BANYU POS JAKARTA. Saham perbankan berkapitalisasi besar atau big banks menunjukkan pergerakan beragam pada perdagangan Senin (2/11/2026).
Di tengah tekanan yang membayangi sebagian saham perbankan, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berhasil mencatatkan penguatan, sedangkan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) bertahan di posisi sebelumnya.
Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) harus mengakhiri perdagangan di zona merah.
Berdasarkan data perdagangan, saham BBRI menguat 0,71% ke level Rp 2.820 per saham. Penguatan tersebut terjadi setelah saham bank pelat merah ini dibuka pada level Rp 2.800 per saham. Kendati demikian, secara mingguan saham BBRI masih terkoreksi 3,78%.
Adapun saham BBCA ditutup stagnan di level Rp 4.980 per saham. Sebelumnya, saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut sempat menguat hingga Rp 5.025 per saham pada awal perdagangan. Dalam sepekan terakhir, saham BBCA masih membukukan kenaikan sebesar 1,72%.
Laba Clipan Finance Tumbuh 13,26% Kuartal III 2026, Meski Pendapatan Turun 8,94%
Berbeda dengan kedua saham tersebut, BBNI terkoreksi 0,90% ke level Rp 3.290 per saham. Padahal, saham ini sempat dibuka menguat di level Rp 3.340 per saham. Secara mingguan, saham BBNI telah melemah 4,03%.
Tekanan juga dialami saham BMRI yang turun 0,54% ke level Rp 3.700 per saham dari posisi pembukaan Rp 3.720 per saham. Dalam periode satu pekan, saham BMRI mencatatkan koreksi sebesar 4,86%.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai, pergerakan saham big banks yang bervariasi menunjukkan investor masih cenderung mengambil sikap wait and see terhadap prospek industri perbankan domestik.
Menurutnya, dinamika tersebut dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Beberapa faktor yang menjadi perhatian investor antara lain pergerakan arus modal asing, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Di samping itu, investor mulai lebih selektif dalam menentukan pilihan saham perbankan dengan memperhatikan fundamental dan prospek pertumbuhan masing-masing emiten.
Perbedaan kualitas aset, pertumbuhan kredit, kemampuan mempertahankan net interest margin (NIM), serta efektivitas pengendalian biaya pencadangan menjadi sejumlah faktor yang turut memengaruhi pergerakan saham bank besar.
“Untuk prospek ke depan, saya melihat saham-saham big banks masih memiliki peluang pemulihan secara bertahap, terutama apabila stabilitas makroekonomi domestik semakin membaik dan tekanan arus keluar dana asing mulai mereda,” ujar Nafan kepada kontan.co.id, Senin (2/11/2026).
LDR Perbankan Kian Ketat, Bank Kecil & Menengah Adu Strategi Penuhi Target Kredit
Ia menambahkan, perbankan besar masih memiliki fundamental yang relatif kuat. Ketahanan tersebut didukung oleh permodalan yang solid, kualitas aset yang terjaga, serta kemampuan meningkatkan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income melalui pengembangan layanan digital.
Katalis Saham Big Banks Pekan Ini
Lebih lanjut, Nafan mengungkapkan terdapat sejumlah katalis yang perlu diperhatikan investor sepanjang pekan ini. Salah satunya adalah implementasi kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengecualikan saham-saham dengan kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai 2 November 2026.
Perkembangan arus dana asing juga menjadi faktor penting. Apabila tekanan jual investor asing mulai mereda dan terjadi akumulasi kembali pada saham perbankan berkapitalisasi besar, kondisi tersebut berpotensi menjadi sentimen positif bagi pemulihan harga saham.
Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah dan arah kebijakan moneter global masih perlu dicermati. Rupiah yang lebih stabil dapat memberikan ruang bagi BI untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan kredit.
Pergerakan suku bunga juga berpengaruh terhadap biaya dana perbankan serta kemampuan bank dalam mempertahankan dan meningkatkan NIM.
Dari sisi fundamental, perkembangan laporan keuangan kuartal III-2026 menjadi katalis berikutnya. Investor perlu mencermati sejumlah indikator, mulai dari pertumbuhan kredit, dana pihak ketiga (DPK), NIM, hingga rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).
Apabila realisasi kinerja keuangan mampu memenuhi atau melampaui ekspektasi pasar, hal tersebut berpotensi menjadi pendorong positif bagi saham-saham perbankan.
Tak kalah penting, investor juga perlu memperhatikan pembenahan transparansi dan tata kelola pasar modal, termasuk tindak lanjut regulator terhadap evaluasi MSCI.
Budi Gadai Indonesia Belum Naikkan Bunga Gadai
Menurut Nafan, kejelasan langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI dalam meningkatkan transparansi kepemilikan saham, memperbaiki porsi saham beredar di publik atau free float, serta memperkuat tata kelola pasar modal dapat membantu memulihkan kepercayaan investor asing.
Rekomendasi Saham BBCA, BBRI, dan BMRI
Di tengah pergerakan saham big banks yang masih bervariasi, Nafan tetap melihat peluang pada sejumlah saham perbankan besar.
Ia merekomendasikan akumulasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 6.775 per saham. Rekomendasi serupa juga diberikan untuk saham BMRI dengan target harga Rp 5.375 per saham.
Sementara itu, saham BBRI mendapatkan rekomendasi add dengan target harga Rp 3.360 per saham.




