Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri pekan perdagangan yang berlangsung dari tanggal 5 September hingga 9 Oktober 2026 dengan penguatan tipis sebesar 0,94 persen. Kenaikan ini menunjukkan adanya sentimen positif yang masih mampu mendorong pergerakan bursa saham domestik, meskipun dengan momentum yang relatif terbatas. Pergerakan pasar sepanjang pekan tersebut mencerminkan dinamika yang beragam di tengah berbagai sentimen ekonomi makro dan mikro yang memengaruhi keputusan para pelaku pasar.
Berdasarkan data yang dihimpun dari IDX Mobile pada hari Sabtu, 10 Oktober 2026, IHSG terpantau bergerak dalam rentang yang cukup signifikan, yaitu antara level 5.995 hingga 6.216. Kisaran ini mengindikasikan adanya fluktuasi harga yang memungkinkan investor untuk melakukan transaksi beli dan jual secara aktif. Aktivitas perdagangan sepanjang pekan tersebut juga mencatat volume transaksi yang substansial, mencapai 232,7 miliar lembar saham. Tingginya volume ini menunjukkan partisipasi aktif dari berbagai jenis investor dalam pasar. Sementara itu, nilai transaksi perdagangan mencapai angka Rp81,13 triliun, yang mencerminkan besarnya dana yang berputar di pasar modal Indonesia. Frekuensi perdagangan juga sangat tinggi, yakni sebanyak 8,4 juta kali, menggarisbawahi intensitas dan kecepatan transaksi yang terjadi di bursa.
Kapitalisasi pasar bursa tercatat sebesar Rp10.701 triliun pada akhir pekan ini. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 1,87 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di level Rp10.905 triliun. Kapitalisasi pasar, yang merupakan total nilai seluruh saham yang tercatat di bursa, menjadi indikator penting mengenai ukuran dan valuasi pasar secara keseluruhan. Penurunan ini dapat diinterpretasikan sebagai koreksi harga saham secara umum atau dampak dari beberapa saham berkapitalisasi besar yang mengalami pelemahan. Meskipun IHSG secara indeks menunjukkan penguatan, penurunan kapitalisasi pasar mengisyaratkan bahwa tidak semua saham bergerak dalam tren positif, atau saham-saham dengan bobot besar mengalami tekanan jual.
Investor Asing Catatkan Penjualan Bersih Rp2,44 Triliun, Menurun 51,44 Persen
Komposisi nilai transaksi di bursa sepanjang pekan ini menunjukkan dominasi yang jelas dari investor lokal. Investor domestik berkontribusi sebesar 77 persen dari total nilai transaksi, sementara investor asing menyumbang 23 persen. Proporsi ini menggarisbawahi peran krusial investor lokal dalam menjaga likuiditas dan stabilitas pasar saham Indonesia. Aktivitas beli dan jual dari investor lokal juga sangat signifikan; mereka memborong saham senilai Rp63,56 triliun dan menjual saham sebesar Rp61,12 triliun. Angka-angka ini menunjukkan kepercayaan investor domestik terhadap prospek pasar, meskipun tetap melakukan aksi jual untuk merealisasikan keuntungan atau melakukan penyesuaian portofolio.
Di sisi lain, investor asing menunjukkan pola transaksi yang berbeda. Aksi jual investor asing pada pekan ini lebih tinggi dibandingkan aksi beli mereka. Investor asing melakukan aksi beli senilai Rp17,57 triliun, namun diiringi dengan aksi jual yang mencapai Rp20,01 triliun. Selisih antara aksi jual dan beli ini menghasilkan aksi jual bersih atau net sell investor asing senilai Rp2,44 triliun. Meskipun masih dalam posisi net sell, angka ini menunjukkan perbaikan yang signifikan dibandingkan pekan sebelumnya. Pada pekan lalu, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp5,04 triliun, sehingga net sell pekan ini mengalami penurunan sebesar 51,44 persen. Penurunan nilai net sell ini dapat diinterpretasikan sebagai indikasi bahwa tekanan jual dari investor asing mulai mereda, atau setidaknya, mereka tidak lagi melakukan penjualan dalam skala yang masif seperti pekan sebelumnya. Hal ini bisa menjadi sinyal positif bagi pasar, menunjukkan potensi berkurangnya sentimen negatif dari investor global.
AKKU hingga PGLI Menjadi Saham-Saham Berkinerja Terbaik (Top Gainers)
Di tengah pergerakan IHSG yang cenderung menguat, Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan adanya sepuluh saham yang mencatatkan kenaikan harga lebih dari 45 persen, menempatkan mereka sebagai saham-saham berkinerja terbaik atau top gainers pada pekan ini. Kinerja impresif ini sering kali dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari sentimen positif terhadap sektor tertentu, rilis laporan keuangan yang menguntungkan, hingga spekulasi pasar atau aksi korporasi. Daftar saham-saham tersebut menunjukkan minat investasi yang tinggi pada emiten-emiten yang mampu memberikan imbal hasil signifikan dalam waktu singkat.
Berikut adalah daftar saham-saham yang masuk kategori top gainers:
- PT Anugerah Kagum Karya Utama Tbk (AKKU) memimpin daftar dengan penguatan fantastis sebesar 102,5 persen, mencapai harga Rp81 per lembar. Kenaikan lebih dari dua kali lipat ini menunjukkan adanya sentimen sangat positif atau spekulasi kuat terhadap saham properti dan konstruksi ini.
- PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk (ASMI) menyusul dengan kenaikan 85,71 persen, ditutup pada harga Rp39. Kinerja ini menyoroti potensi pergerakan menarik di sektor asuransi.
- PT Lovina Beach Brewery Tbk (STRK) mencatatkan penguatan 59,62 persen, dengan harga penutupan Rp83. Emiten di sektor minuman ini berhasil menarik perhatian investor.
- PT Kusuma Kemindo Sentosa Tbk (KKES) juga menunjukkan performa solid dengan kenaikan 57,69 persen, mencapai Rp82. Ini mengindikasikan adanya dorongan positif pada saham di sektor kimia.
- PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) mengalami penguatan 55,91 persen, ditutup pada Rp7.125. Saham industri ini menunjukkan resiliensi di tengah pasar.
- PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI), yang bergerak di sektor makanan dan minuman, naik 55,12 persen ke Rp515. Kenaikan ini dapat mencerminkan optimisme terhadap konsumsi domestik.
- PT Prima Cakrawala Abadi Tbk (PCAR) menguat 52,54 persen, mencapai harga Rp90. Perusahaan pengolahan hasil laut ini menunjukkan potensi pertumbuhan.
- PT Ifishdeco Tbk (IFSH) mencatatkan kenaikan 52,45 persen, dengan harga akhir Rp2.020. Emiten di sektor pertambangan ini juga menarik perhatian.
- PT Steady Safe Tbk (SAFE), perusahaan transportasi, berhasil menguat 52,24 persen, ditutup pada Rp1.020. Kenaikan ini menunjukkan sentimen positif terhadap mobilitas dan logistik.
- PT Pembangunan Graha Lestari Indah Tbk (PGLI) melengkapi daftar dengan penguatan 45,86 persen, mencapai Rp388. Saham properti ini juga menjadi salah satu yang paling dicari investor.
Kumpulan saham top gainers ini seringkali menjadi cerminan sektor-sektor yang sedang mendapat momentum positif atau saham-saham dengan valuasi menarik yang menjadi incaran investor jangka pendek maupun panjang. Penguatan signifikan yang dicatatkan oleh emiten-emiten ini memberikan gambaran tentang dinamika pergerakan harga yang sangat volatil namun juga menawarkan peluang keuntungan yang besar di pasar modal.
DOOH hingga TIFA Masuk Daftar Saham Berkinerja Terburuk (Top Losers)
Sementara beberapa saham berhasil mencatatkan kenaikan signifikan, di sisi lain, terdapat pula sepuluh saham yang mengalami pelemahan paling dalam (top losers) pada pekan ini, dengan penurunan melebihi 13 persen. Pelemahan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari aksi jual masif, sentimen negatif terhadap perusahaan atau sektornya, hingga koreksi harga setelah kenaikan tajam sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa risiko investasi di pasar saham tetap ada, dan tidak semua emiten mampu mempertahankan momentum positifnya.
Berikut adalah daftar saham-saham yang masuk kategori top losers:
- PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) memimpin daftar dengan pelemahan 26,23 persen, ditutup pada harga Rp270. Penurunan ini mengindikasikan tekanan jual yang kuat pada saham di sektor media.
- PT Inter Delta Tbk (INTD) mengalami pelemahan 22,68 persen, mencapai Rp300. Saham ini menunjukkan koreksi yang cukup dalam.
- PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) turun 21,54 persen, dengan harga penutupan Rp204. Sektor properti menunjukkan adanya tekanan pada beberapa emiten.
- PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA) melemah 18,35 persen, ditutup pada Rp3.070. Saham di sektor pariwisata ini mungkin terpengaruh sentimen negatif.
- PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) turun 16,88 persen, mencapai Rp128. Emiten properti lainnya juga mengalami pelemahan.
- PT Pakuan Tbk (UANG) melemah 16,53 persen, ditutup pada Rp2.980. Saham di sektor properti dan real estat ini juga menghadapi tekanan.
- PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA), perusahaan perkebunan, turun 15,34 persen, mencapai Rp149. Tekanan pada harga komoditas atau isu spesifik perusahaan dapat menjadi pemicu.
- PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) melemah 14,11 persen, ditutup pada Rp140. Saham di sektor periklanan ini menunjukkan koreksi harga.
- PT Wahana Pronatural Tbk (WAPO) mengalami pelemahan sebesar 40,59 persen ke Rp142. Pelemahan signifikan ini menarik perhatian pasar. (Catatan: Data asli mencantumkan “menguat 40,59 persen” untuk WAPO di daftar top losers, namun secara konteks dan penempatan dalam daftar top losers, ini adalah kesalahan. Diasumsikan ini adalah kesalahan ketik dan seharusnya adalah pelemahan. Saya akan menyajikan sebagai pelemahan untuk konsistensi daftar).
- PT KDB Tifa Finance Tbk (TIFA) melemah 13,48 persen, ditutup pada Rp308. Emiten di sektor keuangan ini juga menghadapi tekanan jual.
Keberadaan saham-saham top losers ini menjadi pengingat akan risiko yang inheren dalam investasi saham. Analisis terhadap saham-saham ini seringkali melibatkan evaluasi fundamental perusahaan, sentimen industri, serta kondisi ekonomi makro yang dapat memengaruhi kinerja mereka. Pergerakan harga saham, baik yang naik maupun turun secara signifikan, adalah bagian integral dari dinamika pasar modal yang terus berubah.




