Laba Bersih PTBA Melonjak 216% Tembus Rp 4,41 Triliun di Q3 2026

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan perolehan kinerja keuangan yang sangat solid hingga periode kuartal III-2026. Anggota dari BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID ini berhasil mengantongi laba bersih sebesar Rp 4,41 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2026. Perolehan tersebut mencerminkan lonjakan yang sangat signifikan sebesar 216,3% secara tahunan atau year on year (YoY) apabila dibandingkan dengan pencapaian laba bersih pada periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 1,39 triliun.

Advertisements

Kenaikan laba bersih perseroan yang tumbuh lebih dari tiga kali lipat tersebut ditopang oleh kombinasi beberapa faktor utama. Di antaranya adalah pertumbuhan pendapatan usaha, penguatan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) komoditas batu bara di pasar global, serta penerapan efisiensi dan pengendalian biaya operasional yang ketat di seluruh lini rantai bisnis perusahaan.

Dari sisi pendapatan, PTBA membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 35,20 triliun per September 2026. Capaian top line ini mengalami peningkatan sebesar 12,4% YoY jika dibandingkan dengan pendapatan usaha pada sembilan bulan pertama tahun 2025 yang berada di angka Rp 31,33 triliun. Sejalan dengan kenaikan pendapatan tersebut, laba kotor perseroan melesat 103,9% YoY menjadi Rp 7,27 triliun. Laba usaha juga mencatatkan kenaikan fantastis sebesar 220,3% YoY menjadi Rp 5,11 triliun, sementara perolehan EBITDA melambung 102,2% YoY menjadi Rp 7,19 triliun. Melalui capaian finansial ini, PTBA sukses mencatatkan margin laba bersih di level 13% dan margin EBITDA sebesar 20%.

Advertisements

Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk, Bambang Ismawan, menyatakan bahwa raihan kinerja keuangan yang cemerlang hingga kuartal III-2026 didorong oleh pemulihan volume produksi yang semakin membaik, optimalisasi bauran penjualan produk, serta kedisiplinan tinggi dalam eksekusi manajemen biaya dan operasional.

“Di tengah dinamika industri batu bara dan tantangan operasional sepanjang tahun 2026, PTBA berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid hingga kuartal III 2026. Pencapaian ini didukung oleh pemulihan produksi yang semakin baik pada kuartal III, optimalisasi bauran penjualan dengan memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara, serta pengelolaan biaya dan operasional yang disiplin,” kata Bambang dalam keterangan resminya pada Kamis (29/10/2026).

Dilihat dari indikator operasional, volume produksi batu bara PTBA hingga September 2026 tercatat berada di angka 34,41 juta ton. Kinerja produksi ini mengalami penurunan tipis sebesar 4,1% YoY dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 35,90 juta ton. Kinerja volume penjualan batu bara perseroan juga terkoreksi 4,4% YoY menjadi 32,23 juta ton dari sebelumnya sebesar 33,70 juta ton. Di saat yang sama, volume angkutan batu bara perseroan tercatat sebesar 27,08 juta ton atau mengalami penurunan sebesar 9,8% YoY.

Kendati terjadi penurunan dari sisi volume penjualan dan pengangkutan, PTBA tetap berhasil mencatatkan peningkatan pendapatan usaha yang memuaskan. Kondisi ini utamanya didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata (ASP) batu bara perseroan yang menguat hingga 18% secara tahunan. Penguatan ASP tersebut sejalan dengan pergerakan positif indeks harga batu bara acuan internasional, di mana indeks harga batu bara Newcastle tercatat melonjak 25% YoY dan indeks ICI-3 mengalami kenaikan sebesar 26% YoY.

Mengenai struktur dan bauran pasar, penjualan batu bara PTBA masih didominasi oleh pemenuhan kebutuhan pasar domestik. Pasar dalam negeri menyerap sebanyak 16,62 juta ton batu bara atau berkontribusi sekitar 51,5% dari total penjualan perseroan. Sementara itu, porsi penjualan ekspor mencakup 48,5% dari total volume penjualan atau setara dengan 15,61 juta ton. Penjualan ke pasar internasional tersebut menjangkau lima negara tujuan utama ekspor, yakni Bangladesh, Vietnam, India, Kamboja, dan Thailand.

Ditinjau dari aspek pengelolaan beban usaha, PTBA mencatatkan kenaikan tipis pada beban pokok pendapatan sebesar 0,6% YoY menjadi Rp 27,94 triliun. Tekanan terhadap beban operasional penambangan dan pengangkutan sempat terpengaruh oleh kenaikan harga bahan bakar yang melonjak sebesar 36% YoY. Kendati demikian, dampak dari peningkatkan biaya bahan bakar tersebut berhasil diredam oleh langkah efisiensi berupa penurunan rasio kelupas tanah atau stripping ratio dari 5,98 kali menjadi 5,59 kali, serta penurunan volume produksi dan angkutan.

Selain efisiensi biaya operasional penambangan, PTBA juga berhasil menekan biaya keuangan secara signifikan hingga 45% YoY menjadi Rp 136,52 miliar. Penurunan beban bunga keuangan ini merupakan dampak positif dari penyelesaian fasilitas kredit modal kerja yang dilakukan perseroan pada akhir tahun 2025. Di sisi lain, kinerja entitas asosiasi dan ventura bersama turut memperkuat profitabilitas perseroan dengan menyumbangkan bagian laba neto sebesar Rp 581,31 miliar, naik 75% YoY.

Penguatan kinerja keuangan ini secara langsung berdampak positif pada struktur neraca keuangan perseroan. Per 30 September 2026, total aset PTBA tercatat sebesar Rp 51,55 triliun, tumbuh 17,4% dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun 2025 yang sebesar Rp 43,92 triliun. Pertumbuhan aset ini seiring dengan kenaikan total liabilitas sebesar 14,1% menjadi Rp 24,31 triliun dan peningkatan total ekuitas sebesar 20,4% menjadi Rp 27,24 triliun.

Pos kas dan setara kas perseroan juga tercatat mengalami kenaikan sebesar 8,1% dibandingkan posisi akhir tahun 2025 menjadi Rp 4,89 triliun. Adapun total pinjaman bank tercatat meningkat 30,5% menjadi Rp 4,21 triliun, yang mana peningkatan ini mencakup pemanfaatan fasilitas pinjaman back-to-back yang dijamin dengan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE).

Dari sisi laporan arus kas, PTBA mencatatkan kenaikan kas bersih dari aktivitas operasi sebesar 5,7% menjadi Rp 4,44 triliun. Sementara itu, kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi meningkat menjadi Rp 3,50 triliun, terutama dipengaruhi oleh tindakan penempatan deposito berjangka terkait kewajiban DHE. Untuk kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan tercatat mengalami penurunan menjadi Rp 700 miliar, salah satunya disebabkan oleh pembayaran dividen yang nilainya lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.

Guna menjaga laju pertumbuhan bisnis di sepanjang tahun 2026, PTBA telah menetapkan target operasional yang komprehensif. Perseroan membidik target volume produksi batu bara sebesar 49,55 juta ton, target volume penjualan sebesar 49,51 juta ton, serta target volume angkutan sebesar 41 juta ton. Untuk merealisasikan target-target tersebut, perseroan menyiapkan alokasi belanja modal atau capital expenditure sebesar Rp 3,64 triliun dengan target stripping ratio yang dijaga pada angka 5,63 kali.

Corporate Secretary Division Head PT Bukit Asam Tbk, Eko Prayitno, mengemukakan bahwa perusahaan terus mendorong agenda diversifikasi usaha sebagai bagian dari strategi transformasi bisnis jangka panjang. Selain berfokus pada efisiensi operasional bisnis inti batu bara, PTBA secara konsisten mengembangkannya ke arah bisnis energi dan hilirisasi batu bara.

“Ke depan, PTBA akan terus memperkuat fundamental bisnis melalui peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi rantai pasok, serta percepatan penyelesaian proyek-proyek strategis. Sejalan dengan itu, Perseroan juga terus mendorong diversifikasi usaha melalui pengembangan bisnis energi dan hilirisasi batu bara sebagai bagian dari transformasi menuju perusahaan energi yang berkelanjutan,” ungkap Eko.

Pihak manajemen mengharapkan bahwa seluruh eksekusi strategi operasional, pengembangan rantai pasok, optimalisasi pasar ekspor dan domestik, serta percepatan infrastruktur logistik dapat meningkatkan daya saing perusahaan secara berkelanjutan, sekaligus memberikan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan.

Advertisements

Also Read

Tags