BEI bakal depak saham HSC dari indeks, bagaimana nasib emiten?

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Perubahan metode penghitungan indeks yang akan diterapkan Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai pekan depan menjadi salah satu faktor yang membayangi pergerakan pasar saham domestik.

Advertisements

Investor mulai mengantisipasi dampak kebijakan tersebut, terutama terhadap saham-saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun mengakhiri perdagangan Jumat (30/10/2026) di zona merah. IHSG terkoreksi 0,80% atau 41,01 poin ke level 5.057,05 di tengah tingginya volatilitas pasar.

Advertisements

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan, pelemahan IHSG tidak terlepas dari penyesuaian posisi investor menjelang pemberlakuan metode baru penghitungan indeks oleh BEI.

Selain itu, tekanan terhadap indeks juga berasal dari derasnya aliran modal asing keluar (foreign outflow) serta berbagai sentimen makroekonomi dan geopolitik global. Kombinasi sentimen tersebut sempat membawa IHSG menyentuh level terendah harian di posisi 4.979,34.

Rupiah Diprediksi Bergerak Fluktuatif Pekan Depan, Simak Proyeksinya

Nafan menilai, kebijakan BEI yang mengeluarkan saham-saham berkategori HSC dari perhitungan indeks acuan akan membawa konsekuensi tersendiri bagi emiten yang masuk dalam kategori tersebut.

“Dalam jangka pendek, emiten yang terdaftar dalam kategori HSC berpotensi menghadapi tekanan aksi jual (rebalancing outflow) dari dana institusi dan Manajer Investasi penjelajah indeks (seperti produk ETF berbasis IHSG), serta penurunan likuiditas perdagangan harian karena hilangnya dorongan transaksi otomatis berbasis indeks,” ungkap Nafan kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).

Meski demikian, dampak kebijakan tersebut tidak hanya berkaitan dengan potensi tekanan jual dalam jangka pendek. Pembersihan saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari indeks juga dinilai dapat memperbaiki kualitas pasar modal Indonesia.

Menurut Nafan, perubahan metodologi tersebut berpotensi membuat pergerakan IHSG lebih mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya.

“Kebijakan BEI ini pada akhirnya diproyeksikan akan membuat IHSG ke depan bergerak lebih stabil, mencerminkan nilai pasar secara riil, serta memberikan porsi bobot yang lebih sehat bagi saham-saham berkapitalisasi besar dan berlikuiditas tinggi,” lanjut Nafan.

IHSG Terkoreksi 0,80% ke 5.057, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing di Akhir Pekan Ini

Di tengah volatilitas pasar dan dinamika penyesuaian portofolio investor sepanjang pekan ini, pergerakan saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan perbedaan yang cukup tajam.

PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) menjadi saham yang mencatatkan penguatan terbesar sehingga turut menopang pergerakan IHSG.

Sebaliknya, sejumlah saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 justru mengalami tekanan jual. Saham PT Indosat Tbk (ISAT), PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terkoreksi sekitar 6% hingga 15%.

Ke depan, prospek emiten yang masuk kategori HSC akan bergantung pada kemampuan masing-masing perusahaan dalam memenuhi ekspektasi pasar. Komitmen manajemen untuk meningkatkan porsi saham publik (free float) serta konsistensi mencatatkan laba bersih riil menjadi faktor penting untuk menjaga daya tarik saham di tengah perubahan kebijakan BEI.

Advertisements

Also Read

Tags