IHSG jeblok 3,78% ke level 4.904, trader disarankan ambil strategi wait and see

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot ke bawa level 5.000. Pada akhir perdagangan Selasa (3/11/2026), indeks anjlok 3,78% ke posisi 4.904,29. Pelemahan tersebut juga diikuti dengan outflow atau arus dana keluar asing sebesar Rp 575 miliar di keseluruhan pasar.

Advertisements

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan dalam kondisi pasar saat ini, trader disarankan untuk menerapkan strategi wait and see terlebih dahulu sambil menunggu pasar lebih stabil atau muncul sinyal kuat bahwa IHSG mulai transisi kembali uptrend. 

“Trader sebaiknya lebih selektif dalam mengambil posisi dan mengutamakan pengelolaan risiko,” kata Sukarno kepada Kontan, Selasa (3/11/2026).

Advertisements

Namun, untuk saham-saham dengan fundamental kuat, tetap menarik bagi investor dengan tujuan investasi jangka panjang. Terlebih, harga saham saat ini sudah mengalami koreksi cukup dalam sehingga menawarkan valuasi yang relatif lebih menarik. 

“Selain potensi kenaikan harga dalam jangka panjang, investor juga berpeluang memperoleh dividend yield yang tinggi, bahkan berpotensi di atas 10%, bergantung pada harga beli dan besaran dividen yang dibagikan,” kata Sukarno kepada Kontan, Selasa (3/11/2026).

Di sisi lain, saham-saham fundamental kuat seperti BBCA dan BBRI memang dapat menjadi sasaran aksi jual asing karena sebelumnya memiliki porsi kepemilikan asing yang cukup besar. 

IHSG Anjlok 3,78% ke Bawah 5.000, Analis Ungkap Level Kritis Berikutnya

“Ketika terjadi perubahan sentimen atau investor asing melakukan penyesuaian portofolio, saham-saham tersebut turut mengalami tekanan jual. Namun, hal ini tidak serta-merta menghilangkan kualitas fundamental perusahaan,” ucap Sukarno.

Adapun untuk saat ini, saham-saham konglomerasi cenderung kurang menarik. Meskipun beberapa di antaranya memiliki fundamental yang baik dan valuasi yang relatif murah, tekanan jual di pasar masih cukup besar. 

Oleh karena itu, trader perlu lebih selektif dan sebaiknya menunggu momentum serta konfirmasi pergerakan harga yang lebih jelas sebelum mengambil posisi.

Asing Catat Net Buy

Di tengah kondisi pasar yang lesu saat ini, sejumlah saham seperti ASII, BRIS, GOTO, PGAS, TOWR, ACES, KLBF, INTP dan SMGR justru mencatat net buy asing dalam periode 2-3 November 2026. Total net buy untuk saham-saham tersebut mencapai Rp 165 miliar.

IHSG Anjlok 3,78% ke 4.904 pada Selasa (3/11/2026), ANTM, EMTK, HRTA Top Losers LQ45

Sukarno berpendapat data net buy asing menjadi salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan dalam kondisi pasar saat ini. 

Ketika investor asing mulai melakukan pembelian bersih pada saham-saham tertentu di tengah tekanan IHSG, hal tersebut dapat mengindikasikan adanya minat beli dan menjadi sinyal positif terhadap saham tersebut. 

Namun, net buy asing tetap perlu dikombinasikan dengan analisis teknikal, volume transaksi, dan kondisi pasar secara keseluruhan. 

“Net buy asing dalam jangka pendek belum tentu menunjukkan tren akumulasi yang berkelanjutan, sehingga trader tetap perlu memperhatikan risiko apabila tekanan jual kembali meningkat,” tutup Sukarno.

IHSG Ambruk 2,62% ke 4.963 Sesi I, Top Losers LQ45: DEWA, BRPT, WIFI, Selasa (3/11)

Advertisements

Also Read

Tags