Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham Pilihan Analis Perdagangan Senin

Hikma Lia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pada pekan ini dengan mencatatkan kinerja yang positif. Pada penutupan sesi perdagangan Jumat (9/10/2026), indeks saham utama domestik ini ditutup menguat sebesar 1,04% atau naik sebanyak 62,48 poin, sehingga membawa IHSG kembali bergerak ke level 6.093,76. Kenaikan yang terjadi pada akhir pekan tersebut menjadi fase pemulihan setelah pada perdagangan sebelumnya IHSG sempat berada di bawah tekanan jual yang lumayan tajam.

Advertisements

Secara perhitungan mingguan, pergerakan IHSG sebenarnya masih mampu mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,94%. Akan tetapi, kondisi tersebut belum sepenuhnya diimbangi oleh masuknya arus modal asing. Data pasar menunjukkan bahwa investor asing masih terus mencatatkan aksi jual bersih atau net sell dengan nilai yang cukup besar, yakni mencapai sekitar Rp 2,5 triliun dalam kurun waktu sepekan. Tingginya angka penjualan bersih oleh investor internasional ini menjadi gambaran bahwa dinamika arus modal global di pasar saham domestik masih menghadapi tantangan yang cukup besar.

Analis Republik Investor, Hendra Wardana, memberikan pandangannya terkait fenomena pergerakan pasar tersebut. Menurut Hendra, penguatan IHSG yang terjadi pada hari Jumat lebih tepat dipahami sebagai sebuah upaya pemulihan harga secara teknikal atau rebound pasca tekanan koreksi mendalam. Ia menilai bahwa lonjakan indeks di akhir pekan belum dapat ditafsirkan sebagai sinyal penuh atas pulihnya tingkat kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia. Kenaikan harga saham yang terjadi pada penutupan pekan lalu lebih banyak ditopang oleh langkah akumulasi beli yang dilakukan oleh para investor domestik.

Advertisements

Dalam pengamatannya, Hendra menyoroti sejumlah indikator penting dari dalam negeri yang wajib dicermati oleh para pelaku pasar. Beberapa faktor domestik yang memegang peranan krusial antara lain mencakup stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, arah kebijakan suku bunga acuan, tingkat daya beli masyarakat, serta konsistensi dari kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh pemerintah. Ketahanan faktor-faktor internal ini akan sangat menentukan kemampuan pasar saham dalam menjaga tren positifnya.

Sementara itu dari perspektif global, terdapat jajaran variabel eksternal yang terus membayangi pergerakan dana investasi asing. Arah kebijakan suku bunga di Amerika Serikat, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yield), pergerakan indeks Dolar AS, dinamika harga minyak mentah dunia, hingga perkembangan situasi geopolitik global masih memegang peranan penting. Seluruh faktor eksternal tersebut memiliki potensi yang sangat besar dalam memengaruhi keputusan alokasi modal global, khususnya aliran modal menuju negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Tekanan dari sisi arus modal luar negeri ini juga terjadi di tengah kecenderungan investor global yang menantikan respon dari otoritas regulasi. Para investor internasional dilaporkan sedang mengamati secara cermat langkah serta aksi nyata yang akan diambil oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama dengan Self-Regulatory Organizations (SRO) dalam merespon situasi pasar dan mengawal kestabilan iklim investasi di pasar modal Indonesia.

Melihat kondisi pergerakan dari sudut pandang teknikal, Hendra Wardana menjelaskan bahwa IHSG saat ini sedang berupaya keras membangun momentum pemulihan. Indeks sempat terdorong jatuh hingga ke bawah level psikologis 6.000 dan bahkan menyentuh titik terendah harian pada area 5.995 pada sesi perdagangan Jumat, sebelum akhirnya berhasil melakukan pembalikan arah naik hingga ditutup di zona hijau.

Dalam perhitungan teknikalnya, Hendra menunjuk area 6.000 sebagai level support psikologis yang sangat penting bagi IHSG. Apabila level tersebut mengalami penembusan ke bawah, maka area support teknikal berikutnya berada pada kisaran 5.950 hingga 5.995. Sebaliknya, jika IHSG mampu melanjutkan penguatannya, area resistance terdekat yang harus dilampaui berada pada rentang 6.120 hingga 6.150, dengan target resistance lanjutan di area 6.200 hingga 6.220.

Mengenai proyeksi pergerakan untuk sesi perdagangan hari Senin (12/10/2026), Hendra mengestimasi bahwa IHSG memiliki peluang untuk bergerak secara fluktuatif. Indeks diperkirakan cenderung bergerak menguat secara terbatas, dengan syarat utama IHSG mampu mempertahankan posisinya di atas level support 6.000. Meskipun demikian, Hendra menegaskan bahwa potensi penguatan terbatas ini tidak boleh langsung diartikan sebagai awal dari dimulainya tren bullish baru.

Secara sektoral, Hendra memandang bahwa emiten-emiten di sektor energi dan pertambangan masih memiliki daya tarik yang menarik untuk dipantau oleh para investor. Untuk strategi transaksi, ia menyarankan tindakan speculative buy pada saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dengan patokan target harga pada level Rp 2.700 per saham. Selain itu, rekomendasi speculative buy juga diberikan untuk saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan target harga di level Rp 12.400 per saham.

Masih di sektor yang sejenis, Hendra merekomendasikan tindakan speculative buy untuk saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan menetapkan target harga pada level Rp 3.400 per saham. Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga masuk ke dalam jajaran rekomendasi speculative buy dengan target harga sebesar Rp 3.200 per saham. Di sektor energi ini pula, perhatian pasar turut mengarah pada langkah PT Elnusa Tbk (ELSA) yang terus melakukan diversifikasi bisnis hingga membidik pasar Irak, di mana kontribusi portofolio bisnis non-Pertamina emiten tersebut kini telah mencapai angka 22%.

Pandangan senada mengenai kondisi indeks turut disampaikan oleh Praktisi Pasar Modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto. William menilai bahwa kenaikan IHSG ke level 6.093 pada penutupan perdagangan hari Jumat belum memberikan konfirmasi atas terjadinya pembalikan arah atau reversal. Menurut analisisnya, IHSG secara umum masih berada dalam fase tren melemah, namun ada sinyal teknikal positif yang patut dicermati.

William menggarisbawahi bahwa IHSG tercatat telah berhasil mempertahankan level support 5.970 sebanyak dua kali dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Keberhasilan indeks dalam menguji dan mempertahankan level tersebut membuka peluang teknikal bagi terbentuknya pola double bottom, yang biasanya menjadi indikator teknikal bagi potensi pembentukan dasar harga sebelum pergerakan indeks mengalami pemulihan yang lebih stabil.

Dengan memperhitungkan pembentukan pola teknikal tersebut, William Hartanto memproyeksikan IHSG akan bergerak di dalam kisaran rentang 6.000 hingga 6.143 pada perdagangan hari Senin (12/10/2026). Rentang ini menjadi acuan pergerakan bagi para pelaku pasar untuk mencermati dinamika pergerakan harga di area konsolidasi tersebut.

Untuk pilihan saham yang menarik untuk ditransaksikan, William menyarankan investor untuk mengambil opsi beli atau buy pada saham PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) dengan mematok target harga di kisaran Rp 422 hingga Rp 430 per saham. Di samping itu, rekomendasi buy juga diberikan untuk saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan proyeksi target harga berada pada kisaran Rp 1.165 hingga Rp 1.180 per saham.

Advertisements

Also Read

Tags