Perkumpulan analis dukung penuh agenda reformasi OJK-SRO, ini catatan pentingnya

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI) mendukung penuh agenda reformasi pasar modal yang tengah dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan dan Self-Regulatory Organization (SRO). 

Advertisements

Melalui keterangan resminya, Minggu (18/10/2026), PAEI menjelaskan bahwa dalam waktu kurang dari satu tahun, reformasi pasar modal telah mencakup keterbukaan kepemilikan saham di atas 1%, klasifikasi 39 kategori investor, transparansi UBO, perluasan cakupan HSC, kenaikan free float minimum menjadi 15 persen, penyempurnaan Watchlist Board, implementasi short selling, serta publikasi haircut dan collateral. 

“PAEI mencermati konsultasi MSCI yang berlangsung hingga 30 April 2027 dan siap menyampaikan masukan secara konstruktif. Konsultasi ini adalah ruang bagi Indonesia untuk menunjukkan bukti hasil reformasi,” tulis PAEI dalam rilisnya, Minggu (18/10/2026).

Advertisements

Ini Hasil Laporan Pertemuan OJK dengan Pelaku Pasar Soal MSCI

PAEI menjelaskan, penindakan coordinated trading sudah berjalan dan perlu dijaga konsistensinya. Surveillance BEI kini tidak hanya memantau volatilitas harga, tetapi juga pola transaksi dan price impact ratio, sehingga indikasi perdagangan terkoordinasi dapat terdeteksi lebih dini. 

OJK telah menjatuhkan sanksi administratif sekitar Rp 2,1 triliun kepada pihak-pihak terkait DSSA, BREN, dan CUAN atas manipulasi perdagangan dan penjatahan saham IPO yang tidak transparan, serta tengah mendalami indikasi awal pada 31 dari 61 saham HSC. 

PAEI mendorong agar hasil penegakan hukum dipublikasikan secara berkala dalam bahasa Indonesia dan Inggris, analisis keterkaitan antar-akun dan antar-broker berbasis SID dan UBO terus diperkuat, transparansi penjatahan saham IPO ditingkatkan dan proses dari indikasi hingga putusan dipercepat dengan tetap menjaga due process.

Per 13 Oktober 2026 terdapat 80 saham dalam daftar HSC. Pada September, 63 saham HSC mewakili sekitar 28,8% kapitalisasi pasar, namun hanya sekitar 5% dari nilai transaksi. Saham HSC telah dikeluarkan dari LQ45, IDX30, dan IDX80, sementara JCI tilting tengah dikembangkan. 

Terkait hal ini, PAEI mengusulkan pengembangannya menjadi Investability Adjustment Factor yang berbasis aturan, menggunakan data terpublikasi seperti actual tradable float, konsentrasi kepemilikan, dan likuiditas) diterapkan bertahap, serta disertai penyesuaian divisor. Zero weighting dapat dipertimbangkan untuk kasus ekstrem dengan kriteria yang eksplisit.

Merdeka Gold Resources (EMAS) Percepat CIL Fase 2, Simak Rekomendasi Sahamnya

PAEI juga berpendapat tantangan saat ini bukan lagi kekurangan aturan, melainkan pembuktian implementasi dan dampaknya. PAEI mendorong recovery roadmap terbuka yang memuat concern utama, action plan, penanggung jawab, timeline, serta indikator outcome yang terukur. 

Contohnya tren konsentrasi kepemilikan, free float efektif, dan jumlah kasus yang dituntaskan. Peningkatan kualitas information flow, termasuk keterbukaan informasi dalam bahasa Inggris, perlu menjadi bagian dari roadmap tersebut.

PAEI menjelaskan, fokus utama adalah pemulihan kepercayaan. Persoalan market integrity perlu dibedakan dari kualitas fundamental emiten.

Secara tahunan hingga Juni 2026, pendapatan emiten tumbuh sekitar 15,9% dan laba bersih sekitar 16,3%. Sekitar 74% emiten membukukan laba.

Valuasi pasar berada di kisaran 9,4 kali P/E (per 9 Oktober 2026), dengan basis investor mencapai 31,1 juta SID. Fondasi ini akan optimal apabila didukung transparansi, likuiditas, investability, dan enforcement yang kredibel dalam satu agenda reformasi yang konsisten.

“Benchmark perlu diperbaiki, tetapi underlying market juga harus diperbaiki. Restore trust first, and the market will follow,” tutup PAEI.

Advertisements

Also Read

Tags