Cara menilai saham dividen agar tidak terjebak dividend trap

Hikma Lia

Saham yang rutin membagikan dividen sering menarik perhatian investor karena menawarkan potensi pendapatan di luar kenaikan harga saham. Semakin tinggi imbal hasil dividen atau dividend yield, semakin besar pula pendapatan yang terlihat dapat diperoleh dari modal yang kita tanamkan. Namun, angka yang menggiurkan tersebut tidak selalu mencerminkan kondisi perusahaan yang sehat.

Advertisements

Dalam investasi saham, ada istilah dividend trap untuk menggambarkan situasi ketika imbal hasil dividen terlihat tinggi, tetapi menyimpan risiko yang dapat merugikan investor. Kondisi ini bisa terjadi ketika harga saham anjlok, kemampuan perusahaan menghasilkan laba melemah, atau pembagian dividen tidak dapat dipertahankan. Sebelum membeli saham, ada beberapa cara menilai saham dividen agar tidak terjebak dividend trap.

1. Dividend yield tinggi akibat harga saham yang jatuh

Advertisements

Dividend yield merupakan perbandingan dividen tahunan per saham dengan harga saham saat ini. Sebagai contoh, perusahaan membagikan dividen Rp500 per saham dalam setahun dan harga sahamnya Rp10.000, sehingga dividend yield mencapai 5 persen. Jika harga saham turun menjadi Rp5.000 sementara dividen masih sama, dividend yield akan naik menjadi 10 persen.

Kenaikan persentase tersebut memang terlihat menarik, tetapi kita perlu mencari tahu alasan harga saham turun. Penurunan harga bisa terjadi karena sentimen pasar, tetapi bisa juga mencerminkan masalah bisnis, penurunan laba, atau prospek perusahaan yang memburuk. Jika penyebabnya berkaitan dengan fundamental, dividen tinggi belum tentu cukup untuk mengimbangi risiko kerugian dari penurunan harga saham.

2. Laba perusahaan tidak cukup untuk membayar dividen

Dividen umumnya dibagikan dari laba yang tersedia bagi pemegang saham, sehingga kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan perlu diperhatikan. Salah satu indikator yang dapat kita periksa adalah dividend payout ratio, yaitu persentase laba bersih yang dibagikan sebagai dividen. Rasio ini dihitung dengan membagi total dividen dengan laba bersih, kemudian mengalikannya dengan 100 persen.

Misalnya, perusahaan memperoleh laba bersih Rp1 triliun dan membagikan dividen Rp800 miliar. Artinya, dividend payout ratio mencapai 80 persen, sehingga sebagian besar laba digunakan untuk membayar pemegang saham. Rasio tinggi tidak otomatis menandakan masalah, tetapi jika laba terus menurun sementara dividen tetap besar, perusahaan mungkin kesulitan mempertahankan pembayaran tersebut dalam jangka panjang.

3. Arus kas perusahaan tidak mendukung pembagian dividen

Laba bersih bukan satu-satunya indikator yang perlu kita perhatikan karena perusahaan juga membutuhkan uang tunai untuk menjalankan bisnisnya. Arus kas operasional menunjukkan uang yang dihasilkan dari kegiatan utama perusahaan, sedangkan arus kas bebas atau free cash flow memperhitungkan belanja modal yang diperlukan untuk mempertahankan dan mengembangkan bisnis. Kedua indikator ini membantu kita menilai apakah perusahaan memiliki kemampuan finansial untuk membagikan dividen.

Perusahaan bisa saja mencatat laba akuntansi, tetapi memiliki arus kas yang lemah karena pembayaran pelanggan terlambat atau kebutuhan modal kerja meningkat. Jika perusahaan terus membagikan dividen tanpa arus kas yang memadai, perusahaan mungkin perlu menggunakan kas yang tersedia, menjual aset, atau menambah utang. Karena itu, kita sebaiknya membandingkan pembayaran dividen dengan arus kas perusahaan, bukan hanya mengandalkan angka laba bersih.

4. Dividen besar tidak menjamin keuntungan total yang positif

Keuntungan investasi saham tidak hanya berasal dari dividen, tetapi juga dari perubahan harga saham. Total imbal hasil atau total return memperhitungkan pendapatan dividen dan perubahan nilai investasi selama periode tertentu. Dengan demikian, saham yang membagikan dividen besar tetap dapat menghasilkan kerugian jika penurunan harganya lebih besar daripada pendapatan yang diterima.

Sebagai ilustrasi, kita membeli saham senilai Rp10 juta dan menerima dividen Rp500 ribu selama setahun. Jika nilai saham tersebut turun menjadi Rp8 juta, total nilai investasi beserta dividen menjadi Rp8,5 juta, atau turun 15 persen dari modal awal sebelum memperhitungkan biaya dan pajak. Contoh ini menunjukkan bahwa dividen perlu dinilai bersama potensi perubahan harga saham, kondisi bisnis, serta risiko yang harus kita tanggung.

Dividend trap mengingatkan kita bahwa imbal hasil dividen yang tinggi tidak selalu menunjukkan peluang investasi yang menarik. Sebelum membeli saham, kita perlu mengetahui cara menilai saham dividen agar tidak terjebak dividend trap. Kita bisa memulainya dengan memeriksa penyebab perubahan harga, kemampuan laba untuk membayar dividen, kondisi arus kas, dan potensi keuntungan total. Dengan menilai berbagai indikator tersebut secara bersamaan, kita dapat menghindari keputusan yang hanya didasarkan pada besarnya dividen dan lebih memahami risiko investasi yang sebenarnya.

Berkshire Kalahkan Saham Chip, Apakah Ini Sinyal AI Bubble? Apa Itu Exchange dalam Saham? Ini Pengertian dan Fungsinya 5 Saham Industri yang Bisa Terdampak oleh Belanja Infrastruktur AS

Advertisements

Also Read

Tags