Harga minyak dunia melonjak US$3, ketegangan perang Iran kembali memanas

Hikma Lia

BANYU POS   NEW YORK. Harga minyak dunia kembali melonjak lebih dari US$ 3 per barel pada Kamis (5/11), setelah investor mencermati perkembangan perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.

Advertisements

Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak turut meningkat menyusul serangkaian serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk.

Mengutip Reuters, kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman mendatang naik US$ 3,42 atau 3,61% menjadi US$ 98,04 per barel pada pukul 13.42 waktu setempat.

Advertisements

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 2,33 atau 2,64% ke US$ 90,45 per barel.

Harga Minyak Dunia Naik, Ketidakpastian Konflik AS-Iran Kembali Angkat Sentimen Pasar

Penguatan ini terjadi setelah kedua acuan minyak tersebut anjlok lebih dari 8% pada perdagangan Rabu (4/11), sekaligus menyentuh level penyelesaian terendah sejak 31 Agustus.

Analis komoditas UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan ketidakpastian konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang menopang harga minyak. “Situasi di Timur Tengah masih belum terselesaikan, sehingga harga minyak mengalami pemulihan,” ujarnya.

Kekhawatiran pasar juga dipicu meningkatnya insiden serangan terhadap kapal tanker. Badan keamanan maritim Inggris, UK Maritime Trade Operations (UKMTO), mencatat sedikitnya lima kapal melaporkan insiden sejak Minggu.

Intensitas serangan tersebut mendekati rekor pada Oktober lalu, ketika UKMTO mencatat 35 kapal mengalami insiden, jumlah tertinggi selama perang berlangsung.

Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menilai laporan kapal tanker yang terkena ranjau maupun menjadi sasaran drone terus membayangi pasar minyak. Sikap Iran yang belum berubah terkait negosiasi dengan AS juga menambah ketidakpastian.

Ketegangan AS-Iran Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Tembus US$108 per Barel

Meski demikian, peluang serangan militer baru AS terhadap Iran mulai diperkirakan sedikit menurun. Eurasia Group memangkas proyeksi kemungkinan serangan kembali dari 65% menjadi 60%.

Namun, peluang tercapainya kesepakatan damai juga diturunkan dari 20% menjadi 10%. Sebaliknya, kemungkinan kedua pihak terjebak dalam kebuntuan berkepanjangan meningkat dari 15% menjadi 30%.

Eurasia Group memperingatkan, eskalasi konflik berpotensi mendorong harga minyak Brent ke kisaran US$ 110-US$ 125 per barel, meskipun harga belakangan mengalami penurunan.

Ketegangan juga meluas ke sejumlah wilayah produsen dan jalur distribusi minyak. Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, pada Kamis mengeluarkan peringatan potensi bahaya di Yanbu, salah satu pusat ekspor minyaknya di Laut Merah.

Peringatan tersebut muncul di tengah berlanjutnya serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran.

Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih 1% usai Iran Tolak Kirim Uranium ke Luar Negeri

Sementara itu, Garda Revolusi Iran menyatakan dua kapal tanker minyak dan satu kapal tunda terbakar dalam insiden terpisah setelah mencoba melintasi Selat Hormuz melalui jalur yang tidak diizinkan.

Gangguan pasokan juga membayangi Rusia setelah Ukraina kembali menyerang kilang minyak negara tersebut. Kilang Ryazan, salah satu kilang terbesar Rusia, diduga menjadi sasaran serangan drone pada Kamis dini hari.

Jika terkonfirmasi, serangan tersebut menjadi serangan kedua terhadap kilang minyak Rusia dalam pekan ini, setelah fasilitas Yaroslavl diserang pada Senin malam.

Rangkaian insiden tersebut membuat risiko gangguan pasokan dan distribusi minyak kembali menjadi perhatian investor, meskipun peluang eskalasi militer AS terhadap Iran mulai sedikit menurun.

Advertisements

Also Read

Tags