Volatilitas pasar dan BI rate jadi pertimbangan Ciputra Life kelola investasi

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Volatilitas pasar modal dan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang masih bertahan di level 5,75% menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri asuransi jiwa dalam mengelola portofolio investasi.

Advertisements

PT Asuransi Ciputra Indonesia (Ciputra Life) turut mencermati perkembangan kedua faktor tersebut.

Direktur Utama Ciputra Life Hengky Djojosantoso mengatakan, dampak kondisi pasar dan suku bunga terhadap investasi setiap perusahaan asuransi bisa berbeda, bergantung pada komposisi aset, strategi investasi, serta karakteristik liabilitas masing-masing perusahaan.

Advertisements

BI Rate Naik, Asuransi Umum Selektif Kelola Investasi

Menurut Hengky, suku bunga acuan yang relatif tinggi masih memberikan peluang bagi perusahaan untuk melakukan penempatan baru pada instrumen pendapatan tetap dengan imbal hasil yang lebih menarik.

Namun, perusahaan juga perlu memperhitungkan dampaknya terhadap valuasi obligasi yang telah dimiliki. “Namun, kami juga memperhatikan dampaknya terhadap valuasi obligasi yang telah dimiliki,” ungkapnya kepada Kontan, Minggu (1/11/2026).

Di sisi lain, volatilitas pasar saham berpotensi memengaruhi nilai investasi pada portofolio saham Ciputra Life. Meski demikian, perusahaan tetap melihat peluang yang bisa dimanfaatkan secara selektif di tengah ketidakpastian pasar.

Untuk itu, Ciputra Life terus mengevaluasi komposisi portofolio dengan mempertimbangkan potensi imbal hasil, kualitas aset, kebutuhan likuiditas, serta kesesuaian antara aset dan liabilitas.

Hengky mengatakan, perusahaan berfokus menjaga keseimbangan antara kinerja investasi dan pengelolaan risiko agar portofolio dapat memberikan kontribusi optimal terhadap kinerja perusahaan dalam jangka panjang.

DPLK Avrist Sebut Naiknya BI Rate Jadi 5,75% Dapat Pengaruhi Hasil Investasi

Dalam mengoptimalkan hasil investasi, Ciputra Life menerapkan strategi pengelolaan portofolio yang disiplin, selektif, dan berorientasi jangka panjang.

Salah satunya melalui diversifikasi ke sejumlah instrumen investasi, dengan tetap mengutamakan instrumen pendapatan tetap berkualitas.

Selain itu, perusahaan membuka peluang investasi pada instrumen lain, termasuk saham. Namun, penempatannya dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan fundamental, prospek bisnis, dan kewajaran valuasi.

Dalam menentukan alokasi investasi, Ciputra Life juga memperhitungkan risiko pasar dan risiko kredit, kebutuhan likuiditas, serta kesesuaian tenor dan arus kas aset dengan kewajiban perusahaan.

Dengan pendekatan tersebut, diversifikasi tidak hanya bertujuan memperluas pilihan instrumen investasi, tetapi juga membangun portofolio yang lebih seimbang dan sesuai dengan kebutuhan bisnis.

Ke depan, Ciputra Life akan terus mengevaluasi peluang investasi seiring perkembangan kondisi pasar.

Kenaikan BI Rate dan Yield SBN Jadi Strategi Tarik Kembali Modal Asing

Hengky menegaskan, perusahaan tidak semata-mata mengejar keuntungan jangka pendek, melainkan mengoptimalkan hasil investasi dengan risiko yang terukur.

Strategi tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan keuangan perusahaan sekaligus menjaga kemampuannya dalam memenuhi kewajiban kepada pemegang polis.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di situs resmi perusahaan, Ciputra Life membukukan hasil investasi sebesar Rp 53,04 miliar per September 2026. Nilai tersebut meningkat 31,42% secara tahunan (YoY).

Sementara itu, total investasi Ciputra Life mencapai Rp 1,27 triliun per September 2026. Surat Berharga Negara (SBN) menjadi instrumen dengan porsi terbesar, yakni Rp 670,78 miliar, disusul obligasi korporasi sebesar Rp 356,71 miliar.

Advertisements

Also Read

Tags