BANYU POS JAKARTA. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan pekan depan.
Secara teknikal, harga minyak masih menghadapi tekanan jual setelah gagal menembus area resistance utama.
Sementara dari sisi fundamental, prospek pemulihan pasokan global berpotensi membatasi kenaikan harga.
ANTAM Jual Emas Lewat ATM di Konser Snada 2026
Melansir Trading Economics pada Sabtu (10/10/2026) pukul 22.05 WIB, harga minyak mentah WTI berada di level US$ 91,6 per barel.
Meski menguat 0,6% dalam sepekan terakhir, harga minyak tersebut masih terkoreksi 10,6% dalam sebulan.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, kegagalan harga WTI menembus area resistance US$ 93,15–US$ 94,72 per barel membuka peluang terjadinya koreksi lanjutan.
Jika tekanan jual berlanjut, harga minyak berpotensi menguji area support US$ 88,61–US$ 86,82 per barel sepanjang pekan depan.
“Pola ABC Correction yang berpotensi terbentuk menggambarkan kemungkinan harga melanjutkan koreksi setelah mengalami pergerakan naik sebelumnya,” terang Geraldo dalam risetnya, Sabtu (10/10/2026).
Menurut dia, tekanan jual masih berpotensi mendominasi selama harga WTI belum mampu menembus dan bertahan di atas zona resistance tersebut.
Ledger Selidiki Dugaan Pencurian Kripto US$ 72 Juta, Reseller Asia Tenggara Disorot
Sebaliknya, jika harga berhasil menembus resistance secara meyakinkan, proyeksi koreksi perlu dievaluasi kembali.
Respons harga saat mendekati area support juga akan menjadi penentu arah pergerakan selanjutnya, termasuk apakah pelemahan berlanjut atau mulai diikuti pemulihan.
Dari sisi fundamental, prospek pemulihan pasokan minyak global berpotensi menjadi faktor penekan harga.
Normalisasi jalur distribusi energi di Timur Tengah dan peningkatan volume ekspor dapat meredakan kekhawatiran pasar terhadap kelangkaan pasokan.
Tambahan pasokan dari produsen lain juga berpotensi membatasi kenaikan harga minyak.
Namun, risiko geopolitik masih menjadi faktor yang dapat memicu volatilitas. Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz, termasuk akibat serangan terhadap kapal tanker, berpotensi menghambat distribusi minyak dari Timur Tengah dan kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan global.
Harga Emas Dunia dan Antam Diprediksi Menguat Pekan Depan, Ini Pemicunya
Reuters melaporkan pada 8 Oktober 2026 bahwa lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun ke level terendah dalam lebih dari dua bulan di tengah meningkatnya serangan terhadap kapal. Jumlah kapal pengangkut komoditas yang melintasi jalur tersebut sempat merosot menjadi tujuh kapal dalam sehari.
Arus minyak mentah melalui Selat Hormuz juga mengalami penurunan. Meski demikian, peningkatan ekspor melalui jalur alternatif membantu mengimbangi sebagian gangguan pasokan.
Kondisi tersebut membuat prospek harga minyak menghadapi dua sentimen yang berlawanan. Pemulihan pasokan dan normalisasi distribusi berpotensi menekan harga, sedangkan eskalasi konflik dan gangguan pengiriman dapat memicu lonjakan harga secara tiba-tiba.
Geraldo menegaskan, secara teknikal harga WTI masih menghadapi risiko penurunan selama belum mampu menembus zona resistance utama.
Namun, eskalasi gangguan pasokan perlu dicermati karena dapat menahan pelemahan atau memicu pemulihan harga.




