BANYU POS JAKARTA. Bursa saham Indonesia mengalami tekanan setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi untuk menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Rencana tersebut menjadi salah satu isu utama yang mencuat di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), kendati pada perdagangan hari Selasa (20/10/2026) IHSG rebound 5,65% ke levell 5.278,88 saat perdagangan ditutup.
Direktur Eksekutif Infra Bestari Gede Sandra menilai, rencana MSCI tersebut tidak berkaitan dengan aksi akuisisi 30,25% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
OJK Kebut Penyempurnaan Reformasi Pasar Modal Jelang Tenggat MSCI
“Itu kan murni bisnis, satunya lagi soal kebijakan internalnya (MSCI),” kata Gede, dikutip dari Warta Kota, Selasa (20/10/2026).
Menurut dia, transaksi BYAN merupakan keputusan bisnis yang terpisah dari kebijakan MSCI sebagai penyedia indeks global.
Meski demikian, Gede menilai pihak perbankan dapat memberikan penjelasan lebih terperinci kepada pasar mengenai transaksi tersebut.
MSCI merupakan penyedia indeks pasar saham global yang menjadi acuan bagi manajer investasi dan investor institusional dalam mengukur kinerja portofolio.
Karena itu, perubahan klasifikasi pasar suatu negara berpotensi memengaruhi cara investor global mengakses dan menempatkan investasinya di pasar tersebut.
Emerging market merupakan klasifikasi pasar negara berkembang yang telah terintegrasi dengan pasar keuangan global.
Adapun standalone market merupakan kategori tersendiri bagi pasar saham yang tidak memenuhi atau tidak lagi berada dalam klasifikasi pasar maju, berkembang, maupun perintis.
Saham Batubara Lebih Tahan Guncangan MSCI, Indo Premier Jagokan Saham AADI dan PTBA
Dalam teks yang menjadi dasar pemberitaan ini, persoalan transparansi kepemilikan saham, termasuk informasi free float dan pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner), serta integritas pasar dan dugaan perdagangan terkoordinasi disebut sebagai faktor yang berkaitan dengan klasifikasi pasar.
Gede menilai rencana penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia perlu dilihat dalam konteks hubungan Indonesia dengan pasar keuangan internasional.
Ia juga menyoroti pertemuan Menteri Keuangan Suahasil Nazara bersama petinggi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia dalam rangkaian IMF–World Bank Group Annual Meetings 2026 di Bangkok, Thailand, pada 12–18 Oktober 2026.
Menurut Gede, pertemuan tersebut sempat memunculkan harapan bahwa hubungan Indonesia dengan pelaku pasar global, termasuk MSCI, dapat membaik. Namun, ia menilai perkembangan yang terjadi belum sesuai dengan harapan tersebut.
Sementara itu, mantan Menteri Perdagangan M Lutfi dalam akun TikTok m.lutfi menyoroti besarnya investasi asing di Singapura dan menduga sejumlah institusi investasi di negara tersebut memiliki kepentingan terhadap perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia.
Lutfi merujuk data investasi asing di Singapura pada 2024 yang berada di kisaran US$ 3.130 miliar hingga US$ 3.169 miliar. Dari jumlah tersebut, investasi Amerika Serikat disebut mencapai sekitar 28% atau US$ 874,9 miliar.
Usai Bertemu MSCI, BEI akan Keluarkan 80 Saham HSC dari IHSG, Ini Daftarnya
Menurut Lutfi, tekanan terhadap IHSG dapat membuka peluang bagi investor untuk membeli saham Indonesia pada harga yang lebih rendah.
Menurutnya saat ini investor asing telah menarik sekitar 80% dananya dari pasar saham Indonesia, tetapi bursa domestik belum mengalami kejatuhan seperti yang diperkirakannya.
Sumber: https://www.tribunnews.com/bisnis/7899672/bursa-saham-indonesia-terancam-turun-kasta-analis-menduga-ada-kepentingan-asing?page=all&s=paging_new.




