Nasdaq 100 terancam kehilangan US$ 1,8 triliun, saham AI berguguran

Hikma Lia

BANYU POS  Indeks Nasdaq 100 menghadapi potensi penghapusan nilai kapitalisasi pasar hingga US$ 1,8 triliun pada perdagangan Kamis (5/11/2026).

Advertisements

Aksi jual saham teknologi dipicu kekhawatiran investor bahwa kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat (AS) dapat memperlambat ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Saham perusahaan semikonduktor dan penyedia layanan komputasi awan khusus AI atau neocloud mengalami tekanan tajam untuk hari kedua berturut-turut.

Advertisements

Bahtera Bumi Raya Dirikan Anak Usaha Baru, Bidik Bisnis Energi&Penyewaan Alat Tambang

Investor mengkhawatirkan pembangunan pusat data bernilai miliaran dolar AS berpotensi tertunda akibat meningkatnya pengawasan terhadap industri tersebut.

Saham CoreWeave, yang menjadi salah satu indikator sentimen investor terhadap besarnya belanja infrastruktur AI, anjlok 11,4%.

Di pasar kredit, credit default swap (CDS) lima tahun perusahaan tersebut juga melebar ke level tertinggi sepanjang sejarah, berdasarkan data S&P Global Market Intelligence.

Tekanan serupa dialami Nebius yang sahamnya merosot 15,2%.

Sektor semikonduktor juga mengalami aksi jual besar. Philadelphia Semiconductor Index terkoreksi 10,2% dan menyentuh level terendah dalam lebih dari enam bulan. Penurunan tersebut dipicu pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk Nvidia dan Broadcom.

Tekanan tersebut membuat indeks Nasdaq Composite berada di jalur untuk mengonfirmasi koreksi pasar atau penurunan sebesar 10% dari level puncak terbarunya.

ULTJ Rights Issue Senilai Rp 16,94 Triliun, Analis Sebut Aksi Ini Jadi Game Changer

Kekhawatiran investor muncul setelah kemenangan Demokrat membuka peluang pengawasan lebih ketat terhadap industri pusat data melalui Kongres AS.

Kondisi tersebut berpotensi memperlambat pengembangan fasilitas baru, terutama ketika penolakan masyarakat terhadap pembangunan pusat data juga semakin meningkat.

Analis UBS memperkirakan sekitar 30% dari tambahan kapasitas pusat data yang direncanakan di AS pada 2028 berpotensi terdampak oleh kemungkinan penghentian sementara pembangunan.

Ketidakpastian politik tersebut menambah tekanan terhadap saham-saham terkait AI. Investor mulai mempertanyakan apakah besarnya belanja modal yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur AI akan menghasilkan tingkat pengembalian investasi yang sepadan.

“Pasar sedang beralih dari janji AI menuju biaya AI,” kata Ted Parkhill, pendiri sekaligus CEO Incline Investment Management.

Menurut dia, AI tetap berpotensi mengubah berbagai sektor dalam jangka panjang. Namun, prospek pertumbuhan teknologi tersebut tidak serta-merta menjamin seluruh saham perusahaan terkait AI memiliki valuasi yang sesuai.

Wall Street: Nasdaq Turun di Awal Perdagangan Kamis (5/11), Saham Chip & AI Tertekan

Saham Infrastruktur AI dan Pemasok Energi Ikut Tertekan

Tekanan jual juga meluas ke perusahaan pengelola pusat data. Saham Applied Digital, Cipher Digital, dan IREN masing-masing merosot lebih dari 18%.

Pelemahan turut menjalar ke perusahaan utilitas dan pemasok peralatan yang terpapar ekspansi infrastruktur pusat data. Saham GE Vernova turun 8%, sedangkan Constellation Energy terkoreksi 5%.

Perusahaan teknologi besar atau hyperscalers yang sebelumnya relatif mampu bertahan dari aksi jual pada Rabu juga ikut melemah. Investor sebelumnya memperkirakan perlambatan pembangunan pusat data dapat membatasi belanja AI perusahaan teknologi besar.

Namun, pada perdagangan Kamis, saham Amazon.com turun 3,9% dan Alphabet melemah 2,7%.

Di luar tekanan terhadap sektor AI, saham Qualcomm juga anjlok 12,8%. Penurunan tersebut terjadi setelah penjualan chip untuk perangkat smartphone pada kuartal terakhir tidak memenuhi ekspektasi analis Wall Street.

Harga Minyak Melandai Pasca Pemilu AS, Simak Prospek Harga Selanjutnya

Advertisements

Also Read

Tags