif dalam melakukan ekspansi proyek. Salah satu proyek strategis yang dipercepat adalah pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Muara Enim, Sumatra Selatan, dengan masing-masing berkapasitas 55 MW. Pengembangan Unit 3 telah mencapai tonggak penting dengan memperoleh persetujuan Final Investment Decision (FID) pada kuartal I 2026. FID merupakan keputusan krusial yang menandakan komitmen investasi penuh dan dimulainya tahap konstruksi besar-besaran, setelah melalui studi kelayakan yang mendalam.
Progres pengeboran sumur pengembangan untuk Unit 3 juga terus berjalan sesuai jadwal. Tajak perdana sumur LMB 19-3 telah dilakukan pada bulan Juli 2026, dilanjutkan dengan pengeboran sumur kedua, LMB-19.4, yang dimulai pada 17 September 2026. Aktivitas pengeboran ini merupakan langkah fundamental dalam memastikan ketersediaan uap panas bumi yang cukup untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik. Prospek pendanaan untuk proyek Lumut Balai Unit 3 dan 4 semakin diperkuat setelah proyek ini berhasil masuk dalam Green Book 2026 Kementerian PPN atau Bappenas pada Juni 2026. Inklusi dalam Green Book ini membuka akses bagi PGE terhadap potensi pinjaman luar negeri yang signifikan, yaitu senilai US$ 158,86 juta untuk Unit 3 dan US$ 148,97 juta untuk Unit 4. Dukungan pendanaan internasional ini sangat vital untuk proyek-proyek energi skala besar yang membutuhkan modal investasi tinggi.
Selain Lumut Balai, PGE juga tengah mengembangkan sejumlah proyek panas bumi lainnya yang tersebar di berbagai wilayah. Di Lahendong, Sulawesi Utara, kesepakatan tarif untuk proyek Lahendong Low Pressure berkapasitas 15 MW telah tercapai pada bulan April 2026. Proyek ini bertujuan untuk memanfaatkan uap panas bumi bertekanan rendah yang sebelumnya tidak terutilisasi secara optimal. Kemudian, proyek co-generation dengan total kapasitas 230 MW menargetkan penandatanganan perjanjian jual beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) pada kuartal IV 2026. Proyek co-generation memungkinkan pemanfaatan panas bumi tidak hanya untuk listrik tetapi juga untuk proses industri lain, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.
Di wilayah Ulubelu, Lampung, proyek Gunung Tiga berkapasitas 2 x 27,5 MW menjadwalkan uji produksi sumur GTG-B1 pada Oktober 2026. Uji produksi ini merupakan tahapan penting untuk memverifikasi potensi uap dan estimasi kapasitas produksi sebelum masuk ke tahap pengembangan penuh. Dengan target commercial operation date (COD) pada tahun 2029, proyek ini diharapkan akan menjadi tambahan signifikan pada portofolio produksi PGE di masa mendatang. Seluruh proyek ekspansi ini menunjukkan komitmen PGE untuk terus meningkatkan kapasitas panas bumi di Indonesia.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menegaskan bahwa pengembangan proyek-proyek tersebut merupakan bagian integral dari upaya perusahaan untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui pembangkit listrik yang bersih dan andal. Sebagai world leading geothermal producer, PGE memahami bahwa pasokan listrik yang dibutuhkan oleh Indonesia tidak hanya harus bersih dari emisi karbon, tetapi juga harus stabil dan dapat diandalkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan masyarakat. Kinerja perusahaan yang solid, yang ditunjukkan melalui pertumbuhan finansial dan operasional, serta proyek-proyek yang terus bergerak maju, menjadi fondasi utama bagi PGE untuk tumbuh secara berkelanjutan di masa depan. Fokus pada energi panas bumi menempatkan PGE di garis depan transisi energi Indonesia menuju sumber daya yang lebih hijau dan berkelanjutan.




