Sejumlah emiten ambil pinjaman ke bank, simak prospek dan rekomendasinya

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan pengambilan pinjaman ke perbankan.

Advertisements

Pertama, ada PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mendapatkan fasilitas pembiayaan hingga Rp 6 triliun untuk modal kerja.

Fasilitas tersebut berasal dari dua perjanjian kredit, yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memberi pinjaman Rp 2 triliun dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 4 triliun. 

Advertisements

Bursa Mineral Segera Beroperasi, OJK Siapkan Aturan Turunan BMKS

“Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional dan modal kerja PTBA,” jelas Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno dalam keterbukaan informasi di BEI pada Senin (28/9/2026). 

Eko bilang, Perjanjian Kredit I dengan BRI berbentuk Kredit Modal Kerja Rekening Koran Pemanfaatan DHE SDA dengan plafon hingga Rp 2 triliun. Sebagai jaminan, PTBA memberikan blokir atau agunan berupa rekening penempatan DHE milik perusahaan di BRI. 

Selanjutnya, Perjanjian Kredit II dengan Bank Mandiri berupa Kredit Talangan Dana DHE SDA dengan plafon hingga Rp 4 triliun. Untuk fasilitas dari Bank Mandiri, jaminannya berupa blokir atau agunan rekening penempatan DHE milik PTBA di Bank Mandiri.

Lalu, PT Kian Santang Muliatama Tbk (RGAS) mendapatkan tambahan fasilitas pembiayaan dari PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dengan total nilai mencapai Rp 39,5 miliar. Fasilitas tersebut akan digunakan untuk memperkuat modal kerja proyek pengadaan dan kontraktor di bidang minyak dan gas (migas).

Fasilitas ini memiliki jangka waktu 12 bulan, terhitung sejak 29 September 2026 hingga 25 September 2027. RGAS memberikan agunan antara lain berupa tanah dan bangunan yang tersebar di Bekasi, Bogor, Depok, dan Jakarta Timur, serta pengikatan fidusia atas piutang usaha dan persediaan barang milik RGAS.

Kemudian, PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) menambah fasilitas kredit dari BBCA. Penambahan tersebut membuat plafon fasilitas Time Loan ERAL dan entitas anak naik dari Rp 450 miliar menjadi Rp 600 miliar.

Sumber Alfaria (AMRT) Tebar Dividen Interim Rp 595,83 Miliar

Fasilitas ini memiliki jangka waktu hingga 13 Mei 2027 dan digunakan untuk membiayai kebutuhan modal kerja perseroan dan entitas anak, sekaligus mendukung transaksi berbasis valuta asing.

Selain Time Loan, Sinar Eka Selaras juga melakukan penambahan pada fasilitas Multi Credit Facility. Sebelumnya, fasilitas tersebut mencakup plafon US$ 10 juta, SGD 3,5 juta, serta Rp 190 miliar. 

Setelah perubahan, plafon rupiah meningkat menjadi Rp 540 miliar atau bertambah Rp 350 miliar. Fasilitas Multi Credit Facility tersebut juga kini mencakup mata uang yen Jepang (JPY) sebesar JPY 50 juta, sementara plafon dalam dolar AS dan dolar Singapura tetap masing-masing US$ 10 juta dan SGD 3,5 juta.

PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI) menerima fasilitas kredit dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dengan total nilai mencapai Rp 270,65 miliar. Adapun fasilitas kredit yang diterima VICI terdiri atas satu fasilitas kredit modal kerja dan empat fasilitas kredit investasi.

Di sisi lain, PT Murni Sadar Tbk (MTMH) melakukan perubahan atas perjanjian kredit dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA). 

Perubahan perjanjian kredit tersebut mencakup sejumlah fasilitas pembiayaan. Salah satunya berupa pengalihan sebagian plafon fasilitas Kredit Investasi (KI) 7 MS Tranche D sebesar Rp60 miliar menjadi fasilitas Kredit Investasi 8 untuk PT MS. 

Dengan pengalihan tersebut, plafon fasilitas KI 7 MS Tranche D berkurang dari sebelumnya menjadi Rp190 miliar.

OJK Ungkap 29 Rencana Penawaran Umum, Nilainya Capai Rp 26,47 Triliun

Penerimaan dana melalui kredit bank dapat lebih diandalkan dibandingkan pendapatan lain di pasar keuangan saat ini, seperti obligasi atau rights issue.

Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai, fasilitas kredit dari bank ini tidak otomatis membebani neraca.

“Sebab, mayoritas digunakan untuk modal kerja, ekspansi, atau refinancing,” ujarnya kepada Kontan, Senin (5/10/2026).

Pengamat pasar modal sekaligus Direktur PT Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang mengatakan, kredit modal kerja yang berputar cepat pada bisnis dengan return on invested capital (ROIC) tinggi juga bisa bisa lebih efektif meningkatkan return on equity (ROE).

“Sebaliknya, kredit untuk ekspansi yang belum menghasilkan cash flow dapat menekan free cash flow dan meningkatkan risiko refinancing,” katanya kepada Kontan (5/10/2026).

Sukarno menilai, kredit PTBA dinilai paling aman, karena fasilitas Rp 6 triliun berbasis DHE SDA dan didukung cash flow kuat. kredit ERAA juga masih manageable karena fasilitas mendukung kebutuhan modal kerja sejalan dengan pertumbuhan penjualan. 

Kemudian VICI relatif aman, namun penurunan laba perlu dicermati. MTMH lebih berisiko karena leverage meningkat seiring ekspansi rumah sakit. 

Rupiah Berpotensi Melemah pada Selasa (6/10), Sentimen Geopolitik dan BBM Membayangi

“Sementara RGAS memiliki risiko tertinggi karena fasilitas sangat bergantung pada keberhasilan eksekusi proyek migas,” ungkapnya.

Tak jauh berbeda, Edwin melihat, fasilitas kredit yang dilakukan ERAL dan PTBA dinilai yang paling menarik. Langkah VICI juga masih menarik lantaran neraca masih sangat sehat.

“Sementara, MTMH dan RGAS cukup spekulatif dengan leverage dan margin perlu diperhatikan,” ungkapnya.

Ke depan, fasilitas kredit yang diambil oleh para emiten tak serta merta menjadi beban ke neraca keuangan jika diimbangi dengan eksekusi bisnis yang baik.

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah mengatakan, pinjaman untuk modal kerja ERAL misalnya, akan berdampak positif khususnya untuk lini bisnis yang berhubungan dengan otomotif.

Penjualan ERAL dari sisi otomotif dan fashion apparel dinilai menjadi segmen yang berpotensi untuk mendorong kinerja di sisa 2026 hingga tahun 2027. 

“Khusus otomotif perlu tren yang lebih panjang untuk bisa melihat tingkat kestabilan pertumbuhan ke depannya,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (4/10/2026).

Edwin melihat, pada ERAL, VICI, PTBA, dan RGAS, kredit tersebut lebih terlihat sebagai alat untuk memperbesar kapasitas bisnis daripada indikasi tekanan finansial.

Sebaliknya, kinerja MTMH perlu diperhatikan lebih lanjut lantaran tingkat leverage yang sudah cukup tinggi dan interest expense mulai material.

Namun, masing-masing emiten tersebut juga punya masalah yang berbeda.

Astra Otoparts (AUTO) Bagikan Dividen Interim Rp 349,52 Miliar, Potensi Yield 2,1%

 

PTBA punya risiko volatilitas harga komoditas, RGAS punya risiko eksekusi proyek dan valuasi saham, ERAL punya masalah risiko normalisasi pertumbuhan kinerja, serta VICI punya risiko pemulihan margin dan pendapatan.

 

“Kinerja ERAL dan PTBA bisa lebih dilirik investor. Sementara, RGAS sebaiknya dipilih secara spekulatif,” paparnya.

 

Sukarno melihat, PTBA dan ERAA memiliki earnings visibility paling baik. 

 

Kinerja PTBA didukung kenaikan volume, efisiensi logistik dan pemulihan laba, dengan risiko utama harga batu bara dan biaya produksi. 

 

ERAL didukung ekspansi retail dan pertumbuhan penjualan, dengan risiko margin dan kebutuhan modal kerja. VICI masih memiliki prospek pertumbuhan revenue, tetapi pemulihan margin menjadi kunci. 

 

MTMH berpotensi tumbuh dari ekspansi rumah sakit, namun harus diimbangi peningkatan EBITDA. 

 

“Sementara, RGAS memiliki upside besar jika memperoleh dan menyelesaikan proyek migas baru, tetapi visibilitas laba masih rendah,” tuturnya.

 

Sukarno pun merekomendasikan beli untuk PTBA dengan target harga di Rp 3.320 per saham.

Advertisements

Also Read

Tags