BANYU POS JAKARTA – Pasar saham Indonesia menunjukkan performa yang kontras antara laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan kinerja fundamental sebagian besar emiten. Meskipun mayoritas emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan kinerja keuangan per September 2025 sesuai ekspektasi analis, namun secara agregat, laba korporasi justru mencatat penurunan sekitar 4,2% secara tahunan (YoY) hingga akhir Oktober lalu.
Di tengah tekanan laba emiten, IHSG justru menunjukkan taringnya. Pada Jumat (7/11/2025), IHSG ditutup menguat 0,69%, menandai reli tiga hari beruntun dan kembali mencetak rekor baru (all time high/ATH). Bahkan, jika dihitung sejak Senin (3/11/2025), IHSG tercatat empat kali menembus rekor dalam sepekan terakhir. Secara kumulatif, IHSG melesat 2,83% sepanjang minggu lalu, menjadikannya salah satu pekan terbaik pasar saham sepanjang 2025. Optimisme ini turut didorong oleh aksi beli bersih (net buy) investor asing senilai Rp3,46 triliun.
Kendati demikian, analis memperingatkan adanya potensi koreksi akibat aksi ambil untung. Angga Septianus, Community and Retail Equity Analyst Lead Indo Premier Sekuritas, menyoroti pentingnya realisasi kinerja ekonomi pada kuartal IV/2025 sebagai penentu arah penguatan lanjutan. “Yang menjadi perhatian adalah PDB pada kuartal keempat nanti setelah semua stimulus yang diberikan ke masyarakat untuk mendongkrak daya beli menunjukkan efeknya. Optimisme Menteri Keuangan Purbaya terhadap PDB kuartal keempat dengan likuiditas melimpah menjadi sentimen positif,” ujarnya, dikutip Senin (10/11/2025).
: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Senin, 10 November 2025
Kenaikan IHSG sepanjang 2025 menyisakan pertanyaan besar bagi para pelaku pasar. Data menunjukkan bahwa dari 910 saham yang diperdagangkan, hanya tiga saham yang menjadi penopang utama indeks. Per Oktober 2025, IHSG melonjak 15,31% ke level 8.163,87. Namun, indeks unggulan seperti LQ45 dan IDX30 hanya mampu naik masing-masing 0,59% dan 3,18%, mengindikasikan bahwa reli IHSG terkonsentrasi pada segelintir saham.
Lonjakan IHSG ini ternyata didorong oleh kontribusi luar biasa dari tiga saham raksasa yang terafiliasi dengan konglomerat terkemuka. Ketiga saham tersebut adalah PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang terkait dengan Anthoni Salim dan Toto Sugiri, memberikan kontribusi 264,52 poin; PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) milik Grup Sinar Mas menyumbang 187,37 poin; dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) milik Prajogo Pangestu berkontribusi 158,63 poin. Total kontribusi ketiganya mencapai 610,52 poin. Tanpa dorongan signifikan dari tiga saham ini, IHSG diperkirakan masih akan berada di kisaran 7.550-an.
: : Merdeka Copper (MDKA) Beberkan Faktor Lesatan Harga Saham MBMA
Dinamika pasar yang terkonsentrasi ini menyebabkan sejumlah saham berkapitalisasi besar dengan fundamental yang kuat justru mengalami tekanan harga. Kondisi ini, menurut analis, membuka peluang emas untuk mengoleksi saham-saham undervalue menjelang penutupan tahun 2025. CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo, melihat momentum akhir tahun sebagai saat yang tepat untuk menambah portofolio saham bernilai murah, khususnya bagi emiten yang telah membukukan kinerja meningkat namun belum sepenuhnya diapresiasi oleh pasar.
Salah satu sektor yang direkomendasikan adalah perbankan. Setelah sempat tertekan oleh berbagai sentimen negatif di beberapa kuartal, sektor ini kini kembali menjadi pendorong indeks. “Saham perbankan saat ini sangat layak dikoleksi karena menyimpan potensi perbaikan kinerja di era suku bunga rendah. Terutama bank dengan valuasi menarik, punya ekspektasi perbaikan NIM, juga membidik target profitabilitas dan pertumbuhan kredit signifikan,” ujarnya akhir pekan lalu (6/11/2025).
Sektor konsumer juga patut dicermati mengingat kinerja solidnya pada kuartal III/2025. Baik konsumer siklikal maupun nonsiklikal, mayoritas emiten di sektor ini dinilai belum sepenuhnya mendapatkan apresiasi pasar. Contohnya, subsektor makanan olahan seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang masing-masing mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba operasional 3,92% dan 3,98% secara tahunan. Emiten ritel seperti PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) juga menarik perhatian karena agenda ekspansi toko yang berpotensi meningkatkan same store sales growth (SSSG) dan margin profitabilitas mereka.

Sementara itu, subsektor industri ikan, daging, dan unggas seperti PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dinilai masih belum sepenuhnya tercermin dalam harganya (priced-in) terhadap kinerja positifnya. Sektor farmasi, dengan emiten seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), juga belum memperoleh apresiasi penuh, meskipun secara umum emiten farmasi mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba operasional masing-masing 8,53% dan 5,02% secara tahunan.
“Investor bisa memanfaatkan momentum akhir tahun ini untuk kembali mengoleksi beberapa saham dengan fundamental bagus yang belum sepenuhnya diapresiasi oleh pasar. Peka terhadap saham-saham yang belum priced-in, itu bagus buat strategi rebalancing portofolio,” ujar Praska.
: : Menakar Kinerja Laba Punggawa Baru MSCI Small Caps Index November 2025, ENRG Hingga DSNG Cs.
Maximilianus Nico Demus, Associate Director Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, menambahkan bahwa rebalancing portofolio merupakan strategi yang hampir tidak terhindarkan pada akhir tahun 2025, terutama ketika saham yang dipegang sudah overpriced dan menyentuh target jual. “Ini kesempatan menentukan pilihan, menunggu atau menahan, semua kembali kepada tujuan dan jangka waktu investor masing-masing,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa sejumlah sektor kini mendapatkan sentimen positif jangka pendek dan menengah. Namun, ada pula sektor yang meski belum terdorong oleh kondisi terkini, tetap layak disimpan untuk jangka panjang karena memiliki potensi valuasi lebih tinggi di masa depan. Investor juga perlu mencermati dinamika global dan domestik, termasuk kebijakan pemerintah yang dapat berdampak pada kinerja sektor tertentu.
“Contohnya perbankan sempat mengalami tekanan karena sentimen negatif berbagai macam program andalan pemerintah. Namun, waktu itu kami sudah perkirakan, tekanan hanya terjadi di jangka pendek, tapi secara jangka menengah dan panjang itu bagus, apalagi ketika kinerja penyaluran kredit benar-benar bisa tumbuh,” katanya.
Secara umum, perekonomian pada kuartal IV/2025 dinilai cenderung stabil. Stabilitas ini didukung oleh meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan China, dimulainya era suku bunga rendah, serta terjaganya daya beli masyarakat. Selain sektor perbankan, Nico menyarankan investor untuk menaruh perhatian pada sektor logam dan mineral, konsumer nonsiklikal, ritel, serta sejumlah emiten berbasis komoditas. “Misalnya, untuk perkebunan dan logam tetap harus perhatikan korelasi harga-harga komoditasnya,” ujarnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




