BANYU POS JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar spot secara resmi menutup transaksi pada sesi sore hari ini dengan pergerakan melemah tipis. Berdasarkan data pergerakan pasar valuta asing pada perdagangan Selasa, 3 November 2026, nilai tukar rupiah spot ditutup terkoreksi sebesar 0,02 persen dan bertengger pada level Rp 18.160 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan sebesar 0,02 persen tersebut membuat posisi mata uang rupiah berada sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil penutupan perdagangan pada hari sebelumnya. Pada akhir sesi perdagangan hari sebelumnya, rupiah mencatatkan posisi pada level Rp 18.156 per dolar AS. Hal ini menandakan adanya pergeseran atau penurunan nilai mata uang rupiah sebesar 4 poin terhadap mata uang Amerika Serikat hingga batas akhir perdagangan hari ini.
Kondisi pasar valuta asing di kawasan Asia hingga pukul 15.00 WIB menunjukkan tren pergerakan mata uang yang bervariasi terhadap pergerakan dolar AS. Beberapa mata uang regional berhasil mempertahankan serta meningkatkan nilainya di zona hijau, sementara beberapa mata uang lainnya harus melangkah ke zona merah akibat tekanan dari mata uang the greenback.
Di kelompok mata uang kawasan Asia yang mengalami pelemahan pada perdagangan hari ini, dolar Taiwan tercatat menjadi mata uang dengan koreksi paling tajam pada sesi sore. Dolar Taiwan ditutup anjlok cukup dalam hingga menyentuh angka 0,67 persen terhadap dolar AS. Penurunan ini menjadikan dolar Taiwan sebagai mata uang dengan tingkat kinerja pelemahan terdalam di seluruh wilayah Asia sepanjang hari ini.
Tekanan di kawasan Asia Timur juga dialami oleh yuan China. Mata uang dari negara ekonomi terbesar di Asia ini harus rela ambles sebesar 0,39 persen terhadap pergerakan dolar AS. Tingkat penurunan yuan China ini menempatkannya sebagai mata uang dengan pelemahan terbesar kedua di pasar valuta asing kawasan Asia pada penutupan perdagangan hari ini.
Pergerakan negatif di pasar valuta asing regional turut memengaruhi jajaran mata uang di kawasan Asia Tenggara. Dolar Singapura mencatatkan penurunan performa dengan tertekan sebesar 0,11 persen terhadap dolar AS. Pelemahan tersebut berlanjut pada pergerakan ringgit Malaysia yang juga harus tergelincir sebesar 0,10 persen hingga sesi perdagangan berakhir.
Selain dolar Singapura dan ringgit Malaysia, baht Thailand juga berada di deretan mata uang Asia Tenggara yang mengalami penurunan. Baht Thailand tercatat turun tipis sebesar 0,03 persen terhadap the greenback pada hari ini. Penurunan nilai baht ini tergolong sangat terbatas, berada sedikit di atas persentase pelemahan rupiah yang terkoreksi 0,02 persen.
Di sisi lain, tidak semua mata uang kawasan Asia bernasib kurang menguntungkan pada perdagangan sesi ini. Won Korea Selatan justru berhasil memimpin jajaran mata uang yang menguat di wilayah Asia. Mata uang Korea Selatan ini sukses melesat naik sebesar 0,27 persen terhadap dolar AS, menjadikannya mata uang dengan tingkat penguatan paling tinggi di seluruh kawasan Asia pada sore hari ini.
Pergerakan positif won Korea Selatan disusul oleh performa peso Filipina yang juga menunjukkan daya tahan cukup kuat di pasar spot. Peso Filipina mengakhiri perdagangan sore ini dengan ditutup naik sebesar 0,22 persen terhadap dolar AS. Penguatan ini menempatkan peso Filipina di posisi kedua sebagai mata uang dengan kenaikan tertinggi di Asia.
Selanjutnya, mata uang Asia Selatan yakni rupee India juga berhasil mencatatkan penguatan di tengah pergerakan pasar regional yang bervariasi. Rupee India menguat dan terkerek sebesar 0,17 persen terhadap dolar AS. Pergerakan positif ini menambah daftar mata uang kawasan yang mampu menahan laju tekanan dolar AS pada hari perdagangan ini.
Mata uang utama Asia lainnya, yaitu yen Jepang, turut berada di zona hijau meskipun hanya mencatatkan kenaikan yang terbilang tipis. Yen Jepang ditutup menanjak sebesar 0,05 persen terhadap dolar AS. Kenaikan dengan persentase terbatas ini menunjukkan adanya dorongan penguatan positif yang tetap mampu diraih oleh mata uang Negeri Sakura tersebut.
Melengkapi jajaran mata uang yang mencatatkan kinerja positif, dolar Hong Kong juga mampu mengakhiri perdagangan di area penguatan. Dolar Hong Kong tercatat menguat tipis sebesar 0,02 persen terhadap dolar AS pada penutupan sesi perdagangan sore ini, menunjukkan pergerakan yang terbilang stabil namun tetap berakhir dalam zona hijau.
Jika diperhatikan secara menyeluruh dari deretan pergerakan mata uang Asia hingga pukul 15.00 WIB, peta kekuatan valuta asing di kawasan terbagi secara berimbang. Dari sepuluh mata uang utama Asia yang dipantau di luar rupiah, terdapat lima mata uang yang berhasil menguat dan lima mata uang lainnya yang mengalami penurunan nilai terhadap mata uang the greenback.
Di kelompok mata uang yang mengalami penguatan, won Korea Selatan berada di posisi puncak dengan apresiasi sebesar 0,27 persen, diikuti oleh peso Filipina yang menguat 0,22 persen, rupee India yang terangkat 0,17 persen, yen Jepang yang menanjak 0,05 persen, serta dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,02 persen.
Sementara itu, pada kelompok mata uang yang tertekan, penurunan terdalam dipimpin oleh dolar Taiwan yang anjlok 0,67 persen, yuan China yang menyusut 0,39 persen, dolar Singapura yang melemah 0,11 persen, ringgit Malaysia yang tergelincir 0,10 persen, serta baht Thailand yang turun 0,03 persen, dengan posisi nilai tukar rupiah tepat berada di dekat baht Thailand melalui pergerakan koreksi tipis 0,02 persen.
Khusus di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN, dinamika pergerakan mata uang menunjukkan variasi yang cukup menarik. Peso Filipina menjadi satu-satunya mata uang di Asia Tenggara dalam daftar ini yang berhasil membukukan kenaikan signifikan sebesar 0,22 persen. Di sisi lain, empat mata uang ASEAN lainnya yaitu dolar Singapura, ringgit Malaysia, baht Thailand, dan rupiah Indonesia harus mengakhiri perdagangan sore di zona merah.
Pelemahan terbesar di kawasan Asia Tenggara dialami oleh dolar Singapura dengan penurunan 0,11 persen, kemudian diikuti oleh ringgit Malaysia yang tergelincir 0,10 persen, baht Thailand yang terkoreksi 0,03 persen, dan rupiah Indonesia yang mengalami penurunan paling tipis di antara mata uang ASEAN yang melemah yaitu sebesar 0,02 persen.
Di tengah pergerakan pasar valuta asing dan nilai tukar mata uang ini, terdapat pula perkembangan dari sektor korporasi di mana PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) memberikan penjelasan serta buka suara terkait surat yang dikirimkan dari Singapura kepada First Resources.
Kembali pada transaksi nilai tukar di pasar spot, penutupan posisi rupiah di level Rp 18.160 per dolar AS pada perdagangan Selasa sore ini menegaskan pergerakan mata uang domestik yang relatif stabil walau terkoreksi tipis. Perubahan 4 poin dari posisi penutupan sebelumnya pada level Rp 18.156 per dolar AS mengindikasikan bahwa pergerakan rupiah bergerak dalam rentang terbatas terhadap mata uang Amerika Serikat.
Setiap pergerakan mata uang di kawasan Asia pada hari ini menggambarkan bagaimana respon masing-masing valuta asing terhadap kondisi perdagangan hingga batas waktu penutupan pasar spot pada pukul 15.00 WIB.




