Utang lama menumpuk, Pefindo: Rating BUMN karya sulit pulih

Hikma Lia

BANYU POS – JAKARTA. Pemulihan peringkat kredit emiten BUMN Karya diperkirakan membutuhkan waktu panjang dan support ekstra. Persoalan likuiditas yang membayangi perusahaan konstruksi pelat merah berkaitan dengan beban utang investasi masa lalu yang sumber pembayarannya tidak terealisasi sesuai rencana.

Advertisements

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat pergerakan peringkat pada emiten BUMN Karya sepanjang 1 Januari hingga 30 September 2026 didominasi oleh pemangkasan peringkat hingga penyematan status selective default (idSD).

Corporate Rating Analyst Pefindo Resnanda Dahono mengatakan, perusahaan yang telah mengalami penundaan pembayaran atau gagal bayar membutuhkan waktu cukup lama untuk memulihkan peringkat kreditnya.

Advertisements

Sentimen Global Pengaruhi Yield SUN, Ini Proyeksi dan Seri Pilihan Obligasi

Tantangan sektor konstruksi yang masih berat turut membayangi proses pemulihan tersebut. Bahkan menurutnya, sejumlah emiten BUMN Karya berpotensi membutuhkan extraordinary support agar peringkat kreditnya dapat kembali ke level sebelumnya.

“Berdasarkan metodologi kami, memang perlu waktu cukup lama untuk bisa recover ratingnya jika sudah mengalami penundaan pembayaran atau gagal bayar,” ujar Resnanda dalam konferensi pers Pefindo, Rabu (14/10/2026).

Sejumlah BUMN Karya yang mengalami penurunan peringkat kredit misalnya PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP). PTPP mengalami pemangkasan peringkat dari sebelumnya idBB menjadi idB dengan credit watch negatif. 

Sementara itu, peringkat PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) sama-sama jatuh menuju idSD. Adapun PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) mencatatkan pergerakan peringkat paling dinamis. Setelah sempat keluar dari status idSD ke level idB, peringkat WSKT sempat disesuaikan ke idCCC sebelum akhirnya naik ke idB.

Menurut dia, salah satu persoalan utama yang menekan profil kredit BUMN Karya adalah likuiditas jangka pendek. Namun, tekanan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan tingginya akumulasi utang jangka panjang pada periode sebelumnya, terutama utang yang digunakan untuk membiayai investasi.

Rupiah Spot Melemah 0,26% ke Rp 17.950 per Dolar AS pada Kamis (15/10) Pagi

“Intinya adalah terkait dengan cashflow mismatch, terkait dengan utang jangka panjang terdahulu yang cukup agresif, dimana realisasi sumber pembayarannya pada saat itu mungkin rencananya misalnya dari divestasi ke yang lain-lainnya itu tidak sesuai dengan rencana,” jelasnya.

Di sisi operasional, tekanan juga datang dari kenaikan biaya material dan bahan bakar solar. Biaya SDM di lapangan turut meningkat seiring dengan pelaksanaan sejumlah proyek strategis yang masih berjalan.

Ke depan, pemulihan profil kredit BUMN Karya akan bergantung pada kemampuan perusahaan mengatasi ketidaksesuaian arus kas, memenuhi kewajiban pembayaran, serta memastikan sumber pendanaan investasi terealisasi sesuai rencana. 

“Sementara itu, dari sisi kemampuan memperoleh kontrak baru, peluang tersebut sebenarnya masih ada. Dengan adanya realokasi anggaran, masih terdapat sejumlah proyek strategis baru di berbagai segmen. Namun, pertumbuhan kontrak baru kemungkinan tidak akan seagresif atau setinggi periode sebelumnya,” pungkasnya.

Advertisements

Also Read

Tags