
BANYU POS JAKARTA. Di tengah gejolak dan fluktuasi yang mewarnai pasar modal Tanah Air, saham-saham dengan valuasi menarik dan likuiditas besar yang terhimpun dalam indeks IDX Value30 justru tampil menonjol dan menjadi primadona bagi para investor. Fenomena ini mengisyaratkan adanya pergeseran minat pasar menuju aset yang lebih stabil dan berfundamental kuat.
Keunggulan performa indeks IDX Value30 sangat kentara jika dibandingkan dengan kinerja pasar secara keseluruhan. Hingga Kamis (29/2), indeks yang berisikan saham-saham berfundamental solid ini berhasil menguat 3,26% sepanjang tahun 2024 berjalan. Angka ini kontras dengan kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih terpuruk di zona merah, dengan penurunan 4,31% dalam periode yang sama. Bahkan, kinerja IDX Value30 mampu melampaui indeks unggulan lain di Bursa Efek Indonesia, LQ45, yang melemah 1,45% secara year to date.
Fundamental Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyoroti bahwa tren positif ini mencerminkan kembalinya kepercayaan investor terhadap saham-saham yang menawarkan valuasi relatif murah namun didukung oleh fundamental yang kokoh. Menurutnya, saham-saham berorientasi nilai cenderung lebih defensif. “Saham value lebih defensif karena valuasinya sudah berada di level yang menarik, sehingga risiko penurunan harganya relatif lebih terbatas dibandingkan saham dengan valuasi premium,” jelas Abida pada Kamis.
Senada dengan pandangan tersebut, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisory, Ekky Topan, menambahkan bahwa saham-saham berbasis valuasi umumnya menunjukkan ketahanan yang lebih baik dibandingkan saham lapis kedua (second liner) yang sebelumnya telah mengalami kenaikan signifikan. “Situasi pasar yang volatil biasanya mendorong terjadinya rotasi investor untuk mencari emiten atau sektor dengan valuasi yang lebih rasional dan didukung fundamental yang kuat,” ucapnya.
Ekky juga menegaskan bahwa konstituen indeks IDX Value30 tetap sangat relevan untuk dicermati oleh investor. Hal ini karena indeks tersebut didominasi oleh emiten berlikuiditas tinggi dengan valuasi yang menarik, menjadikannya lebih tangguh saat volatilitas pasar meningkat. Namun, ia menyarankan agar pendekatan investasi difokuskan pada emiten yang tidak hanya memiliki valuasi murah, tetapi juga katalis pertumbuhan yang jelas serta berada di sektor yang diuntungkan oleh dinamika makroekonomi saat ini.
Dalam konteks pilihan investasi, Ekky Topan menilai saham AADI masih sangat menarik, terutama seiring dengan penguatan harga batubara yang berpotensi menopang kinerja dan distribusi dividennya. Valuasi AADI juga tergolong atraktif. Di sisi lain, untuk eksposur yang lebih defensif, saham BBTN bisa menjadi alternatif yang menjanjikan, mengingat kinerja solidnya pada tahun 2023 dan momentum harga yang masih terjaga, dengan potensi penguatan menuju kisaran Rp 1.500.
Melengkapi perspektif investasi, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyarankan investor untuk turut mempertimbangkan saham-saham yang sektornya selaras dengan program kerja pemerintah. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan analisis teknikal sebelum melakukan pembelian, guna mendapatkan harga terbaik serta menentukan durasi investasi yang optimal.
Dari deretan konstituen indeks IDX Value30, Nico Demus merekomendasikan pilihan saham seperti AADI, ADRO, ASII, AUTO, BBNI, BNGA, BSDE, CTRA, INDF, SMRA, dan UNTR. Sementara itu, Abida Massi Armand memiliki daftar pilihannya sendiri yang meliputi MBMA, MEDC, BMRI, ASII, dan JPFA.
Baca Juga: Nusantara Almazia (NZIA) Jawab BEI soal Lonjakan Harga Saham
Baca Juga: Volatilitas Meningkat, Prospek Bitcoin Jangka Pendek Masih Konsolidatif




