Laba MAPI dan MAPA Melonjak 24% Usai Akuisisi Sports Direct

Hikma Lia

Dua entitas ritel terkemuka di bawah naungan Grup MAP, yaitu PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan anak usahanya PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), telah mencatatkan kinerja keuangan yang substansial dan positif hingga kuartal ketiga tahun ini. Pencapaian ini terjadi pasca akuisisi strategis perusahaan ritel asal Inggris, Sports Direct di Malaysia, dengan nilai investasi mencapai Rp 2,5 triliun pada bulan Juli. Aksi korporasi signifikan ini, bersama dengan strategi ekspansi berkelanjutan, berkontribusi pada peningkatan laba bersih kedua perusahaan yang tercatat mengalami pertumbuhan dua digit.

Advertisements

PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) berhasil membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,72 triliun. Angka ini merepresentasikan peningkatan sebesar 25,54% dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka Rp 1,37 triliun. Lonjakan laba bersih ini secara langsung berkorelasi dengan peningkatan pendapatan perseroan yang mencapai Rp 37,43 triliun, tumbuh signifikan dari Rp 28,84 triliun secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan pendapatan yang solid ini menunjukkan kapabilitas MAPI dalam memanfaatkan peluang pasar dan memperluas jangkauan operasionalnya.

Sumber utama pemasukan bagi perseroan berasal dari penjualan eceran dan grosir, yang menyumbang Rp 36,1 triliun dari total pendapatan. Segmen ini secara konsisten menjadi tulang punggung finansial MAPI, menggarisbawahi kekuatan portofolio merek dan jaringan distribusinya. Selain itu, pendapatan juga ditopang oleh komisi penjualan konsinyasi sebesar Rp 1,04 triliun, pendapatan sewa dan jasa pemeliharaan sebesar Rp 107,47 miliar, serta pendapatan lain-lain yang mencapai Rp 184 miliar. Diversifikasi sumber pendapatan ini menunjukkan fleksibilitas model bisnis MAPI dalam menghasilkan arus kas dari berbagai lini usaha. Seiring dengan peningkatan pendapatan, beban pokok pendapatan juga mengalami kenaikan, tercatat sebesar Rp 22,18 triliun, bertambah dari Rp 17,37 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan beban pokok pendapatan ini merupakan konsekuensi langsung dari volume penjualan yang lebih tinggi dan aktivitas operasional yang lebih intensif.

Advertisements

Ratih Darmawan Gianda, VP Investor Relations, Corporate Communications and Sustainability MAP Group, mengungkapkan bahwa EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) perseroan selama sembilan bulan pertama tahun ini tercatat sebesar Rp 6 triliun. Khusus untuk kuartal ketiga, laba bersih perseroan mencapai Rp 676 miliar, dengan EBITDA yang tercatat sebesar Rp 2,2 triliun. Angka-angka ini mencerminkan kinerja operasional yang kuat sebelum memperhitungkan biaya bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi, memberikan gambaran yang jelas mengenai profitabilitas inti bisnis. Ratih menjelaskan bahwa momentum positif ini didukung oleh portofolio merek yang beragam dan kapabilitas multi-saluran (multi-channel) yang dimiliki perusahaan. Ia juga menambahkan bahwa respons positif dari pelanggan selama periode penting seperti Back-to-School dan Hari Kemerdekaan turut menegaskan bahwa produk-produk yang ditawarkan oleh Grup MAP tetap relevan dan diminati oleh konsumen di pasar.

Pada kuartal ketiga, Grup MAP tidak hanya berfokus pada peningkatan kinerja finansial, tetapi juga pada strategi ekspansi dan penguatan portofolio merek. Perseroan kembali menghadirkan beberapa merek ternama di pasar Indonesia, termasuk Ace Hardware yang dikenal dengan produk perbaikan rumah tangga, Creed sebagai merek parfum mewah, dan Parfois yang menawarkan aksesori fashion. Langkah ini menunjukkan komitmen Grup MAP untuk terus memperkaya pilihan konsumen dengan merek-merek berkualitas dari berbagai segmen. Selain itu, perseroan juga memperluas jejak bisnisnya secara regional dengan mengakuisisi Sports Direct di Malaysia, sebuah langkah yang memperkuat posisi Grup MAP di sektor ritel olahraga dan gaya hidup di Asia Tenggara. Ekspansi regional ini semakin diperkuat dengan perjanjian distribusi eksklusif dengan Musinsa, platform e-commerce fashion terkemuka dari Korea Selatan, untuk pasar Indonesia dan Malaysia. Kemitraan dengan Musinsa membuka jalan bagi Grup MAP untuk menjangkau segmen pasar yang lebih muda dan digital-savvy, serta memperluas penawaran produk fashionnya.

Menjelang kuartal keempat tahun ini, Ratih menjelaskan bahwa perseroan akan memfokuskan upaya untuk memberikan nilai tambah yang berkelanjutan kepada pelanggan. Dalam menghadapi ketidakpastian makroekonomi yang mungkin terjadi, perseroan tetap menjaga sikap hati-hati, dengan mengandalkan model bisnis terintegrasi sebagai landasan yang kuat untuk menghadapi tantangan di masa depan. Model bisnis terintegrasi ini mencakup pengelolaan rantai pasok yang efisien, strategi pemasaran yang terkoordinasi, dan pengalaman pelanggan yang konsisten di berbagai saluran. Ratih menegaskan keyakinannya bahwa keunggulan ini, didukung oleh fokus berkelanjutan pada pelaksanaan strategi yang telah ditetapkan, akan membantu MAP menjadi perusahaan yang semakin kuat dan mampu memberikan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemegang saham, karyawan, mitra bisnis, dan masyarakat.

Sementara itu, anak usaha MAPI, PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), yang berfokus pada ritel produk olahraga, gaya hidup aktif, dan anak-anak, juga menunjukkan pertumbuhan yang impresif. MAPA membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,44 triliun. Angka ini merefleksikan kenaikan sebesar 24,13% dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada periode yang sama tahun sebelumnya, yang tercatat sebesar Rp 1,16 triliun. Kinerja positif ini turut didorong oleh pendapatan perseroan yang mencapai Rp 16,43 triliun hingga September, meningkat dari Rp 13,94 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Peningkatan pendapatan ini mengindikasikan bahwa merek-merek di bawah MAPA, termasuk yang baru diakuisisi seperti Sports Direct, berhasil menarik minat konsumen. Sejalan dengan peningkatan pendapatan, beban pokok penjualan MAPA juga mengalami kenaikan menjadi Rp 8,69 triliun dari Rp 7,43 triliun secara tahunan. Kenaikan beban pokok penjualan ini merupakan indikator volume penjualan yang lebih tinggi dan aktivitas operasional yang meningkat untuk memenuhi permintaan pasar.

Melihat pergerakan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, saham MAPI tercatat stagnan di level Rp 1.325 pada perdagangan sesi I hari Selasa (27/10). Meskipun demikian, saham MAPI telah menunjukkan pertumbuhan yang solid sebesar 13,73% sejak awal tahun, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek bisnis Grup MAP secara keseluruhan. Di sisi lain, saham MAPA mengalami kenaikan tipis sebesar 2,52% menjadi Rp 610 pada perdagangan sesi pertama. Namun, secara kinerja sejak awal tahun, saham MAPA terkoreksi sebesar 8,96%. Perbedaan kinerja saham antara MAPI dan MAPA, meskipun keduanya mencatat pertumbuhan laba bersih yang positif di kuartal ketiga, dapat mencerminkan berbagai faktor, termasuk ekspektasi pasar yang berbeda, valuasi, atau sentimen investor terhadap segmen pasar spesifik yang dilayani oleh masing-masing perusahaan. Kinerja keuangan yang kuat dari kedua emiten ini menggarisbawahi posisi strategis Grup MAP sebagai pemain kunci dalam industri ritel Indonesia dan kawasan.

Advertisements

Also Read

Tags