BI akui outflow pasar saham akibat MSCI sudah merambat ke SBN-SRBI

Hikma Lia

BANYU POS – , JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing keluar dari pasar saham akibat peluncuran konsultasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) sudah turut dirasakan oleh instrumen investasi lainnya seperti Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). 

Advertisements

Pada taklimat media yang diselenggarakan Jumat (23/10/2026), Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Hutapea mengatakan bahwa pihaknya telah mengamati tren outflow pada pasar keuangan Indonesia usai pengumuman MSCI Jumat pekan lalu. 

“Outflow tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi SBN juga outflow, SRBI juga outflow,” ujarnya di Gedung BI, Jakarta, dikutip Sabtu (24/10/2026).  

Advertisements

Akibat outflow tersebut, BI telah merespons dengan sejumlah bauran kebijakan untuk memastikan jumlah likuiditas rupiah di dalam negeri tetap memadai sekaligus dapat memfasilitasi transaksi. 

Sebagai catatan, tingkat imbal hasil (yield) SBN pemerintah tenor 10 tahun sudah merangkak naik beberapa hari belakangan usai usulan MSCI terkait downgrade status pasar saham dari Emerging ke Standalone Market. 

Berdasarkan data Investing.com, yield SBN tercatat naik dari posisi 7,16% pada Senin (19/10/2026) ke 7,44% pada Kamis (23/10/2026). MSCI mengumumkan pembukaan konsultasi atas peluang mereklasifikasi status pasar saham Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market pada Jumat (16/10/2026) waktu Indonesia. 

Guna merespons kondisi tersebut, lanjut Erwin, pihaknya akan menjaga daya tarik SRBI lewat kenaikan yield. “Jadi kami menjaga daya tarik yield, lewat SRBI, dan kemudian kawan-kawan juga mengamati bahwa sudah terjadi koreksi terkait dengan pergerakan yield di SBN. Tadinya [tenor] 10 tahun itu di bawah 7%, sekarang kan sudah di atas 7%,” paparnya.

Upaya BI untuk menarik arus modal asing masuk tidak hanya melalui SRBI. Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Oktober 2026 lalu, bank sentral juga mengumumkan kenaikan insentif atau diskon untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Lindung Nilai alias hedging dari 25% menjadi 40% untuk tenor 6 bulan, dan 30% ke 40% untuk tenor 12 bulan. 

“Insentif yang diberikan dalam konteks lindung nilai baik itu untuk kepentingan portofolio investasi, FDI [foreign direct investment] ataupun pinjaman luar negeri yang masuk dalam skema pendanaan luar negeri ataupun juga ada insentif dalam konteks kami mendorong LCT [local currency transaction],” terangnya.

Selanjutnya, apabila outflow pasar keuangan merambat ke volatilitas nilai tukar, BI akan memperkuat operasi moneter lebih lanjut dengan mengacu pada batas toleransi tingkat volatilitas nilai tukar rupiah. “Tetapi so far kalau kami lihat masih tidak berlebihan pergerakan nilai tukarnya. Ya sempat melemah di atas Rp18.000 tetapi kami masih bisa kelola dengan baik,” ujarnya. 

Adapun nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan kemarin, Jumat (23/10/2026) tercatat pada level Rp18.078 per dolar Amerika Serikat (AS). 

Advertisements

Also Read