Menyiapkan dana pensiun sering kali dianggap sebagai kebutuhan yang baru perlu dipikirkan ketika seseorang memasuki usia 40 tahun. Padahal bagi generasi Z (Gen Z) yang baru memulai karier, menyisihkan sebagian penghasilan sejak dini dapat memberikan waktu lebih panjang untuk mengembangkan aset.
Namun, memilih investasi untuk masa pensiun tidak cukup hanya dengan mempertimbangkan potensi keuntungan. Faktor keamanan modal, kemudahan pencairan, dan kemampuan investasi dalam mengimbangi inflasi juga perlu diperhatikan. Bagi investor pemula yang mengutamakan kestabilan, terdapat sejumlah instrumen berisiko relatif rendah yang dapat dipertimbangkan.
Berikut ini tiga pilihan investasi yang bisa dipelajari Gen Z untuk menyiapkan dana pensiun.
1. Reksa Dana Pasar Uang
Reksa dana pasar uang (RDPU) dapat menjadi pilihan bagi Gen Z yang baru mulai berinvestasi. Produk ini menghimpun dana dari investor untuk dikelola oleh manajer investasi dan ditempatkan pada instrumen pasar uang. Portofolionya dapat mencakup deposito dan instrumen surat utang jangka pendek dengan tempo di bawah satu tahun.
Salah satu daya tarik RDPU adalah modal awal yang relatif terjangkau dan pencairan yang umumnya lebih fleksibel dibandingkan deposito berjangka atau SBN yang tidak dapat diperdagangkan. Karakteristik ini membuatnya cukup mudah dipelajari oleh investor pemula.
Meski begitu, RDPU bukan tabungan bank dan tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Nilai investasi di RDPU dapat turun, sementara imbal hasil tidak tetap dan bisa berubah mengikuti kondisi pasar serta kinerja portofolio. Hasilnya juga belum tentu mampu mengimbangi inflasi dalam jangka panjang.
Untuk persiapan pensiun, Gen Z dapat mempertimbangkan RDPU sebagai bagian dari portofolio, terutama untuk kebutuhan yang lebih dekat atau sebagai tempat penampungan sementara dana investasi. Namun jika masa pensiun masih puluhan tahun lagi, menempatkan seluruh dana pensiun pada RDPU berpotensi membatasi pertumbuhan aset.
2. Surat Berharga Negara Ritel
Surat Berharga Negara (SBN) ritel merupakan instrumen investasi yang diterbitkan pemerintah dan dapat dibeli masyarakat melalui mitra distribusi resmi. Beberapa jenisnya adalah Obligasi Negara Ritel (ORI), Savings Bond Ritel (SBR), Sukuk Ritel (SR), dan Sukuk Tabungan (ST).
SBN ritel menawarkan imbal hasil sesuai ketentuan masing-masing seri. ORI dan SR umumnya memberikan kupon tetap dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder setelah memenuhi ketentuan yang berlaku. Sementara itu, SBR dan ST memiliki kupon mengambang dengan batas minimal, tetapi tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Keduanya menyediakan fasilitas pencairan awal dengan persyaratan tertentu.
Keunggulan utama SBN ritel adalah pembayaran pokok dan imbal hasilnya dijamin pemerintah sesuai ketentuan perundang-undangan. Meski demikian, investor tetap perlu memahami risiko likuiditas dan perubahan harga. ORI dan SR berpotensi dijual dengan harga lebih rendah daripada harga beli jika kondisi pasar tidak menguntungkan. Sementara itu, SBR dan ST kurang fleksibel jika dana dibutuhkan sebelum jatuh tempo.
Bagi Gen Z, SBN ritel dapat menjadi pilihan untuk membangun bagian portofolio yang relatif stabil. Tenor investasi perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan. Karena dana pensiun biasanya baru digunakan dalam jangka panjang, investor juga perlu merencanakan penempatan kembali dana ketika SBN jatuh tempo agar persiapan pensiun tidak berhenti pada satu periode investasi.
3. Deposito Berjangka
Deposito berjangka merupakan simpanan di bank yang ditempatkan untuk periode tertentu, misalnya satu, tiga, enam, atau 12 bulan, sesuai pilihan produk. Instrumen ini relatif mudah dipahami karena tingkat bunga dan jangka waktu penempatan diketahui sejak awal berdasarkan ketentuan bank.
Deposito dapat membantu Gen Z membangun kebiasaan menyisihkan penghasilan secara rutin tanpa harus menghadapi fluktuasi harga seperti pada saham. Instrumen ini juga dapat menjadi bagian dari dana yang ingin dijaga kestabilannya.
Namun, pencairan sebelum jatuh tempo dapat dikenai penalti atau mengurangi bunga sesuai ketentuan bank. Selain itu, bunga bersih setelah pajak bisa lebih rendah daripada inflasi sehingga daya beli dana yang terkumpul berpotensi menyusut seiring waktu.
Simpanan deposito dapat dijamin LPS apabila memenuhi persyaratan penjaminan, termasuk tercatat di bank, tidak melebihi batas nominal penjaminan, serta memperoleh bunga yang tidak melampaui tingkat bunga penjaminan yang berlaku. Karena itu, Gen Z perlu memeriksa ketentuan terbaru LPS sebelum menempatkan dana.
Untuk dana pensiun yang masih jauh dari waktu penggunaan, deposito sebaiknya tidak otomatis menjadi satu-satunya pilihan. Gen Z bisa mengkombinasikannya dengan instrumen lain dapat membantu menyeimbangkan kestabilan dan potensi pertumbuhan investasi.
Bagaimana Memulai Investasi Dana Pensiun?
Memilih instrumen berisiko rendah bukan berarti seluruh dana pensiun harus ditempatkan pada produk yang sama. Setiap instrumen memiliki karakteristik, risiko, dan jangka waktu yang berbeda. Gen Z perlu menyesuaikan pilihan dengan kondisi keuangan, kebutuhan likuiditas, serta kemampuan menghadapi perubahan nilai investasi.
Sebelum mulai berinvestasi, pastikan kebutuhan pokok terpenuhi, dana darurat tersedia, dan utang berbunga tinggi terkendali. Setelah itu, tentukan jumlah yang bisa disisihkan secara rutin. Dana pension tidak harus dimulai dengan nominal besar, sebab konsistensi selama bertahun-tahun lebih penting daripada memaksakan investasi yang justru mengganggu kebutuhan sehari-hari.
Gen Z juga perlu memperhitungkan inflasi ketika menentukan target dana pensiun. Uang yang terlihat cukup besar saat ini belum tentu memiliki daya beli yang sama beberapa puluh tahun mendatang. Karena itu, mengevaluasi portofolio secara berkala dan menyesuaikan strategi seiring bertambahnya usia menjadi bagian penting dari perencanaan.
Pada akhirnya, investasi berisiko rendah dapat membantu membangun fondasi dana pensiun yang lebih stabil, tetapi tidak menjamin hasil tertentu. Dengan memahami risiko, memilih produk yang sesuai, dan berinvestasi secara konsisten, Gen Z dapat mulai menyiapkan kebutuhan masa tua sejak dini tanpa harus menunggu penghasilan besar.
Penulis: Reihan Cahya (magang)



