BANYU POS – , JAKARTA — Influencer keuangan sekaligus investor muda Timothy Ronald tercatat masuk dalam jajaran pemegang saham PT Tempo Inti Media Tbk. (TMPO) dengan kepemilikan di atas 1%.
Berdasarkan daftar pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1% BEI per 30 Oktober 2026, Timothy menggenggam sebanyak 13.373.100 saham TMPO atau setara dengan 1,26% dari total saham beredar.
Kepemilikan tersebut menjadi posisi baru Timothy sepanjang Oktober 2026. Pada bulan sebelumnya, namanya belum tercatat dalam daftar pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%.
Jika mengacu pada harga saham TMPO sebesar Rp234 per lembar, nilai kepemilikan Timothy diperkirakan mencapai Rp3,12 miliar. Nilai tersebut merupakan estimasi berdasarkan harga pasar, bukan nilai transaksi pembelian saham yang sebenarnya.
Adapun pemegang saham TMPO dengan kepemilikan di atas 5% saat ini terdiri dari lima pihak. PT Jaya Raya Utama menjadi pemegang saham terbesar dengan porsi 28,42% atau setara dengan 300,81 juta saham.
Selanjutnya, Yayasan Tempo 21 Juni menggenggam 17,13% saham atau sebanyak 181,32 juta saham. PT Grafiti Pers memiliki 12,14% saham atau setara dengan 128,48 juta saham.
Sementara itu, Yayasan Pembangunan menguasai 8,54% saham atau sebanyak 90,43 juta saham. Adapun Yayasan Karyawan memiliki 8,28% saham atau setara dengan 87,63 juta saham.
Di lantai bursa, saham TMPO mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Selasa (3/11/2026). Pada penutupan perdagangan, saham TMPO melesat 34,48% atau naik 60 poin ke level Rp234 per saham.
Dalam sebulan perdagangan, saham TMPO terpantau menguat 34,48%. Sementara itu, sepanjang tahun berjalan 2026, saham emiten media tersebut telah naik 37,65%.
Profil Timothy Ronald
Nama Timothy Ronald dikenal luas di kalangan investor muda melalui aktivitasnya dalam edukasi keuangan dan investasi, khususnya pasar saham dan aset kripto.
Perjalanan bisnis Timothy dimulai sejak usia remaja. Sebelum dikenal sebagai influencer keuangan, dia lebih dahulu merintis usaha dengan menjual produk pomade atau minyak rambut impor yang dipasarkan melalui platform perdagangan elektronik.
Dalam wawancaranya bersama YouTuber Raditya Dika pada April 2021, Timothy mengungkapkan bahwa dirinya memulai bisnis tersebut dengan modal sekitar Rp2 juta. Dari usaha jual beli produk impor itu, dia mengaku mampu memperoleh penghasilan sekitar Rp10 juta hingga Rp12 juta per bulan.
Pengalaman berjualan tersebut kemudian membawanya mempelajari pemasaran digital dan copywriting. Timothy selanjutnya mendirikan agensi pemasaran yang menyasar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pada usia 19 tahun, bisnis agensi tersebut telah memiliki sekitar 7 hingga 11 klien dengan pendapatan yang diklaim mencapai Rp50 juta per bulan.
Namun, pandemi Covid-19 pada 2020 turut memengaruhi bisnisnya. Sejumlah klien mengalami kesulitan keuangan sehingga pembayaran jasa pemasaran ikut terhambat.
Di tengah kondisi tersebut, Timothy mulai aktif membuat konten mengenai keuangan dan investasi melalui media sosial, termasuk TikTok. Aktivitas tersebut kemudian menjadi salah satu pintu masuknya untuk membangun bisnis edukasi finansial.
Bersama Raymond Chin dan Felicia Putri Tjiasaka, Timothy mendirikan Ternak Uang pada 2020. Platform tersebut berfokus pada edukasi finansial dan investasi, dengan sasaran utama generasi muda serta investor pemula.
Dalam perkembangannya, Ternak Uang mengembangkan berbagai materi pembelajaran mengenai pasar modal, mulai dari pengenalan investasi, analisis saham, laporan keuangan, hingga pengelolaan portofolio.
Pada September 2021, Bisnis.com mencatat Ternak Uang telah memiliki lebih dari 351.000 pengguna. Saat itu, platform tersebut juga mengembangkan program kelas investasi dengan menghadirkan sejumlah praktisi pasar modal sebagai mentor.
Selain Ternak Uang, Timothy juga mengembangkan bisnis edukasi aset digital melalui Akademi Crypto yang didirikannya pada 2022. Platform tersebut berfokus pada pembelajaran mengenai teknologi blockchain dan investasi aset kripto.
Berdasarkan profil profesionalnya di LinkedIn, Timothy juga tercatat menjabat sebagai komisaris Holywings Group sejak 2024 serta menjadi salah satu pemilik FLOQ, platform perdagangan aset kripto, sejak 2025.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




