IHSG Anjlok: Ekonom Peringatkan Risiko Fiskal dan Investor Era Prabowo-Gibran

Hikma Lia

Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 11,57 persen, menempatkannya pada level 5.185,11 pada penutupan perdagangan Jumat (16/10), telah memicu pertanyaan serius mengenai fondasi kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia. Peristiwa ini terjadi di tengah periode krusial, menandai dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sebuah momen yang secara alami menjadi sorotan evaluasi publik dan pasar terhadap kinerja pemerintahan.

Advertisements

IHSG, sebagai salah satu indikator utama kesehatan pasar saham dan cerminan dinamika ekonomi suatu negara, secara inheren bergerak mengikuti berbagai perkembangan. Indeks ini sangat sensitif terhadap berbagai faktor, baik yang bersifat domestik maupun global, yang dapat memunculkan sentimen positif maupun negatif di kalangan pelaku pasar. Penurunan signifikan yang terjadi baru-baru ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan sebuah sinyal yang memerlukan analisis mendalam terhadap faktor-faktor pendorongnya.

Penurunan IHSG kali ini dipengaruhi oleh beberapa elemen krusial. Salah satu pemicu eksternal yang signifikan adalah sorotan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), sebuah penyedia indeks pasar global terkemuka, terhadap tata kelola pasar modal Indonesia. Selain itu, faktor-faktor internal juga memegang peranan penting, termasuk arah kebijakan pemerintah dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya dalam aspek pengelolaan fiskal serta implementasi program-program prioritas nasional. Kombinasi faktor eksternal dan internal ini menciptakan ketidakpastian yang mempengaruhi keputusan investasi.

Advertisements

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurrahman, berpendapat bahwa sentimen yang dipicu oleh MSCI saja tidak cukup untuk menjelaskan kejatuhan IHSG yang sedemikian besar. Menurut analisis Rizal, gejolak pasar yang terjadi lebih jauh memperlihatkan adanya isu fundamental terkait kepercayaan investor terhadap beberapa aspek krusial di pasar modal. Hal ini mencakup transparansi kepemilikan saham, kewajaran dalam pembentukan harga, serta ketegasan pengawasan yang dilakukan oleh otoritas pasar modal. Isu-isu ini, jika tidak ditangani dengan serius, dapat mengikis keyakinan investor jangka panjang.

“MSCI menjadi pemicu investor menilai ulang risiko pasar Indonesia,” jelas Rizal kepada JawaPos.com pada Senin (19/10). Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa sorotan dari lembaga global seperti MSCI seringkali berfungsi sebagai katalis yang mendorong investor untuk melakukan re-evaluasi menyeluruh terhadap kondisi dan prospek pasar di suatu negara, terutama ketika ada kekhawatiran mendalam mengenai tata kelola dan integritas pasar.

IHSG Masih Dibayangi Tekanan, Ini 4 Saham Pilihan MNC Sekuritas untuk Trading

Meskipun demikian, Rizal mengingatkan bahwa penurunan IHSG yang terjadi saat ini belum secara otomatis mengindikasikan terjadinya krisis ekonomi sistemik. Penurunan nilai indeks saham, meskipun signifikan, dapat menjadi bagian dari koreksi pasar atau respons terhadap sentimen tertentu. Namun, risiko terhadap stabilitas ekonomi akan membesar secara eksponensial apabila tekanan yang dirasakan di pasar saham mulai merembet ke sektor-sektor ekonomi lainnya. Potensi rambatan ini mencakup pelemahan nilai tukar rupiah, peningkatan biaya pembiayaan bagi dunia usaha dan rumah tangga, penurunan minat investasi, hingga akhirnya berdampak negatif pada penciptaan lapangan kerja. Skenario ini akan mengubah gejolak pasar menjadi ancaman ekonomi yang lebih luas.

Selain persoalan yang terkait langsung dengan pasar modal, Rizal juga menyoroti potensi risiko fiskal yang berasal dari pembiayaan program-program prioritas pemerintah. Dua program yang secara spesifik disebut adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta inisiatif Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes). Kedua program ini, meskipun memiliki tujuan sosial yang mulia, memerlukan alokasi anggaran yang besar dan berpotensi membebani keuangan negara jika tidak dikelola dengan hati-hati.

Menurut Rizal, risiko fiskal yang melekat pada kedua program tersebut sangat ditentukan oleh beberapa faktor kunci. Ini termasuk keberlanjutan pendanaan dalam jangka panjang, kualitas pelaksanaan program di lapangan, serta efektivitas dalam menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata dan terukur bagi masyarakat. Apabila terjadi ekspansi program yang melampaui tingkat kesiapan pelaksanaan, kondisi ini berpotensi besar untuk menambah kewajiban finansial negara secara signifikan. Lebih lanjut, ekspansi yang tidak terukur juga dapat menggeser alokasi belanja negara dari sektor-sektor yang lebih produktif, yang seharusnya menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi.

Untuk mengukur dan memantau risiko fiskal ini secara komprehensif, Rizal menyarankan penggunaan beberapa indikator penting. “Ukurannya mencakup rasio bunga utang terhadap pendapatan, keseimbangan primer, kebutuhan pembiayaan, premi risiko Surat Berharga Negara (SBN), serta kewajiban penjaminan,” jelasnya. Indikator-indikator ini memberikan gambaran yang holistik mengenai kesehatan fiskal negara, kemampuan pemerintah untuk memenuhi kewajiban finansialnya, dan persepsi risiko oleh pasar terhadap utang pemerintah. Keseimbangan primer, misalnya, menunjukkan kemampuan pemerintah untuk membayar pengeluaran rutin tanpa harus berutang, sementara premi risiko SBN mencerminkan tingkat kepercayaan investor terhadap kemampuan negara membayar utangnya.

Rizal juga menegaskan bahwa keberhasilan program prioritas pemerintah tidak seharusnya hanya diukur dari besarnya anggaran yang telah terserap. Pendekatan semacam itu cenderung melihat pada aspek input daripada output dan dampak. Sebaliknya, pemerintah dituntut untuk menunjukkan hasil nyata yang dapat diverifikasi dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Contoh konkretnya adalah perbaikan status gizi masyarakat yang terukur melalui program MBG, serta peningkatan signifikan dalam kemandirian dan kapasitas usaha koperasi melalui inisiatif Kopdes. Evaluasi berbasis hasil ini krusial untuk memastikan efektivitas dan efisiensi belanja negara.

Evaluasi yang mendalam dan transparan terhadap program-program pemerintah menjadi sangat penting guna memastikan bahwa setiap belanja negara benar-benar menghasilkan manfaat yang sepadan dengan biaya yang telah dikeluarkan. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi, pemerintah memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kredibilitas fiskal. Hal ini harus dilakukan tanpa mengorbankan program-program yang esensial untuk mendukung produktivitas jangka panjang dan kesejahteraan masyarakat. Kredibilitas fiskal yang kuat akan menjadi jangkar di tengah gejolak, sementara program yang tepat sasaran akan menjadi motor penggerak pertumbuhan inklusif.

Pembenahan Pasar Modal dan Evaluasi Program Prioritas

Menanggapi kejatuhan IHSG yang terjadi, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, pada Minggu (18/10), menyatakan bahwa pihaknya telah mengambil langkah proaktif. OJK, bekerja sama dengan Self-Regulatory Organizations (SRO) pasar modal, telah mengundang berbagai pelaku pasar, termasuk analis, ekonom, dan financial influencer, untuk berdiskusi. Tujuan pertemuan ini adalah untuk membahas perkembangan terkini di pasar modal serta menghimpun masukan dan pandangan dari berbagai pihak yang terlibat langsung.

Dalam kesempatan tersebut, Friderica menegaskan pendekatan OJK. “Regulator tidak hanya hadir untuk menyampaikan kebijakan kepada pelaku pasar. Kami justru ingin mendengar masukan dan pandangan secara terbuka, termasuk berbagai hal yang mungkin belum kami ketahui. Masukan tersebut penting untuk memperkuat langkah kita bersama dalam mengembangkan dan memperkuat pasar modal dalam negeri,” ujar Friderica dalam keterangan tertulisnya. Pernyataan ini menunjukkan komitmen OJK untuk menjadi regulator yang responsif dan kolaboratif, yang tidak hanya memberlakukan aturan tetapi juga mendengarkan aspirasi dan tantangan yang dihadapi oleh pasar.

Secara paralel, dari sisi penegakan hukum, OJK juga telah menunjukkan ketegasannya. Pada Jumat (16/10), OJK mengumumkan sanksi administratif berupa denda dengan total nilai fantastis sebesar Rp 2,1 triliun kepada pihak-pihak yang terbukti melakukan pelanggaran di pasar modal. Sanksi ini dijatuhkan kepada beberapa entitas besar: denda sebesar Rp 1,5 triliun diberikan kepada PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), Rp 500 miliar kepada PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan Rp 100 miliar kepada PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Penegakan hukum ini diharapkan dapat memberikan efek jera dan memulihkan integritas pasar.

Polri Usut Pidana Ambruknya IHSG, Sahroni sebut Penting untuk Pulihkan Kepercayaan Investor

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa penegakan hukum yang dilakukan OJK tersebut merupakan bagian integral dari proses pemeriksaan yang telah berjalan secara berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa sanksi ini bukan semata-mata respons reaktif terhadap gejolak pasar yang terjadi belakangan ini, melainkan hasil dari investigasi dan pengawasan yang telah dilakukan sebelumnya. Penjelasan ini penting untuk menunjukkan bahwa OJK memiliki mekanisme pengawasan yang proaktif dan tidak hanya bertindak ketika pasar sedang dalam tekanan.

Hasan Fawzi juga menyampaikan seruan kepada seluruh pemangku kepentingan pasar. “Pasar modal kita adalah rumah dan milik kita bersama. Berbagai tekanan yang dihadapi perlu kita respons dengan solusi yang konstruktif. Dalam kondisi ini, kita harus bersama-sama dan bersatu untuk memberikan respons yang terukur, serta menghadirkan fakta dan rasionalitas sebagai penyeimbang sentimen pasar,” ujar Hasan. Pesan ini menekankan pentingnya kolaborasi, objektivitas, dan pendekatan yang tenang dalam menghadapi turbulensi pasar, menghindari kepanikan yang dapat memperburuk situasi.

Sementara itu, Ekonom INDEF M. Rizal Taufikurrahman kembali mengingatkan bahwa upaya pemulihan kepercayaan investor membutuhkan langkah-langkah konkret yang hasilnya dapat diverifikasi secara objektif. Langkah-langkah ini tidak bisa hanya berupa janji atau pernyataan belaka. Ia menguraikan beberapa aspek krusial yang harus ditangani, termasuk peningkatan keterbukaan informasi mengenai pemilik manfaat saham, penindakan tegas terhadap praktik manipulasi pasar, serta transparansi penuh dalam pembiayaan program-program prioritas pemerintah. Implementasi nyata dari poin-poin ini akan menjadi indikator utama bagi investor.

Di sisi lain, Rizal juga menyoroti perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes). Ia menekankan bahwa perluasan program-program ini harus disesuaikan dengan hasil evaluasi yang komprehensif mengenai kesiapan infrastruktur, kelayakan implementasi, dan potensi manfaat ekonomi yang dapat dihasilkan. Ekspansi tanpa persiapan matang berisiko menimbulkan masalah baru, baik dari segi fiskal maupun efektivitas program.

“Perluasan MBG dan Kopdes harus mengikuti evaluasi kesiapan, kelayakan, dan hasil,” tegas Rizal, mengulang dan memperkuat argumennya tentang pentingnya pendekatan berbasis bukti dalam kebijakan publik. Ini menunjukkan bahwa meskipun tujuan program baik, eksekusi dan dampaknya harus menjadi prioritas utama.

Pemerintah juga memiliki peran krusial dalam menjaga kepastian berusaha bagi para pelaku ekonomi, melindungi alokasi belanja yang produktif, dan mempertahankan daya beli masyarakat di tengah gejolak. Menurut Rizal, konsistensi kebijakan merupakan faktor penentu yang sangat penting. Konsistensi ini tidak hanya mampu menekan berbagai risiko yang mungkin muncul, tetapi juga secara bersamaan dapat mendorong minat investasi jangka panjang dan pada akhirnya menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Lingkungan kebijakan yang stabil dan prediktif adalah daya tarik utama bagi investor.

Rizal menilai bahwa kepercayaan investor tidak akan pulih hanya melalui serangkaian pernyataan atau janji-janji dari pemerintah. Kredibilitas yang kuat dan berkesinambungan harus dibangun melalui implementasi kebijakan yang konsisten, transparan, dan yang terpenting, dapat dibuktikan hasilnya secara nyata. Investor mencari bukti konkret dari komitmen pemerintah terhadap tata kelola yang baik dan stabilitas ekonomi, bukan hanya retorika.

Belajar dari Krisis Ekonomi Sebelumnya

Rizal juga mengingatkan bahwa gejolak ekonomi yang terjadi saat ini perlu dicermati dengan perspektif yang lebih luas, yaitu dengan mempertimbangkan pengalaman Indonesia dalam menghadapi berbagai krisis ekonomi sebelumnya. Setiap krisis memiliki karakteristik dan pemicu yang unik, dan memahami konteks historis ini dapat membantu dalam merumuskan respons yang lebih tepat dan efektif.

Sebagai contoh, krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997–1998 memiliki akar yang kuat pada kerentanan di sektor valuta asing dan perbankan. Kemudian, krisis global tahun 2008 dipicu oleh guncangan keuangan yang berasal dari pasar hipotek di Amerika Serikat dan menyebar ke seluruh dunia. Sementara itu, krisis pada tahun 2020 merupakan konsekuensi langsung dari dampak pandemi Covid-19 yang mengganggu rantai pasok global dan aktivitas ekonomi secara masif. Membedah pemicu masing-masing krisis memberikan pelajaran berharga.

Adapun gejolak pasar yang sedang terjadi saat ini, menurut Rizal, lebih menonjolkan persoalan kepercayaan terhadap tata kelola pasar modal. Meskipun demikian, kondisi ini belum dapat disamakan dengan krisis ekonomi sistemik yang pernah dialami Indonesia sebelumnya. Perbedaan dalam pemicu dan skala dampak menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan serius, fondasi ekonomi mungkin masih memiliki ketahanan yang berbeda dibandingkan dengan krisis-krisis masa lalu. Namun, bukan berarti ancaman tersebut dapat diabaikan.

“Pelajarannya, guncangan semakin merusak ketika bertemu utang rapuh dan perlindungan sosial lemah,” ungkap Rizal. Pernyataan ini merangkum esensi dari kerentanan ekonomi: ketika sebuah negara memiliki beban utang yang besar dan sistem perlindungan sosial yang tidak memadai, setiap guncangan ekonomi, sekecil apa pun, akan memiliki dampak yang jauh lebih parah dan meluas ke seluruh lapisan masyarakat. Ini adalah pelajaran krusial dari sejarah.

Pengalaman dari krisis-krisis sebelumnya juga secara jelas menunjukkan bahwa dampak dari gejolak ekonomi tidak hanya terbatas pada pasar keuangan semata. Ketika tekanan ekonomi berlanjut dan memburuk, masyarakat berpenghasilan rendah adalah kelompok yang paling rentan dan berisiko menghadapi dampak yang jauh lebih berat. Hal ini termanifestasi dalam bentuk berkurangnya kesempatan kerja, melemahnya daya beli secara signifikan, dan peningkatan beban pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Kelompok ini seringkali tidak memiliki bantalan finansial yang cukup untuk menyerap guncangan tersebut.

Untuk mengantisipasi memburuknya kondisi tersebut, Rizal menyarankan agar masyarakat secara individu menjaga likuiditas keuangan mereka dan sebisa mungkin mengurangi utang konsumtif. Langkah-langkah ini dapat membantu individu dan rumah tangga memiliki ketahanan finansial yang lebih baik. Namun, ia juga menekankan bahwa tanggung jawab utama dan terbesar untuk melindungi masyarakat dari dampak gejolak ekonomi tetap berada di pundak pemerintah. Peran pemerintah sangat vital dalam menjaga stabilitas dan kesejahteraan warganya.

“Masyarakat perlu menjaga likuiditas dan mengurangi utang konsumtif, tetapi tanggung jawab utama pemerintah adalah melindungi pekerjaan, keterjangkauan pangan, dan layanan dasar agar biaya penyesuaian tidak dibebankan kepada kelompok bawah,” pungkas Rizal. Pesan ini menggarisbawahi bahwa dalam menghadapi tantangan ekonomi, ada peran ganda yang harus dijalankan: masyarakat dengan pengelolaan keuangan pribadi yang bijak, dan pemerintah dengan kebijakan yang melindungi kelompok paling rentan dari dampak penyesuaian ekonomi.

Advertisements

Also Read

Tags