Rupiah berpotensi tembus Rp 19.000 per dolar AS, ini pemicunya

Hikma Lia

BANYU POS – JAKARTA. Lonjakan harga minyak dunia dan meningkatnya kebutuhan dolar AS menjadi sejumlah faktor yang membayangi pergerakan rupiah hingga penghujung 2026. Tekanan tersebut dinilai dapat membawa nilai tukar rupiah ke level Rp 19.000 per dolar AS, terutama jika harga energi tetap tinggi dan kondisi fiskal pemerintah semakin terbebani.

Advertisements

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 0,26% ke level Rp 18.137 per dolar AS pada Kamis (29/10/2026).

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) menguat 0,30% ke level Rp 18.128 per dolar AS, dari Rp 18.183 per dolar AS pada Rabu (28/10/2026).

Advertisements

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak membuat kenaikan harga komoditas tersebut berisiko memperbesar kebutuhan dolar AS. Apalagi, harga minyak dunia telah bergerak jauh di atas asumsi yang digunakan dalam APBN 2026.

“Berarti rupiah ini akan terus mengalami kelemahan. Saya mengindikasikan, dari harga minyak mentah yang terus di atas 100, kemudian Brent di atas 115, ada kemungkinan besar rupiah ini akan ke 19 ribu,” ujar Ibrahim dalam acara open house Traze Andalan Futures di Sinarmas Land Plaza Sudirman, Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Yield Obligasi Korporasi Berpotensi Mendekati 8% hingga Akhir Tahun 2026

Selain untuk membiayai impor energi, permintaan dolar AS berpotensi meningkat akibat pembayaran utang yang jatuh tempo hingga akhir tahun dan pembagian dividen oleh korporasi. Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia dapat menambah tekanan terhadap anggaran negara, terutama ketika pemerintah masih harus membiayai berbagai program prioritas.

Ibrahim bilang, kondisi tersebut terjadi di tengah persoalan defisit anggaran yang dihadapi pemerintah. Besarnya alokasi dana untuk sejumlah program turut menjadi perhatian ketika kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan beban fiskal.

“Pada saat kita lagi pusing tentang masalah defisit anggaran, harga minyak naik, dana dialihkan juga begitu besar ke MBG dan Koperasi Merah Putih. Nah, ini pun juga menjadi beban tersendiri bagi pemerintah,” tuturnya.

Dengan tekanan eksternal dan domestik yang masih membayangi, Ibrahim memperkirakan pelemahan rupiah berpotensi berlanjut hingga tahun depan. Ia pun mengingatkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar dapat berlanjut apabila rupiah menutup tahun ini pada level yang lebih lemah.

“Rupiah pun juga kemungkinan besar masih akan melemah. Kalau seandainya sampai akhir tahun di Rp 19.000, ya kemungkinan besar di tahun 2027 itu tidak akan jauh dari Rp 20.000,” tutupnya.

Advertisements

Also Read

Tags