Denominasi USD tak jamin untung, reksadana saham Indonesia anjlok

Hikma Lia

BANYU POS – JAKARTA. Kinerja reksadana berbasis dolar Amerika Serikat (AS) atau USD sepanjang 2026 bergerak tak seragam. Reksadana berbasis saham global mencatatkan kinerja positif, sebaliknya reksadana saham USD dengan underlying aset saham Indonesia justru mencatat koreksi paling dalam.

Advertisements

Fund Manager Syailendra Capital, Rendy Wijaya, memaparkan hingga September 2026, reksadana USD kategori Global Fund di Syailendra Capital mencatatkan return sebesar 9,97% YtD. Kemudian weighted average return berdasarkan asset under management (AUM), mencatat return sebesar 14,65%. Sebanyak 76% produk dalam kategori tersebut juga mencatatkan imbal hasil positif.

Reksadana pasar uang USD turut membukukan kinerja positif dengan return sebesar 2% YtD. Sebaliknya, reksadana pendapatan tetap USD mencatatkan return minus 2,67% YtD, reksadana campuran terkoreksi 8,72% YtD, sedangkan reksadana saham USD dengan aset dasar saham Indonesia mencatatkan penurunan terdalam sebesar 28,22% YtD.

Advertisements

IHSG Ditutup Melemah, Simak Proyeksi Pergerakan untuk Selasa (27/10)

“Dibandingkan periode yang sama pada 2025, Global Fund tetap menjadi kelas aset dengan kinerja terbaik. (Jika dibandingkan) Hingga September 2025, seluruh kelas aset USD masih mencatatkan return positif,” terang Rendy kepada Kontan, Senin (26/10/2026).

Rinciannya, sepanjang periode yang sama tahun 2025, Global Fund mencatatkan return 10,73% YtD, reksadana campuran 10,69% YtD, reksadana saham 9,94% YtD, pendapatan tetap 4,46% YtD, dan pasar uang 2,80% YtD.

Rendy menjelaskan, kinerja Global Fund terutama ditopang oleh karakteristik indeks saham syariah global yang cenderung memiliki bobot lebih besar pada sektor teknologi. Hal ini terjadi karena emiten dengan bisnis keuangan berbasis bunga dikecualikan dari kelompok aset yang dapat diinvestasikan, sehingga bobot sektor keuangan relatif lebih rendah.

Kondisi tersebut membuat reksadana saham global syariah diuntungkan oleh reli saham teknologi, terutama perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau AI dan semikonduktor. Penguatan saham Samsung dan SK hynix di Korea Selatan menjadi salah satu contohnya.

Kedua, eksposur aset luar negeri memberikan diversifikasi dari risiko pasar domestik. Misalnya, ketika IHSG tertekan dan rupiah melemah, Global Fund yang berinvestasi di pasar luar negeri tidak secara langsung terpapar pada penurunan pasar saham Indonesia.

“Sebaliknya, reksadana saham USD dengan underlying aset Indonesia tetap menghadapi risiko penurunan IHSG. Artinya, denominasi USD tidak serta-merta melindungi investor dari kerugian investasi,” tegas Rendy.

Arah Gerak Rupiah Dibayangi Ketidakpastian Konflik Timur Tengah dan Pertemuan The Fed

Di sisi lain, Rendy menyebut pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang berturut-turut terjadi sepanjang tahun ini berpotensi mempengaruhi imbal hasil yang diterima investor domestik. Dicatat Rendy, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah melemah sekitar 8% sejak awal 2026 hingga saat ini.

Menurutnya, investasi pada reksadana USD dapat memberikan manfaat diversifikasi bagi investor domestik, termasuk dalam menghadapi risiko fluktuasi nilai tukar. Meski, perlu dicermati bahwa kinerja akhirnya tetap dipengaruhi oleh pergerakan aset dasar yang menjadi portofolio produk.

Pergerakan pasar keuangan AS, baik di pasar saham maupun obligasi, menjadi katalis utama bagi kinerja reksadana USD. Di tengah volatilitas pasar keuangan global yang masih tinggi, Rendy menyarankan investor untuk masuk secara bertahap apabila ingin menambah investasi atau melakukan diversifikasi ke reksadana USD.

Menakar Dampak Dikeluarkannya Saham HSC Terhadap Kinerja Reksadana Indeks

Dari sisi dana kelolaan, Syailendra Capital mencatatkan peningkatan AUM yang cukup signifikan pada produk reksadana USD sejak awal 2026. Meski tak membeberkan secara detail berapa nilai AUM-nya, Rendy bilang, pertumbuhan tersebut didorong oleh investor yang ingin memperoleh eksposur pada perusahaan-perusahaan AS maupun melindungi aset dari pelemahan rupiah.

“Minat investor domestik mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yang tercermin dari pertumbuhan AUM pada reksadana USD secara keseluruhan,” pungkasnya.

Advertisements

Also Read

Tags